Jurnal #11 Sampah dan Pendaki

Jurnal #11 Sampah dan Pendaki

Mendaki gunung kini menjadi aktivitas yang sangat populer di kalangan generasi muda. Kehadiran media sosial dan film-film petualangan menjadi salah satu pemicunya.

Memang di satu sisi membawa dampak positif karena dapat meningkatkan income pada sektor pariwisata. Tapi di sisi lain, kondisi lingkungan seringkali menjadi korban dari perbuatan tidak bertanggung jawab manusia.

Eksploitasi dan komersialisasi berlebihan seringkali merupakan faktor utama rusaknya lingkungan. Keserakahan manusia yang selalu melihat sisi keuntungan dibandingkan kelestarian alam menjadi problematika selanjutnya.

Tak perlu jauh-jauh pergi ke gunung tinggi, di sekitaran Bandung pun kita sudah bisa melihat bagaimana lingkungan mulai rusak akibat exploitasi berlebihan tersebut. Contohnya adalah Gunung Putri di Lembang dan Gunung Manglayang di timur Kota Bandung.

Menurut pandangan saya, Gunung Putri memiliki kasus terlalu banyaknya pendaki yang berkemah sehingga vegetasi hutan pun bisa rusak. Apalagi jika para pengunjung menyalakan api unggun. Tentu harus ada ranting yang akan dikorbankan.

Tahun lalu saya pernah berkemah di sini. Esok harinya setelah beberapa orang turun gunung, sampah berserakan dimana-mana. Lebih gila lagi banyak sekali bekas air seni yang dimasukkan ke botol. Padahal toilet hanya beberapa puluh meter. Bukan saya sok peduli lingkungan, tapi apa boleh buat, saya berusaha membersihkan beberapa sampah dan membakarnya.

Kasus Gunung Manglayang berbeda lagi. Pembukaan lahan dan pembangunan spot-spot untuk foto menurut saya kurang tepat. Apalagi jika lokasinya berada di lereng gunung. Pertama sangat berbahaya, kedua itu akan menyumbangkan run-off dari air hujan yang turun.

*Spot foto di Gunung Manglayang – Batu Kuda. Entahlah ini sesuatu yang bagus atau bukan?

Jika kalian sering ke Gunung Manglayang, bisa dibandingkan bagaimana kondisi lima tahun lalu dengan yang sekarang. Dulu tiket masuk hanya Rp. 5 ribu sekarang Rp. 15 ribu + parkir Rp. 5 ribu. Sekarang bahkan di daerah hutan pinus, sudah tak lagi hijau dan rimbun seperti dulu.

Masih terkait Gunung Manglayang, jika kalian mendaki sampai ke puncaknya, di sekitar jalur pendakian itu banyak sekali sampah bisa dijumpai: botol minum, plastik, puntung rokok, sampah makan, dan lain-lain. Padahal apa ribetnya sih bawa turun sampah?

Kita harus memahami bahwa tidak semua orang punya pemikiran yang sama soal menjaga lingkungan di gunung atau alam secara umum. Tapi itu tak bisa dimaklumi, harus disadarkan. Menurut saya, salah satu solusinya adalah dengan penerapan aturan yang ketat. Misalnya, di pos pendakian dilakukan pendataan barang yang dibawa, lalu turunnya dicek ulang dan harus sesuai. Jika tidak, maka harus ada denda dan sanksi bagi yang melanggar dan tidak patuh.

*Pemandangan Kota Bandung dari Gunung Manglayang. Saya berharap, anak cucu masih bisa menikmati keindahan alam ini, kelak.

Bagi saya, pengelolaan daerah pariwisata sangat perlu di era sekarang. Hal tersebut penting sebab dapat menarik wisatawan dan bermuara pada pendapatan. Tapi tetap, wawasan lingkungan mesti jadi pertimbangan utama. Dan itu mutlak, karena apalagi yang akan kalian “jual” jika alamnya rusak?

Salam literasi, salam lestari.
Jurnal #11

 

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *