Jurnal #16 Cerita dari Tahura Trail Running

Jurnal #16 Cerita dari Tahura Trail Running

Ini pertama kali bagi saya ikut trail run. Kebetulan awal tahun ini ada lomba yang cukup prestisius yaitu Tahura Trail Running 2020. Pesertanya tidak hanya dari Indonesia tapi juga mancanegara. Meliputi tujuh kategori lomba yaitu Full Marathon, Half Marathon, Long Course 17K, Short Course 10K, dan Family Run 5K.

Saya ikut di kategori Long Course 17 kilometer. Distance yang lumayan jauh bagi pemula seperti saya. Awalnya sih ingin ikut Short Course 10 kilometer, tapi berhubungan kuotanya sudah keburu habis jadi terpaksa ikut 17 kilometer. Padahal nanggung sekali, kenapa waktu itu tidak daftar saja 21K ya karena dari sisi uang pendaftaran tidak jauh beda.

Sebelum lomba, sempat ragu bisa finish dengan strong, sebab awal tahun ini jarang sekali latihan. Tapi untungnya seminggu sebelum acara saya sangat intens melatih endurance berlari, meskipun di tengah kesibukan kerja. Kalau tidak pagi saya biasanya lari malam hari. Kemudian ditambah lagi latihan aklimatisasi trail run ke Manglayang saat H-7 acara.

Hasilnya, alhamdulillah bisa finish strong di trail run kategori 17K ini. Maksudnya finish strong itu apa, Di? Itu adalah kondisi fisik/tubuh seseorang yang tetap prima, tidak kelelahan berlebih setelah menyelesaikan lari. Finish strong ini dipengaruhi faktor pola latihan yang baik, benar, dan teratur. Tidak ada yang instan dalam hal apapun, termasuk lari. Jika ingin performa bagus maka harus latihan agar tak cedera dan bisa finish strong.

Track Tahura Trail Running

Secara umum track lari di Tahura Trail Running merupakan kombinasi antara jalan keras, tanah, dan downhill. Sepatu sangat berpengaruh pada kondisi ini. Saya menyarankan agar memakai sepatu yang memang khusus untuk trail run yang memiliki grip khusus dan batalan yang empuk sehingga bisa menghindarkan slip di jalur tanah dan tetap nyaman di jalan keras.

Beberapa kasus saat ikut trail run, ada beberapa peserta yang tetap nekat dengan sepatu lari biasa. Alhasil mereka banyak terpeleset dan tak maksimal dalam berlari. Efeknya menggangu peserta lain jika jalur kecil dan sedang terjadi antrean. Kok bisa antre, bisa karena pesertanya pun 710 orang di kategori 17K.

Pada Tahura Trail Running, 5 kilometer awal pelari akan melewati jalanan biasa dan masuk ke perkampungan warga. Kemudian dari 5-10 kilometer mulai masuk area perkebunan dan jalur mulai turun naik bukit. Selanjutnya dari 10 kilometer – 12 kilometer kembali jalan keras berbatu, kadang beton, dan aspal. Dan 5 kilometer terakhir jalurnya sudah masuk kawasan Tahura dengan kondisi jalan aspal.

Bagi saya, yang membedakan antara trail run dengan run biasa itu ada pada jalurnya. Mungkin lari biasa hanya melewati jalur perkotaan, sementara trail run itu banyak pemandangan berbeda. Lebih indah tentu saja.

Misalnya saja saat Tahura Trail Running, ada beberapa spot yang dilewati seperti air terjun Maribaya, air terjun Ciomas. Selain itu melewati tempat-tempat bersejarah seperti Goa Belanda, dan Goa Jepang. Selain lari, tentu saja kita berhenti sejenak untuk berfoto.

Saat mengikuti 17 Kilometer jangan khawatir kehausan sebab ada 7 water station di spanjang jalur diantaranya Pesantren Ciburial, Dago Resort, Sekerendeu, Shelter Bendung PDAM Tahura, Warung Bandreng. Tapi lebih disarankan untuk membawa race bag dengan kapasitas minimal 1 liter.

Tingkat elevasi trail run juga cukup menantang, dimulai dari 1000m sampai 1300m. Memang sangat diperlukan lutut yang kuat dan stamina yang prima jika ingin mencoba trail run.

Peta Jalur Long Course 17K. Dok: Panitia

Drama Sebelum Lomba

Nah, menariknya di balik trail run ini, sempat ada drama. Pertama sakit perut sejak subuh dan harus bolak-balik ke kamar sampai 3x. Ini asli bikin tubuh sedikit lemas. Salahnya memang semalam saya makan sambal, padahal tidak terlalu pedas sih. Tapi ya ini pelajaran penting yang tidak akan diulangi kalau mau lari lagi.

Kedua, susah tidur. Saya tidur sekitar pukul 23.00 malam dan bangun pukul 03.30 karena sakit perut. Lagi-lagi salahnya saya tidur siang terlalu kebanyakan jadinya insomnia. Entahlah, selama tidur tubuh seperti gelisah, dan melek terus.

Ketiga, saya berlari terlalu bersemangat di awal-awal. Sehingga di kilometer 10, kaki sedikit lemas. Rasanya ingin menyudahi lari ditambah track-nya turun naik lembah. Terus kontur jalan super becek dan licin.

Tapi alhamdulillah semua drama itu tak menghalangi kaki ini untuk terus berlari dan menyelesaikan race. Sumber kekuatan tersebut tidak lain semata-mata datangnya dari Allah, ditambah semangat dan motivasi dalam diri.

Berani kotor itu baik.

Pada intinya, selalu ada cerita menarik di setiap petualangan baru. Termasuk saat ikut Tahura Trail Running 2020 ini. Berpartisipasi di ajang ini bukan hanya sekedar lari, tapi juga challenging untuk berkompromi dengan nafsu di dalam diri.

Ya, soal nasfu, “ngapain sih capek-capek lari, naik turun bukit lagi, emang dapat apa dari itu semua?”. Tentu ukurannya bukan materi, salah besar. Justru yang saya rasakan, saya benar-benar mengenal diri sendiri dari kegiatan tersebut, menguatkan mental, juga mensyukuri nikmat sehat yang telah Allah berikan selama ini.

Setelah ini, lalu apa selanjutnya? Yang jelas istirahat dulu. Trail run memang bikin ketagihan sih, jalurnya “berseni” tidak jenuh hanya di aspal saja. Kemudian banyak pemandangan indah sepanjang jalan. Seperti lagunya Ninja Hatori, “…mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah…”

Wah bakalan ketagihan pokoknya. Selamat mencoba, kawan-kawan!

 

Salam literasi

Jurnal #16

 

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *