Jurnal #2: Perpisahan

Jurnal #2: Perpisahan

Pepatah mainstream mengatakan, di mana ada pertemuan di situ ada perpisahan. Antara keduanya tak mengenal rentang waktu, maupun tempat. Dalilnya saklek begitu saja. Artinya, perpisahan adalah keniscayaan di dunia ini. Hal yang tak bisa kita hindari. Meskipun kini teknologi telah mempermudah umat manusia untuk saling berinteraksi.

Saya benci dengan yang namanya perpisahan. Tapi apa boleh buat, hidup harus terus berjalan. Seberapa sering kalian mengenal kata “berpisah”, tetap saja berat untuk dijalani. Seperti halnya yang terjadi di kantor saya akhir tahun ini.

Tiga orang rekan kerja memutuskan untuk “gantung komputer” dari kantor. Alasannya berbeda, ada yang hendak melanjutkan kuliah, fokus pada usaha, dan yang satunya lagi belum saya korek lebih dalam. Mereka adalah Amalia, Ahmad, dan Nathiqo. Saya punya cerita menarik dari ketiga orang tersebut, dan akan dituangkan dalam Jurnal #2 ini.

Amalia

Perempuan yang akrab disapa Weny ini baru bergabung dengan kami (kantor tempat bekerja) 2019 lalu. Dia seorang desainer kawakan karena mampu menciptakan segala hal lewat aplikasi Adobe di komputernya. Ketika bos meminta, “Mbak Weny, bisa buatkan ini…itu…” tentu itu muda baginya. Seperti halnya Thanos, tinggal menjentikkan jarinya, lalu dunia tersisa separuh.

Weny pembelajar yang ulung, dia suka mengulik hal baru, meskipun tanpa bimbingan orang tua. Hasil mengulik itulah membuat dirinya pandai berbahasa Korea. Sampai suatu waktu, saya dibuat kaget ketika dia menonton film Korea tanpa subtitle. Untungnya, motivasi dia belajar Bahasa Korea adalah untuk sekolah S2, bukan mendirikan girl band atau operasi plastik di sana.

Perawakannya biasa saja. Karakternya sedikit pemalu. Tapi saya belajar banyak hal baru darinya, terutama soal menjadi perfectionist dalam berkarya. Gaya berpakaiannya sedikit tomboi. Ke kantor tak pernah memakai rok, apalagi busana tren hijabers masa kini. Baginya, pakaian yang dikenakan yang penting nyaman.

Weny juga mengingatkan saya waktu zaman SD dulu untuk setiap hari membawa bekal ke sekolah. Iya, dia membawa bekal untuk sarapan juga makan siang. Menunya ala-ala orang diet: cukup dengan roti untuk sarapan pagi, dan nasi merah setengah porsi dengan sayuran dan tumisan untuk makan siangnya. Entah pengiritan atau berlaga orang susah, yang jelas pola hidup sehatnya patut untuk ditiru.

Weny Amalia

Usianya di atas saya satu tahun. Tapi dia tak pernah ambil pusing urusan kawin. Bahkan jika teman-teman seusianya sudah pusing mikirin sewa gedung dan catering, dia masih berjuang meraih cita-citanya. Prinsipnya adalah tak ada yang tak mungkin, selama usaha dan kerja keras dilakoni.

Sayangnya, perempuan indie yang senang duduk di dekat jendela itu takkan sekantor lagi. Jika takdir sejalan dengan impiannya, tahun ini mungkin dia akan segera bertemu Oppa-oppa Korea.

Ahmad

Pria berdarah Sumatera yang lahir di Padang ini punya karakter yang juga tak kalah menarik. Sedikit pendiam, tapi dalam benaknya banyak hal dan rencana telah dipikirkan. Maklum, usia dan pengalaman hidupnya lebih banyak, sehingga sangat matang untuk menyusun rencana hidup.

Pribadinya sedikit tertutup. Apalagi untuk urusan media sosial, di kantor tak ada yang tahu akun Instagram, Facebook, atau Twitter miliknya. Tapi alasannya cukup masuk akal, karena ini semua menyangkut urusan privasi. Walaupun sedikit bertentangan dengan prinsip saya.

Setelah kenal cukup lama, Warga ‘Bandung Coret’ ini ternyata punya keahlian tersembunyi di bidang makanan. Dia cukup tahu mana makanan yang enak, rekomended, dan murah. Perawakannya gemuk dengan berat badan hampir menyamai Arya, bocah obesitas asal Karawang. Tak heran jika di kantor, Fadil sapaanya, mampu makan dengan porsi di atas orang normal. Tapi syukurlah, kini dia berusaha diet dan rajin renang. Katanya, berat badannya sudah turun 10 kilogram.

Ahmad Fadil

Tak banyak yang bisa diulik dari pria berkacamata yang sudah tiga tahun bekerja di kantor kami ini. Sayangnya dia harus undur diri. Entah siapa nanti yang akan membantu saya mewawancarai bule atau mahasiswa asing untuk berita. Juga, saya bakal rindu sepertinya pada sosok yang selalu terlambat masuk kantor itu.

Setelah tak bekerja lagi di sini, dia memutuskan untuk membuka angkringan. Bagi yang merasa kasihan, silakan bisa berkunjung ke angkringan Mas Mis Mus di Cimahi, ya ini demi dapurnya agar tetap ngebul juga.

Nathiqo

Nama depannya adalah Eka. Jangan salah menebak, dia adalah perempuan. Lahir di Palembang atau Serang, saya lupa lagi, dengan usia setahun lebih muda dari saya. Tubuhnya relatif tinggi di antara perempuan kebanyakan. Tapi sayangnya, dia tak jago basket atau voli sehingga anugerah dari Tuhan itu kurang termanfaatkan secara maksimal.

Saat momen perpisahan di akhir 2019, Eka membagi-bagikan sebuah kartu kenangan-kenangan. Saya juga kebagian. Setelah dibuka, isinya ada foto bersama dan ucapan perpisahan. Dia terharu, begitu pun orang-orang di ruangan itu.

Katanya, dia akan meninggalkan Bandung tepat di tanggal 1 Januari 2020. Artinya keesokan hari setelah perpisahan. Sayangnya, dia pergi terlalu cepat padahal saya belum mengenal pribadinya lebih dalam. Tapi saya punya sedikit percakapan bersamanya juga berdasarkan beberapa informasi dari mata-mata pribadi.

Pecinta K-Pop ini adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Sebagai anak sulung, tentu saja dia lebih dewasa secara pemikiran. Makanya, dia pernah membuat status tentang “quarter life crisis”. Itu lho, kondisi di mana seseorang merasa galau, padahal sebetulnya tidak galau-galau amat mengenai urusan hidup.

Dibanding Weny, Eka lebih feminim karena ia selalu memakai rok ke kantor. Dia sangat tertarik dengan film horor, meskipun setiap nonton sering teriak dan menjerit-jerit. Cupu emang. Saya pernah diskusi dengannya mengenai cerita KKN Desa Penari. Saya meminta tanggapannya, dan dia pun mengulasnya dengan jelas, mulai dari alur cerita, karakter, penokohan dan beberapa bagian dalam cerita yang menurutnya menarik. Tulisannya ada di blog saya juga.

Dia juga pembelajar yang ulung. Mungkin setiap hari hidupnya selalu terjadwal untuk menyempatkan diri belajar. Apapun, yang penting adalah hal baru. Spesialis pengibar bendera di tiap upacara peringatan hari besar itu pun punya hobi cukup unik, yaitu mengirim post card ke orang asing di seberang benua sana. Jika beruntung, post card dari orang asing pun bisa datang ke alamatnya juga. Tapi jarang, kasihan.

Eka Natiqho

Eka memang tipikal manusia anti mainstream, karena biasanya, manusia pada umumnya lebih senang bersenang-senang dibanding belajar. Hidupnya lebih teratur, dan rajin dalam melakukan hal-hal kecil. Usahanya untuk keluar dari zona “quarter life crisis” juga patut diacungi jempol. Dia sempat ikut test beasiswa, tes CPNS, dan tes lainnya. Meskipun gagal, dia terus mencoba lagi.

Perempuan yang pernah bergabung dengan unit marching band kampus itu memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Mungkin dia hendak melanjutkan program KKN, yaitu pengabdian kepada masyarakat, atau berubah jadi kembang desa hingga dilamar pemuda sana.

Saya sebagai partner estafetnya hanya bisa berharap, semangatnya dalam meraih impian tetap membara, hingga takdir melunak pada usah dan kerja kerasnya.

**
Aaah, masih banyak sebetulnya yang ingin diceritakan dari mereka. Sayangnya, jurnal ini harus diakhiri dengan sebuah konklusi. Saya beruntung punya rekan-rekan kerja seperti mereka yang mempunyai karakter dan pola pikir berbeda. Sehingga dari situ, saya bisa belajar banyak hal positif. Perpisahan dengan mereka bertiga justru membawa ibroh tersendiri. Kesedihan memang ada, tapi kelak akan sirna dengan menyadari everything happens for a reason.

*Sebetulnya, tulisan ini akan lebih menyentuh jika dibaca sambil memutar lagu Monokrom dari Tulus. Silakan dibaca lagi dari awal 🙂

Sekian. Salam literasi
Jurnal #2

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *