Jurnal #18 Pengalaman Naik Kereta 24 Jam Bandung – Banyuwangi

Jurnal #18 Pengalaman Naik Kereta 24 Jam Bandung – Banyuwangi

Akhir tahun lalu, tepatnya tanggal 22 Desember 2019 saya memberanikan diri untuk traveling ke Banyuwangi, sebuah kota di Jawa Timur dan letaknya percis di ujung pulau Jawa.

Karena hendak mencoba liburan yang low budget, perjalanan menuju kota berjuluk “the sunrise of Java” ini kami tempuh melalui jalur darat dengan menggunakan kereta api. Sebenarnya ada banyak pilihan moda transportasi lain, bisa pakai bus, atau pesawat udara. Semuanya bergantung pada isi kantong kalian. Nah berhubungan isi kantong saya terbatas, maka diputuskanlah berangkat pakai kereta.

Saya tak sendiri pergi ke Banyuwangi. Tapi ditemani tiga orang perempuan cantik asal Jakarta, yaitu Sinsin, Tiffa, dan Dwi. Jadi laki-lakinya hanya sendiri? Iya. Tapi jangan salah paham dulu, justru dengan saya sebagai laki-laki satu-satunya itu menambah beban tanggung jawab karena harus menjaga mereka bertiga sendirian. Haha.

Selfie satu-satunya berempat di stasiun kereta. Foto: Sin-sin Kurnia.

Perjalan Bandung-Banyuwangi
Sebetulnya ada banyak opsi untuk pergi ke Banyuwangi dengan kereta, salah satunya bisa langsung dari Jakarta. Tapi kami memutuskan untuk berangkat dari Bandung saja sebab tiketnya keburu habis bahkan satu bulan sebelum hari H. Dengan demikian, Sin-sin cs harus naik kereta terlebih dahulu dari Jakarta ke Bandung.

Singkat cerita, berangkat dari Bandung, kami memakai kereta ekonomi dengan rute St. Kiaracondong (Bandung) – St. Gubeng (Surabaya). Lalu dilanjutkan St. Gubeng (Surabaya) – St. Banyuwangi Baru.

Dari Kiaracondong kami naik KA Pasundan berangkat pukul 10:15 WIB dan tiba di Surabaya Gubeng pukul 01.00 WIB. Kira-kira transit kurang lebih 4 jam, lalu subuh-subuh kami melanjutkan perjalanan memakai KA Probowangi dari St. Gubeng pukul 4:15 WIB dan tiba di Banyuwangi Kota pukul 11.24 WIT.

Harga Tiket

Total perjalanan ya kurang lebih 21 jam di kereta. Jika ditambah waktu transit, ya sehari semalam alias 24 jam. Karena pakai kereta ekonomi, tentu saja tiketnya lebih murah dong. Harganya berapa? Untuk KA Pasundan tujuan Kiaracondong – Gubeng harganya Rp 94 ribu. Sementara untuk KA Probowangi dari Gubeng – Banyuwangi harganya Rp 54 ribu. Total biaya tiket Bandung – Banyuwangi jika memakai kereta ekonomi adalah Rp 150 ribu. Tapi karena beli online, ada sedikit penambahan biaya untuk administrasi. Tapi tak terlalu besar.

Muka masih terkendali saat tiba di Surabaya. Foto: Adi Permana

Lebih murah kan? Ya tentu saja. Tapi, challenge-nya adalah kalau pakai kereta ekonomi, tempat duduknya berhadapan-hadapan, lutut ketemu lutut. Kayak main catur coy! Pegel tidak berjam-jam di kereta? Ya jelas pegel banget. Tapi, kalau kalian suka tantangan, dan senang mencoba hal baru, boleh dicoba.

Pertimbangan lainnya adalah dari sisi waktu. Naik kereta ekonomi tentu saja lebih takes time. Jika teman-teman hanya punya waktu liburan terbatas, saya sarankan mending naik pesawat saja. Jika tidak salah, sekarang sudah ada penerbangan dari Bandung direct ke Banyuwangi.

Pulang

Lalu pulangnya bagaimana, Di? Saya tetap memakai kereta. Tapi agar tidak bosan, saya mengambil rute lain yaitu dari Banyuwangi ke Yogyakarta, transit dulu di Stasiun Tugu, lalu sambil jalan-jalan sebentar ke Malioboro, makan diangkringan dan ngopi Joss, lalu balik deh ke Bandung.

Wajah lelah seharian di kereta. Tapi kapan lagi bisa berfoto di depan sini dengan kondisi kucel kayak gini haha. Foto: Sin-sin Kurnia

Biaya tiketnya sama saja jika menggunakan kereta ekonomi. Akan tetapi, saya kurang beruntung waktu itu sebab tiket dari Yogyakarta – Bandung sudah habis untuk yang ekonomi. Alhasili saya naik KA Malabar. Meskipun tetap kereta ekonomi tapi harganya lebih mahal sebab itu merupakan kereta terusan dari Malang. Harganya menjadi sekitar Rp 300-an.

Jadi berapa lama di kereta? Ya pulang pergi naik kereta Bandung – Banyuwangi itu 2 HARI 2 MALAM COOOY! 😭 Sedih? Tentu tidak. Karena selama di perjalanan bisa memanfaatkan waktu untuk mengobrol dengan penumpang lain. Kalau saya sendiri sih diambil asyik aja, itung-itung nyari pengalaman hidup baru.

Salam Literasi | Jurnal #18

 

Adi Permana
Latest posts by Adi Permana (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *