Belajar Kata Depan dari Sule

Belajar Kata Depan dari Sule

Belajar memahami penggunaan kata depan dari postingan Instagram Sule.

Ada yang pernah bilang bahwa salah satu profesi yang selalu merawat bahasa adalah wartawan. Jelas, karena pekerjaan mereka sehari-hari adalah menulis. Tetapi, bukankah kita juga setiap hari menulis? Misalnya, membalas pesan singkat di WhatsApp, atau mengunggah foto di media sosial yang disertai keterangan foto (caption)?

Betul, memang setiap hari kita menulis. Akan tetapi, menulis bebas. Jarang sekali memerhatikan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagaimana diajarkan guru kita sewaktu belajar di sekolah dasar. Lantas, bagaimana caranya agar bahasa Indonesia selalu terawat oleh setiap generasi? Jawabannya kita harus memaksakan diri menulis apa pun sesuai  kaidah bahasa yang baik dan benar. Misalnya, saat membalas pesan, meskipun percakapannya dengan teman sebaya, cobalah untuk menggunakan kalimat sesuai EYD. Tujuannya untuk membiasakan diri.

Lalu bagaimana jika kita sudah berusaha menulis sesuai kaidah tetapi masih saja kurang tepat? Untuk itu mari kita sama-sama belajar dan saling mengoreksi. Seperti pada postingan artis Entis Sutisna atau Sule ini yang dia unggah di Instagram-nya pada 6 Juni 2020 lalu.

belajar kata depan dari Sule
Postingan Sule pada akun Instagram-nya.

Belajar Kata Depan dari Sule

Pada postingannya, Sule memuat keterangan gambar “HIDUP ITU BUKAN UNTUK DI PIKIRKAN TAPI DI JALANKAN”. Kira-kira, apa yang keliru dari caption-nya tersebut? Mari kita bedah bersama-sama dalam tulisan Cek KBBI ini.

1. Penggunaan Kata Tapi

Dalam keterangan foto tersebut, Sule menulis “tapi”. Jika mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “tapi” adalah bentuk tidak baku dari “tetapi”. Jadi dalam hal ini, Sule kurang tepat menggunakan “tapi”, seharusnya ia menuliskan “tetapi” sebagai kata baku.

2. Kata Depan “di”

Penggunaan kata depan “di” memang seringkali masih banyak yang keliru penggunaannya. Sebagian orang masih bingung apakah “di” itu disatukan atau dipisahkan dengan kata yang mengikutinya. Jika kita melihat aturan dari Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), kata depan, seperti di, ke, dan dari, harus ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Misalnya:

Di mana dia sekarang?

Kain itu disimpan di dalam lemari.

Dia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.

Mari kita berangkat ke kantor.

Saya pergi ke sana mencarinya.

Ia berasal dari Pulau Penyengat.

Cincin itu terbuat dari emas.

Lebih khusus mengenai penggunaan kata depan “di”, penulisannya ada dua jenis: dipisah dan disatukan.

Penulisan kata depan “di” yang disatukan adalah apabila menunjukkan kata kerja pasif. Cara mudahnya, kita dapat menanyakan pada kalimatnya, “diapakan”.

Sementara itu, kata depan “di” yang dipisah dengan kata setelahnya adalah apabila menunjukkan keterangan tempat. Lebih mudahnya, kita dapat menanyakan pada kalimatnya, “di mana?”

Catat: diapakan, dan di mana.

Contoh:

Adi berada di rumah sakit –> di mana

Motor itu dibawa oleh Adi –> diapakan

Ia sedang berada di tempat yang baru –> di mana

Saya akan ditempatkan di posisi yang baru –> diapakan

Sehingga jika kita kembali kepada postingan Sule, karena kata “di” di sana menunjukkan kata kerja pasif atau “diapakan”, maka penulisan yang benar adalah “dipikirkan” dan “dijalankan”.

Sebagai informasi tambahan, jika terdapat kata depan di, dari, dan ke di sebuah judul tulisan, maka harus ditulis dengan huruf kecil. Kecuali jika judul tersebut menggunakan huruf kapital semua.

Contoh:

Sekolah di Bogor Tutup karena Dampak Virus Corona

Bantuan dari Pemerintah Terhambat Akibat Banjir

3. Penggunaan Tanda Baca

Satu hal lagi yang perlu dikoreksi pada keterangan foto yang ditulis oleh Sule adalah penggunaan tanda baca. Sebaiknya, sebelum kata “tapi” (tetapi sebagai kata yang baku), itu perlu tanda baca koma sebagai penguat intonasi juga menunjukkan kalimat pertentangan.

4. Kesimpulan

Setelah kita bahas bersama beberapa ketidakakuratan kaidah bahasa yang terdapat pada postingan Sule, maka dapat kita simpulkan dalam kalimat utuh yang benar adalah sebagai berikut:

“HIDUP ITU BUKAN UNTUK DIPIKIRKAN, TETAPI DIJALANKAN

Penggunaan huruf kapital di sini menunjukkan sebuah penegasan. Akan tetapi, kita boleh menuliskannya dengan huruf biasa, dan diawali huruf kapital di awal kalimatnya. Sehingga, menjadi “Hidup itu bukan untuk dipikirkan, tetapi dijalankan.”

Baca juga: Kata Baku Napas Bukan Nafas

__

Sekian, semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf apabila masih terdapat kekeliuran.

Rubrik Cek KBBI ini diperuntukkan bagi penulis juga pembaca sekalian untuk sama-sama belajar dan mendalami bahasa Indonesia. Penulis sangat terbuka menerima kritik dan saran untuk perbaikan konten ke depannya. Terima kasih.

Salam Bahasa

 

Adi Permana

4 Comments

  1. Di mana Anda sekarang?

    Betulkah penggunaan nya seperti itu?

    Seringnya menggunakan “dimana” daripada “di mana” untuk pertanyaan sejenis.

    1. Iya kita seringkali lupa. Nah, hal-hal seperti itu bisa dibiasakan dalam keseharian, agar terbiasa.

  2. tttttttttttttapi Pak, berdasarkan kelaziman tutur juga lingua franca, hal tersebut tidak menjadi soal. Kecuali jika Bapak hendak mendedah secara esensi dari kata tapi dan namun. Demikian. Sila untuk dilanjutkan.

    1. Betul, secara bahasa tutur tidak boleh-boleh saja. Akan tetapi tulisan pada blog ini mengulas secara kaidah bahasa yang baik dan benar. Kita harus tegas menyampaikan, ini baku, itu tidak baku agar jelas. Seperti halnya bahasa Inggris, kadang native speaker tidak terlalu konsen soal grammar, tapi bukan berarti mengoreksi grammar salah kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *