Junal #4 Sisi Lain Kaalpeh

Junal #4 Sisi Lain Kaalpeh

Membicarakan orang lewat sebuah tulisan ternyata cukup mengasyikkan juga. Seperti halnya ghibah, tapi prosesnya lebih rumit: mesti observasi, membuat kerangka pembahasan, tahap menulis, lalu editing. Itulah mengapa ghibah jenis ini lebih intelek dibanding ghibah ibu-ibu saat arisan. Sebuah pembenaran.

Setelah beberapa rekan kerja di kantor ditulis di dua jurnal sebelumnya, ternyata ada satu orang yang hampir terlewat. Tadinya mau saya skip, tapi kasihan. Siapa tahu dia berharap kisah hidupnya masuk jurnal saya. Sungguh percaya diri sekali ya. Maka dari itu, pada edisi jurnal #4 ini saya akan mengulas sekilas tentangnya.

Dia seorang perempuan. Namanya Yani. Berdarah Medan, tapi juga pernah menetap di Padang. Kini ia hijrah ke Bandung untuk mencari penghasilan. Pekerjaan dengan jurusannya saat kuliah sebetulnya tidak nyambung, tapi karena sudah kadung, mungkin ia pun terlanjur nyaman dengan urusan keprotokoleran.

Yani bisa disebut sebagai “otaknya” acara-acara penting di kantor kami. Dia sangat mahir menyusun rundown, dan memastikan acara berjalan dengan baik dari awal sampai akhir. Karena tuntutan pekerjaan itulah dia mesti cekatan dan mampu mengambil keputusan.

Banyak orang mengenal sosok Yani sebagai perempuan jutek dan galak. Setidaknya itu kesan pertama saya saat pertama kali bertemu dengannya. Bicara seperlunya. Ngobrol alakadarnya. Ibarat di sinetron mingguan, Yani ini berperan sebagai tokoh antagonis. Hmmm.

Tapi ternyata, lambat laun saya menemukan hal berbeda dari sosoknya. Di balik apa kata orang tentangnya, ternyata Yani menyimpan sisi humanis juga. Dia cukup periang, friendly, peduli, dan pengertian kepada yang lain. Tapi terkadang juga menyebalkan bila keseringan minta difoto saat senggang.

Hobinya mengoleksi sepatu. Lihat saja di bawah meja kerjanya. Padahal setiap hari yang dipakai kan hanya satu sepatu ya. Dia cukup modis dan rapi dibanding dua rekan kerja perempuan saya sebelumnya. Maaf ya, bukan membandingkan, jadikan saja sebagai bahan evaluasi penampilan.

Selain itu, salah satu “tangan kanan” orang nomor satu di Jalan Ganesa ini juga punya hobi unik lain, yaitu makan sambil nonton Shincan. Jika ada yang tahu film kartun ini, berarti Anda sudah tua pastinya. Mungkin dulu dia punya cita-cita menjadi ibu guru yosinaga atau pahlawan bertopeng, sehingga belum bisa move on dari kartun itu.

Dari sisi fisik, dia sebetulnya cocok jadi seorang selebgram: wajahnya lumayan ditambah kulit yang bening. Peluang meraup keuntungan sangat besar di era sekarang, misalnya untuk promosi kerudung, skin care, pemutih kulit, obat peninggi badan, atau obat pembesar *otot. Lumayan kan bisa menambah penghasilan bulanan.

Tapi sayang potensi itu dia lewatkan. Dia tak begitu aktif di media sosial. Terakhir kali dia posting foto di Instagram itu 1 Januari 2018, artinya dua tahun lalu. Lalu dikemanakankah foto-fotonya selama dua tahun tersebut? Mungkin dicetak lalu ditempel di kamar toilet. Jadi sambil mandi atau “setor” tiap pagi, ada kenangan yang bisa terus terawat dalam memori.

Menariknya, dia tipikal perempuan yang tidak konsisten hanya pada satu pasangan. Buktinya, tiap hari dibonceng lelaki berbeda baik pergi maupun pulang kerja. Becanda. Jangan salah, di jari manisnya sudah tersemat sebuah cincin pertanda telah “di-booking” oleh orang. Bahkan saking setianya, cincin dia pakai setiap hari kemana-mana. Jangan patah hati ya sahabat, mari kita doakan, tahun ini dia segera dikhitbah oleh lelaki pujaannya.

Usut demi usut, katanya kisah percintaannya pun tergolong romantis. Rahasianya ada pada komunikasi. Maka dari itu, quality time dan download aplikasi line itu sangat dianjurkan. Karena jika interaksi dengan pasangan mengandalkan aplikasi WhatsApp, nanti akan ketahuan kamu sedang online tapi chatnya tidak dibalas. Perang deh jadinya.

Sebetulnya, tidak banyak yang bisa saya gali dari kepribadiannya. Sebab kita berbeda ruangan dan terhalangi tembok ratapan. Setiap hendak masuk ke ruangannya, harus melewati sebuah rintangan pula.

Pada intinya, sosok yang kerap dipanggil Kaalpeh ini punya banyak sisi lain yang mengagumkan. Lagi-lagi, jangan melihat karakter seseorang hanya dari perawakan, sebab itu seringkali mengecoh. Mungkin saja, dari luar terlihat jahat, padahal di dalamnya sangat bersahabat.

Dan selalu ingat, orang jahat terlahir dari orang baik yang membuang sampah sembarangan.

Salam literasi

Jurnal #4

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *