Melihat Peluang Kata “Anjay” Masuk KBBI

Melihat Peluang Kata “Anjay” Masuk KBBI

Saya mungkin terlambat menulis ini. Namun pandangan saya mengenai fenomena kata “anjay” ini sepertinya masih belum basi. Toh, yang dihebohkan mengenai dari “anjay” masih sekitaran dua minggu lalu—sampai tulisan ini terbit. Jadi peluang untuk tetap menarik dibaca masih ada.

Sebagai informasi, kata “anjay” menjadi viral gara-gara pernyataan dari salah seorang komisioner Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) di media. Ia mengatakan, orang bisa dipidana jika menyebut kata “anjay” karena kerap dipakai untuk perundungan dan merendahkan martabat orang.

Respons tersebut berkaitan dengan salah seorang Youtuber yang mengadu ke Komnas PA tentang kata “anjay”. Kata Youtuber tersebut, “anjay” ini telah merusak moral bangsa.

Maksudnya baik, akan tetapi terlalu lebay. Caranya bukan begitu mas untuk menyadarkan orang terkait kebahasaan. Jangan selalu mengambil langkah singkat jalur hukum. Kita bisa memakai pendekatan yang lebih sederhana agar orang-orang bisa lebih mawas dalam berbahasa.

Ujung-ujungnya ‘kan, baik Komnas PA dan Youtuber tersebut jadi mengalami perundungan oleh warganet.

Saya punya pendapat begini. Sepertinya, Balai Bahasa di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI harus rajin menjemput bola. Mereka harus sigap merangkul istilah-istilah baru dan yang tengah populer di masyarakat, yang maknanya masih simpang-siur untuk kemudian masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Maksud saya di sini bukan untuk dijadikan penyeragaman makna, tetapi lebih kepada merangkul bahasa-bahasa tersebut agar tidak terlupakan oleh sejarah dan waktu. Karena istilah populer akan selalu ada. Sekarang ramai kata “anjay”, dulu “kids zaman now”, besok-lusa mungkin akan muncul lagi yang baru.

Kita bisa melihat contohnya pada kata “lebay” yang dulu juga pernah ramai dan banyak dipakai oleh orang-orang. Sekarang, kata tersebut sudah ada di KBBI. Artinya berlebihan dalam gaya bicara, penampilan, dan sebagainya. Coba saja Anda cek sendiri.

Mungkin banyak yang menganggap sampai sekarang kata “lebay” itu belum masuk istilah baku. Padahal sebetulnya sudah ada di dalam KBBI. Jadi sah-sah saja bagi Anda kalau mau dipergunakan dalam ragam tulisan formal maupun nonformal, asal sesuaikan dengan konteks penggunaanya saja.

Sejarah Kata “Anjay”

Seingat saya, kata “anjay” sudah ada sejak dulu. Saat saya masuk kuliah di tahun 2012, saya sudah sering mendengar istilah itu. Tetapi dulu tidak pernah tuh sampai dipermasalahkan, bahkan dipakai untuk memidanakan orang.

Anjay sendiri merujuk kepada “anjing”. Anjing yang dimaksud di sini bukanlah menunjukkan kata benda, melainkan kata sifat. Maknanya kurang lebih tentang keburukan, kejelekan, dan kekesalan. Ya, kata anjing yang sering diucapkan oleh orang-orang tatkala sedang emosi ini telah mengalami perluasan makna.

Baca Juga: Belajar Kata Depan dari Sule

Namun, berdasarkan pengalaman pribadi, kata “anjing” juga kerap dipakai dalam percakapan sehari-hari untuk teman sebaya. Bahkan ada yang menyebut, kata anjing ini sudah seperti tanda baca koma.

“Eh anjing, ke mana aja kamu? Jarang kelihatan sekarang”. Begitulah kira-kira. Dalam konteks ini, komunikator dan komunikan saling terbuka, sehingga tidak terjadi perselisihan makna yang berujung salah satu pihak merasa tersinggung.

Namun karena dianggap terlalu kasar, orang kemudian menghaluskan kata anjing itu menjadi beberapa turunan, di antaranya: anjir, anjrit, anjis, anjas, anjeng, anjrot, anzeng, dan anjay. Mungkin ada lebih banyak lagi turunannya. Bahkan kawan kuliah saya lebih memperhalusnya lagi dengan kata “andai”.

kata an
Warganet ada yang mencoba merumuskan makna turunannya. Sumber: Twitter

Ini sebuah fenomena menarik. Sejujurnya saya tak begitu memahami teori-teori tentang linguistik, pembentukan bahasa, atau pemaknaan bahasa. Akan tetapi, rumusan dari turunan kata “anjing” menjadi beberapa versi ini patut untuk dijadikan penelitian. Semoga ada calon-calon sarjana di bidang kebahasaan yang mau melakukan penelitian ini.

kata anjay
Silsilah kata anjay. Netizen memang kreatif. Sumber: Twitter

Terlepas dari itu, hipotesa saya begini, penghalusan kata “anjing” terjadi agar bisa diterima oleh telinga publik saat berkomunikasi. Sehingga mereka yang berucap kata ini kepada lawan bicaranya, tidak merasa tersinggung. Dengan demikian, maknanya bukanlah sebagai kata sifat yang tersemat dalam “anjing” tadi, melainkan lebih luas lagi.

Jika saya telaah, kata “anjay” ini bisa menjadi sebuah ungkapan kekaguman. “Anjay kamu sudah sidang skripsi lagi.”

Kata “anjay” juga bisa dipakai untuk menunjukkan perasaan kaget dan terkejut. “Besok ujian statistika? Anjay aku belum menghafal materinya.”

Kata “anjay” juga dapat dipakai untuk mengekspresikan perasaan senang. “Anjay musiknya merdu sekali.”

Dan tentu saja banyak lagi penggunaannya.

Sehingga menurut saya, kembali ke poin paling awal, Balai Bahasa harus menjemput bola. Lalu mencoba merumuskan makna dan melakukan kajian tentang penempatan konteks bahasa untuk kata “anjay” ini.

Sebab jika dibiarkan, nanti banyak orang masuk penjara gara-gara menyebut atau menulis kata “anjay”. Termasuk saya yang sedari tadi melakukannya. Hehe.

Sekian. Salam bahasa!

Baca juga: Belajar Penulisan Bilangan dari Selebgram Aurelie

 

Adi Permana
Latest posts by Adi Permana (see all)

2 Comments

  1. Emang bahasa itu cair, setuju justru makin tebal kamus makin baik juga suatu bahasa, karena artinya dia terus dipakai, Oxford Dictionary aja tiap tahun nambahin kata2 yg dianggap “alay”.

    Tapi Komnas PA ngapain juga, bukannya fokus pada isu kekerasan pada anak atau yg emang lebih urgent lainnya. Anjay banget deh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *