Jurnal #12 Mengapa Perempuan Suka Sekali Korea?

Jurnal #12 Mengapa Perempuan Suka Sekali Korea?

Pertanyaan di atas mungkin seringkali terngiang di benak kaum adam tatkala melihat perempuan yang begitu kebangetan nge-fans sama artis Korea. Entah apa yang mereka favoritkan. Apakah dari sisi muka? Penampilan? Kemampuan? Atau segalanya? Entahlah.

Seolah tidak bisa dinafikan, Korea memang membawa daya pikat tersendiri bagi dunia hiburan, termasuk di Indonesia. Coba tanyakan saja teman perempuanmu, film drama Korea atau artis K-POP apa saja yang dia ketahui. Pasti setidaknya dia bisa menyebutkan beberapa. Saya sih tidak hapal, jadi tidak akan mengurutkannya di sini.

Demam K-POP bahkan menarik banyak sekali fanbase-fanbase Korea yang berseliweran di media sosial. Hal itu tercermin dari teman kantor saya yang bahkan punya akun Twitter khusus untuk ngepoin artis dan berita-berita seputar Korea.

Kadang saya berpikir, demam Korea ini menjerumuskan juga lama-lama ya. Bayangkan, berapa lama waktu yang dihabiskan untuk nonton drama Korea, juga melototi time line artis yang mereka pun tak akan peduli dengan kita.

Tapi terkadang segala sesuatu punya sisi negatif dan positif. Ada juga karena kegemarannya pada Korea membawa seseorang bisa berbahasa mereka atau bahkan sampai kuliah di sana. Itulah yang dinamakan kecintaan berpendidikan. Bukan hanya sekedar ikut arus, tapi turut mempelajari arus.

Sedikit sinis memang, tapi layak untuk dipertimbangkan wahai para pengagum berat Korea.

Saya tidak tahu apakah ini menimbulkan dampak positif atau bukan? Tapi jika segala sesuatu difavoritkan secara berlebihan, khawatir itu juga bakal menarik gaya hidup, juga kebiasaan dari kita. Padahal mungkin sebetulnya kebiasaan orang Korea yang kita favoritkan, tidak penting-penting amat untuk diikuti.

Dalam beberapa kesempatan terpisah, saya pun pernah bertanya kepada beberapa perempuan penyuka Korea. Kebanyakan dari mereka mengatakan, kegantengan menjadi ukuran utama kesukaan mereka. Di nomor dua adalah penampilan, dan ketiga adalah kisah di film/drama. Jika tak sependapat, boleh disanggah di kolom komentar ini.

Lalu saya berkesimpulan, Korea memang sangat komersial sekali orientasinya di dunia hiburan. Barangkali ini soal selera, atau jangan-jangan dunia hiburan Tanah Air sudah tak lagi diminati kaum milenials.

Sisi Lain Kehidupan Korea

Sekedar kagum dengan artis Korea sih boleh-boleh saja. Asal jangan sampai kelewatan. Itu kata kunci utamanya. Sebab menurut beberapa artikel yang pernah saya baca, Korea menyimpan masalah di bidang sosial. Banyak diantara artis-artis di sana yang depresi bahkan sampai bunuh diri karena tekanan sosial yang tinggi.

Menurut saya itu kurang baik untuk diikuti. Apalagi jika gaya hidup mereka tak mampu kita imbangi. Tapi saya tak pernah menyalahkan. Itu hak setiap orang. Juga bukan salah artis-artis Korea sebagai penyebab utama gagalnya menghadirkan generasi yang melek berliterasi. Itu pun sah-sah saja karena mereka menggantungkan hidup dari sana.

Tapi saya hendak mengajak, marilah berakal sehat dalam menggemari sesuatu.

 

Salam literasi

Jurnal#12

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *