Jurnal #13 Tuntutan Pekerjaan

Jurnal #13 Tuntutan Pekerjaan

Menjadi seorang fotografer ternyata tidaklah mudah. Meskipun tak ada sekolah formalnya, tapi profesi ini sangatlah penting terutama di era serba digital seperti sekarang ini.

Jika diperhatikan, hampir semua instansi baik pemerintah maupun swasta, memiliki juru motretnya sendiri. Mereka selalu hadir di acara-acara kantor ataupun kegiatan lainnya yang perlu publikasi dan dokumentasi. Meskipun sudah dimudahkan dengan hadirnya smartphone yang kameranya puluhan mega pixel, jasa seorang fotografer tetap saja diperhitungkan.

Saya tak pernah belajar fotografi lewat kursus atau sekolah non-formal lainnya. Hanya autodidak dan menerapkan prinsip ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). Sumbernya dari mana, bisa dari YouTube atau sharing dengan fotografer profesional lain jika berpapasan di suatu acara.

Saya bukan juga seorang profesional di bidang fotografer. Sampai sekarang pun saya tidak memiliki kamera. Ingin sih beli, tapi duitnya suka nyangkut di sana-sini.

Tapi pelajarannya, bukan berarti tidak memiliki kamera lantas tidak tahu ilmunya dong. Tetap belajar itu perlu. Caranya bagaimana belajar motret tapi tidak punya kamera, ya simpel sebetulnya. Jika ada kesempatan memegang kamera, saat itulah waktunya belajar. Meskipun hanya beberapa saat.

Prinsip saya, yang penting melek, walaupun tidak ahli di bidangnya. Sehingga sekalinya dibutuhkan, kita bisa diandalkan untuk mengoperasikannya. Dan itu pun yang menambah nilai plus di dalam pekerjaan saya saat ini: menjadi paparazi.

Maklum, zaman sekarang kita dituntut harus serba bisa. Mesti multitasking dalam berbagai bidang untuk tetap menjaga persaingan di dunia kerja. Itulah yang saya rasakan selama beberapa tahun bekerja terutama di bidang yang menuntut kreativitas ini.

Seiring berjalannya waktu, melek saja ternyata tidaklah cukup. Kita juga perlu menguasainya lebih dalam agar hasil foto kualitasnya semakin baik. Beruntungnya, hampir setiap hari saya “memegang” kamera dan bisa learning by doing dalam pengoperasiannya.

Namun terkadang, kelebihan skill tak sejalan dengan apresiasi. Profesi fotografer seringkali dianggap sebelah mata dan dianggap paparazi saja. Padahal untuk mendapatkan gambar terbaik, butuh proses tak mudah, dan alat yang tak murah. Belum lagi proses editingnya. Tapi lebih menjengkelkannya lagi, sudah mah direndahkan tapi dibutuhkan dan ditanyakan hasil fotonya. Hmmm.

Salam literasi
Jurnal #14

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *