Jurnal #17 Pak Acah dan Harmonikanya

Jurnal #17 Pak Acah dan Harmonikanya

Senin, 20 Januari 2020 menjadi hari yang tak akan dilupakan bagi Prof. Kadarsah Suryadi, Rektor Institut Teknologi Bandung. Sebab di hari itu ia resmi lengser dari jabatannya sebagai rektor periode 2015-2020 dan digantikan oleh Prof. Reini Wirahadikusumah sebagai rektor periode 2020-2025.

Tidak hanya Pak Acah, sapaan Kadarsah Suryadi, dan keluarga yang bersedih di momen tersebut. Kesedihan juga begitu terpancar dari raut wajah rekan-rekan kerjanya, termasuk saya pribadi. Selama menjabat, sosoknya selalu dikenal sebagai seorang yang amat humble dan baik kepada semua orang.

Meskipun saya baru bergabung 1.5 tahun di Humas ITB, tapi saya seolah mengenal betul karakternya dari beberapa acara yang sering saya ikuti. Sampai-sampai saya hafal template sambutannya, misalnya ketika wisuda, ketika ada MoU, ketika mengisi seminar, ketika peresmian dan acara lainnya, termasuk joke-joke ringannya.

Namun, diantara template sambutannya, ada pesan yang amat melegenda yang sering disampaikan dalam beberapa kesempatan atau acara besar, yaitu pesan “Jangan Menyerah” dari lagunya D’Massive. “Ada empat poin penting dari lagu tersebut, yaitu hidup ini adalah anugerah, syukuri apa yang ada, tetap jalani hidup ini, dan lakukan yang terbaik,” katanya. Saya selalu terharu ketika mendengar pesan tersebut keluar, meski beberapa kali, dari pidatonya. Seolah memotivasi diri untuk menjadi lebih baik lagi dan selalu bersyukur.

Sisi Lain Pak Acah

Saya punya penilaian pribadi terhadap seseorang. Bagi saya, orang yang cerdas itu punya dua ciri; pertama ia memiliki daya ingat yang kuat, kedua pandai mengeluarkan humor di segala kondisi. Dua hal ini jarang dimiliki orang. Dan saya melihat sosok cerdas itu ada pada diri Pak Acah.

Sebagai bukti, setiap kali ada kegiatan MoU, Pak Acah pasti memperkenalkan setiap orang dari pihaknya yang hadir di ruangan. “Nah kita mempunyai orang penting di sini yang membuat foto kita muncul di website dan dilihat semua orang…” ujarnya lalu memperkenalkan nama saya dengan sebutan Pak Adri (sebetulnya tidak pakai “R” tapi yasudahlah). Tapi akhir-akhir ini Pak Acah bisa menyebut nama saya dengan benar, meskipun tetap ditambahkan kata “Pak” di awalnya. Padahal kan saya masih muda pak hehe.

Bahkan ketika pidato pertanggungjawaban pun, ia menyebut setiap orang yang berjasa dalam kepemimpinannya. Saya kadang juga kaget dan terheran-heran jika Pak Acah bertemu seseorang, selalu ingat namanya, julukannya, dan humor ringan tentang sosok yang ditemui tersebut.

Pak Acah dan Harmonika

Awal bekerja di ITB, saya tak menyangka jika orang-orang penting di sini sangat senang bermain musik dan bernyanyi. Bahkan mereka membuat band dengan sebutan “Band Rektor”. Personilnya tentu saja Rektor dan Waki Rektor juga ditambah beberapa pimpinan lain. Selaiknya band profesional, Band Rektor pun memiliki komposisi yang lengkap, ada keyboardist, guitaris, bassis, drummer, vokalis, kadang ada pemain biola, dan tak kalah penting Pak Acah sendiri yang tampil dengan harmonikanya.

Saat pertama kali melihat penampilan Band Rektor ini di acara wisuda ITB, saya langsung speechless dan terkagum-kagum. Kok bisa ya profesor-profesor ini jago main alat musik. Bahkan menciptakan lagu sendiri tentang 100 Tahun ITB. Tidak mudah lho bermain musik itu, butuh jiwa seni, dan sentuhan atau feeling yang sulit diukur otak kiri.

Saat pertama kali melihat aksi Band Rektor, yang paling mengejutkan adalah ketika di tengah penampilan, tiba-tiba Pak Acah berdiri di podium lalu memainkan harmonikanya. Seperti surprise, semua orang langsung tepuk tengan, seluruh Sabuga pun bergemuruh. Jika penasaran dengan tampilan Band Rektor ini, silakan buka saja youtube karena di sana banyak sekali vidio-vidionya.

Aksi Band Rektor ini tentu hal baru bagi saya. Bagaimana melihat orang-orang yang amat akademisi, serius di pekerjaannya, dan dihormati di kesehariannya ternyata sangat lihai bermain musik yang membutuhkan otak kanan, dan feeling seni. Itu artinya otak kanan dan otak kiri mereka memang seimbang.

Tapi memang yang sangat menarik adalah aksi Pak Acah dengan harmonikanya. Pada suatu kesempatan, ia pernah bercerita bahwa awal mula bermain alat musik tersebut karena diberikan hadiah harmonika oleh kakaknya. Selain itu, harmonika juga alat musik yang ringan sehingga bisa dibawa kemana-kemana, dan mudah memainkannya.

Sosok Pak Acah dan harmonikanya ini ibarat sebuah harmoni. Selalu menemani kemana pun ia pergi, dan selalu menjadi obat pelipur lara di kala ia lelah bekerja. “Saya kalau capek menandatanganani ijazah yang sampai ribuan, saya biasanya istirahat dulu, pintu ruangan ditutup, lalu menyalakan musik sambil bermain harmonika,” ceritanya saat acara Pisah Sambut Rektor ITB.

Beberapa hal menarik lainnya dari sosok Pak Acah adalah pesannya kepada semua orang untuk selalu humble, dan rendah hati. Ia pernah berpesan, ”Janganlah kita menjadi orang yang sombong, karena orang sombong pun tidak suka dengan orang yang sombong.” Petuah tersebut seolah terpatri di hati saya, dan selalu akan diingat kapanpun dan di manapun.

Foto: Adi Permana

Mulai 21 Januari 2020, Gedung Rektorat ITB di Jalan Tamansari No. 64 Bandung sepertinya akan selalu merindukan senyumanmu pak. Terima kasih telah menginspirasi banyak orang, telah bekerja keras untuk memajukan almamater ITB, berkontribusi pada pembangunan bangsa dan negara, dan peran postif lainnya yang telah ditorehkan. Saya memang bukan siapa-siapa, tapi saya banyak belajar hal baik dari Pak Acah.

Satu-satunya foto selfie yang ada di memory. Selebihnya adalah foto potrait beliau yang diambil dari kamera.

 

Sehat selalu, tetap berkarya, dan jangan lupa bermain harmonika.

 

Salam Literasi | Jurnal #17

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *