Cara Mengoreksi Typo pada Tulisan Secara Manual

Cara Mengoreksi Typo pada Tulisan Secara Manual

Cara mengerokesi typo pada tulisan secara manual – Membuat sebuah tulisan itu tidak gampang. Kita mesti merangkai idenya. Kita harus jeli menggunakan diksi yang tepat. Kita juga perlu menyambungkan antara satu kalimat dengan kalimat yang lain sehingga enak untuk dibaca. Oleh karena itu, membaca buku atau tulisan di platform digital, bukan semata-mata menambah input pengetahuan bagi otak kita, tapi juga apresiasi bagi si penulisnya: penghargaan dan kebanggaan.

Tapi ada yang menjengkelkan dari menulis. Itu adalah mencari typo. Dari ribuan atau bahkan hanya ratusan kata yang kita tulis, hampir selalu ada typo. Ini terjadi bahkan bukan hanya kepada penulis amatiran, penulis hebat pun sering typo. Pernah suatu waktu saya membaca buku yang cukup terkenal, tapi banyak typo. Ini salah penulis atau editor?

Maka dari itu, mencari typo adalah seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Sulit sekaligus menantang. Saya punya beberapa cara untuk menemukan typo dalam sebuah tulisan. Ini berangkat dari pengalaman pribadi, juga kegiatan sehari-hari ketika menulis.

Mengoreksi Typo pada Tulisan

Coba Anda baca kalimat berikut ini:

“Saya sedang menton televisi.”

Kurang enak untuk dibaca bukan? Itu baru typo, belum lagi tentang tanda baca, struktur kalimat dll. Ya pokoknya ribet. Sekadar saran, mending jangan jadi penulis. Jadi pembaca yang budiman saja itu sudah cukup. Tapi kalau merasa tertantang, boleh dicoba.

mengedit typo tulisan
Ilustrasi menulis (Freepik)

Typo juga bisa membuat salah tafsir. Apalagi typo menulis nama orang, gelarnya, atau jabatannya yang itu akan dibaca oleh publik. Biasanya ini yang sering dialami kawan-kawan wartawan. Makanya, mereka harus memastikan apa yang ditulis tidak ada typo sambil kejar-kejaran dengan “deadline”.

Nah, inilah caranya agar tulisan Anda tidak lagi ada typo.

1. Baca, baca, dan baca

Jika Anda berpikiran ini tidak terlalu solutif. Benar sekali. Nomor satu memang bukan trik dan tips. Ini tentang mental seorang penulis yang merangkap sebagai editor. Jangan bermimpi tulisan kita tanpa typo jika setelah ditulis tidak dibaca lagi.

Setiap menulis, saya selalu membaca lagi, membaca lagi tulisan saya. Bahkan setelah tulisan diunggah pun tetap dibaca kembali sampai benar-benar aman dari typo.

Ya, meskipun ini bukan tips dan trik tapi sangat efektif. Mencari typo ya baca, baca lagi, baca sekali lagi.

2. Perbesar Huruf (Font)

Era sekarang sudah semakin canggih. Komputer bisa dengan mudah memperbesar huruf juga layar. Memperbesar huruf ini berhubungan dengan kemampuan mata dalam memeriksa kata. Semakin besar pasti semakin jelas. Cahaya layar komputer juga perlu diturunkan agar tidak terlalu silau karena membuat mata menjadi lelah, sehingga sulit fokus dalam waktu yang lama.

Pilih juga font yang mudah dilihat, saya sering memakai Calibri atau Arial. Times New Roman, Garamound, Georgia kurang nyaman untuk mencari typo.

3. Fokus Mengedit Paragraf per Paragraf

Setelah huruf diperbesar, coba baca tulisan kalian paragraf per paragraf. Perhatikan secara seksama kata-kata yang mungkin berpotensi typo. Baca dalam hati, lafalkan, kalau perlu dieja untuk benar-benar memastikan kata tulisan kita sudah bebas dari typo.

4. Perlu Editor

Pernah tidak kalian bertanya kepada diri kalian sendiri, mengapa berita atau buku perlu sosok editor? Ternyata jawaban yang saya temukan, ini bukan soal tulisan perlu diedit, tapi ini berbicara tentang kejelian. Editor (sebagai pihak kedua), terkadang punya sudut pandang lain mengenai tulisan atau bahasa yang digunakan. Dia nanti akan berdiskusi sekaligus mengonfirmasi maksud tulisan yang kita buat.

Karena editor bertugas mengedit, maka sejatinya dia juga memosisikan dirinya sebagai pembaca. Tentu saja dia akan tahu, tulisan dari penulis enak dibaca atau tidak sebelum terbit. Itu substansi peran editor, peran lainnya adalah dia juga mengoreksi typo.

Tentu kalian sering mendengar sentilan, “Terkadang orang itu pandai mencari-cari kesalahan orang lain”. Hukum itu berlaku juga dengan editor. Dia juga pandai mencari kesalahan dalam penulisan.

5. Print dengan Kertas

Bagaimana kalau saya merangkap tugas, ya penulis ya editor juga. Itu lebih baik. Anggarannya jadi lebih hemat. Jika begitu, kalian bisa mencetak (print) tulisan yang sudah dibuat dalam kertas. Dicetak ini berhubungan dengan psikologis mata. Ada perbedaan ketika mata membaca di layar dengan di kertas: lebih teduh, nyaman, tidak mudah lelah.

mengedit typo tulisan
Ilustrasi mengoreksi tulisan (Freepik)

Silakan saja bandingkan antara membaca e-book dengan buku. Jika perbandingannya sama saja, berarti Anda memiliki mata super. Kalau saya, membaca buku lebih mudah diimajinasikan ceritanya dibandingkan membaca di layar komputer atau gawai.

6. Istirahat

Ini yang tidak kalah penting, istirahat. Setelah melakukan lima hal di atas, mata butuh istirahat. Terlalu lama melihat layar komputer bisa terpapar radiasi, terlalu lama membaca di kertas juga akan melelahkan. Makanya, istirahat. Nanti lanjut lagi.

Sekian, semoga bermanfaat.

 

Baca juga: Perbedaan news dan views dalam berita

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *