Jurnal #1: Sepeda Sahabat

Jurnal #1: Sepeda Sahabat

Ada macam-macam cara untuk menjalin persahabatan. Saya, mencoba melakukannya dengan mengayuh sepeda bareng ke Kota Nanas. Bersama dua orang dari Subang, sepeda kami kayuh dengan tertatih-tatih menyusuri tanjakan “aduhay” di lereng jalan Ciater.

Dari daerah bernama Cagak Tilu, Reza, Dede, dan saya mencoba menempuh jalur menyisir. Kami tak lewat jalan besar sebab khawatir banyak mobil nyasar. Selain itu, tujuan lainnya adalah agar bisa melihat pemandangan perdesaan dengan latar Gunung Tangkuban Parahu. Meski awan sedang bergelayut pagi itu, disertai hujan rintik-rintik, jalanan menanjak minim bonus itu tetap harus kami jajaki dengan lutut sisa-sisa tahun baruan semalam.

“Keheula, eureun heula, aing cape teu kuat. Tu’ur leuleus,” teriak Reza dengan napas ngos-ngosan. Dia tertinggal sekitar 100 meter di belakang. Jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, kira-kira pria tambun itu meminta untuk istirahat sejenak, mengambil napas barang sesaat sambil mengumpulkan kembali tenaganya yang terkuras. Padahal baru tanjakan pembuka, di depan sana masih banyak lagi.

Kami beristirahat sejenak di pertengahan tanjakan yang dikelilingi kebun jagung dan sawah. Petani sedang semangat mencabut rumput liar. Padahal hari baru saja dimulai. Mereka tak mengenal kata libur meskipun di kalender adalah tanggal merah. Oh iya, saya baru ingat, para petani tidak mengenal kalender pemerintah dalam bekerja, mereka justru memakai kalender alam, di mana saat ini sedang musim hujan, cocok untuk bercocok tanam.

Saat sedang istirahat seorang petani menyapa dalam Bahasa Sunda, lalu kami balas. Percakapan normatif, tapi bisa mencairkan suasana. Sungguh kehidupan di desa memang begitu hangat. Saling bertegur sapa seolah adalah jati diri mereka, sekalipun kepada orang asing seperti kami yang hanya bertemu sekilas. Sayangnya, budaya tersebut sudah segan untuk dilakukan di kota-kota besar.

Kami bertiga memakai sepeda berbeda, yang satu sepeda balap, satu sepeda travel, dan satunya lagi sepeda gunung. Kami juga bukan atlet yang mampu bersepeda tak kenal lelah hingga berjam-berjam atau berpuluh-puluh kilometer. Kami hanya menerapkan prinsip, jika salah satu lelah, maka berhentilah.

Tanjakan demi tanjakan terus ditempuh sepanjang lebih dari 4 kilometer. Ada yang terus mengayuh, ada yang mengeluh sambil menuntun sepedahnya. Itulah seni berpetualang. Di situlah cerita terkenang. Masing-masing dari kami tentu akan mengenang proses perjalanannya masing-masing dengan berbeda. Tapi akhir cerita kami sama: sampai ke tempat yang dituju dengan suka cita. Nikmatilah setiap perjalanan, walaupun terkadang tujuan utamanya tidak tercapai.

Akhirnya kami tiba di sebuah jalan raya. Tapi tujuan utama masih ada beberapa ratus meter ke arah selatan, ke sebuah tempat yang dikenal dengan sebutan Ciater Highland. Komplek elite untuk masyarakat berpenghasilan dua dijit ke atas itu amat indah dan hijau. Gaya arsitektur rumahnya beragam, ada yang tradisional, modern, semi modern, bahkan ke Barat-baratan. Berada di punggung bukit, sehingga cakrawala bisa terlihat nan jauh di sana.

Dibajak Ibu-ibu

Matahari tak juga muncul. Awan masih mendung. Sementara rintik hujan mulai muncul. Saatnya bergegas pulang setelah berhasil mengoleksi beberapa foto dan vidio ciamik untuk kebutuhan panjat sosial.

Tapi saat kami hendak pulang, dua orang mendekat menghampiri kami. Satu orang ibu-ibu, satu orang lagi sepertinya anaknya. Mereka minta tolong difoto dengan berbagai macam gaya, beberapa kali diulangi karena hasil yang kurang pas menurut mereka. Bahkan sampai meminjam sepeda kami sebagai “properti” untuk konten mereka. Dunia…dunia.

*Cerita yang tak kalah menarik selama perjalanan adalah dibajak ibu-ibu komplek yang ingin berfoto. Sampai minjam sepeda dan meminta foto ala “India-indian”. Ini vidionya.

Usai dibajak ibu-ibu, sebelum beranjak pulang, kami mampir ke tukang bubur ayam yang begitu menggoda mata di pinggir jalan. Kami perlu mengisi tenaga, sebelum akhirnya pulang dan membawa cerita tentunya.

Adi Permana Gowes
Wefie pertama di awal tahun 2020

Lalu hujan tiba-tiba turun. Tapi kami terselamatkan karena masih nongkrong di tukang bubur.

Setelah sedikit reda, meskipun rintik-rintiknya masih bisa tertangkap mata, kami harus pulang. Karena menurut teori, kekuatan bubur menahan lapar hanya hitungan beberapa jam saja. Untungnya, kini jalanan menurun. Tak perlu bersusah payah mengayuh, hanya tangan yang siap siaga mengerem jika kecepatan melewati batas ukuran kehati-hatian.

Akhirnya, setelah menembus hujan di tengah perjalanan, kami tiba di kediaman Reza hampir tengah hari. Akan tetapi itu sungguh perjalanan yang berkesan. Meskipun saya telah mengenal mereka berdua sejak lama, tapi ternyata ada hal baru yang bisa dikenang dari perjalanan tersebut. Padahal sepeda hanyalah alat, tapi bisa mempererat tali persahabatan.

Subang, 1 Januari 2020

 

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *