Jurnal #15 Pentingnya Apresiasi

Jurnal #15 Pentingnya Apresiasi

Kesibukan pekerjaan yang amat menyita waktu di awal tahun ini memang sedikit berpengaruh pada intensitas menulis pada jurnal ini. Misalnya hari ini, semestinya sudah masuk jurnal ke-17 namun masih berkutat di jurnal ke-15. Apa boleh buat, saya harus mengejar ketertinggalan tersebut dengan menulis dua jurnal dalam satu hari.

Saya menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa menjaga konsistensi dalam menulis. Ini padahal baru soal kuantitas, belum berbicara pada aspek kualitas. Mungkin ini pula yang dialami setiap orang dalam berkarya, terkadang kualitas itu akan hadir jika kuantitas kita dalam melakukan sesuatu sudah teruji. Semakin banyak pengalaman akan semakin mengasah kemampuan.

Terlepas dari itu semua, saya pun harus mengapresiasi pencapaian ini. Tidak terasa, ternyata jurnal ini sudah setengah jalan. Seperti halnya pendakian, bagian yang terberat seringkali hadir di pertengahan jalan. Mau mundur, tanggung karena sudah setengah jalan, mau dilanjutkan kadang penuh keraguan. Tapi di jurnal kali ini saya tak akan ragu untuk melanjutkan menulis dan menyelesaikan apa yang sudah saya mulai.

Hal menarik lain selama saya menulis jurnal ini, saya begitu terkejut ternyata ada beberapa orang yang mengikuti tulisan saya. Mereka tahu dari postingan di Twitter dan juga di Facebook. Bagi saya itu sebuah apresiasi yang bisa menambah semangat dalam berkarya. Ini mungkin menjadi pelajaran penting bagi kita semua, jika kita sering mengapresiasi, orang-orang pun akan lebih semangat dalam berkarya, membuat, atau melakukan sesuatu. Termasuk lebih semangat dalam menjalani hidup. Seperti yang dialami oleh saya.

Tapi tak sedikit pula yang memberi kritik. Terutama karena tidak konsisten dalam menulis. Terkadang saya menulis dengan rapi, alurnya mengalir, tapi juga terkadang nulis seenaknya, ngawur, tidak jelas apa yang ingin dibicarakan. Saya mengakui itu. Apa boleh buat, bisa jadi penyebabnya adalah ketergesa-gesaan. Seperti kata pepatah, tergesa-gesa itu memang kurang baik, terutama dalam berkarya.

Kritikan-kritikan yang muncul tersebut tidak saya jadikan sebagai beban. Justru itu merupakan batu loncatan untuk menjadi lebih baik lagi dalam menulis. Bagi saya kritik itu ibarat nutrisi yang akan membentuk kita menjadi seperti apa kelak. Jika anti kritik, tentu saja buruk bagi perkembangan diri.

Kata Tan Malaka, “Terbentur, terbentur, terbentuk”!

Oh ya, jurnal ke-15 mungkin akan berakhir sampai di sini. Jika dinilai, ini lebih kepada review apa saja yang telah dilalui selama 15 hari menulis dengan topik berbeda. Selain itu, saya pun tak boleh begadang terlalu larut sebab esok akan ikut lomba Tahura Trail Run kategori Long Course 17 Kilometer. Target di lomba tersebut tidak muluk-muluk, bisa finish strong pun alhamdulillah, sebab itu virgin trail run bagi saya. Bismillah mohon doanya semua.

Saking bersemangatnya ikut Trail Run, sempat beberapa kali uji coba kostum. Akhirnya memutuskan pakai setelah di foto ini. Hehe.

Mungkin untuk jurnal berikutnya, saya akan menulis pengalaman ikut trail run. Sungguh ini akan menarik sepertinya.

Salam literasi,

Jurnal #15

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *