Jurnal #20 Makna Sahabat

Jurnal #20 Makna Sahabat

Sampai saat ini, saya masih belum bisa menemukan apa definisi yang tepat untuk kata sahabat. Apakah sahabat adalah orang yang selalu hadir di kala kita susah, selalu menghibur di kala hati gundah, atau selalu setia di kala yang lain meninggalkan kita? Namun berdasarkan pengalaman pribadi, bagi saya, sahabat adalah seseorang yang mengerti kondisi kita, lalu dia tahu tindakan apa yang harus diperbuat.

Beda dulu, lain lagi sekarang. Semakin bertambah usia, semakin dewasa seseorang, semakin banyak pengalaman hidupnya, ternyata pemaknaan terhadap sahabat pun juga ikut berubah. Kini mungkin dalam perspektif saya, makna seorang sahabat adalah orang yang mau diajak kerjasama dan diminta bantuan di kala susah.

Semacam hubungan simbiosis mutualisme, begitulah kiranya saya memahami makna sahabat.

Persahabatan pun tidak bisa terjalin begitu saja, harus ada proses yang dilalui. Kadang kala kita bisa menemukan seseorang yang dianggap sahabat saat mengalami hal sulit bersama. Misalnya saat zaman kuliah, kita banyak menghadapi masa-masa krisis finansial, makan patungan bersama, mengerjakan tugas bersama dan banyak momen susah lainnya. Hal itu tanpa disadari akan membentuk persahabatan dan juga cerita di dalamnya.

Jujur, sampai saat ini saya masih punya beberapa sahabat saat masa-masa perjuangan dulu. Ada yang satu jurusan, ada yang satu kampung halaman. Masing-masing ceritanya unik dan menggelitik. Maka tatkala reunian tiba, masa kelam zaman dulu akan diungkit dan jadi lelucon bersama. Lalu kami tertawa sambil saling menghakimi masa lalu.

Jika kembali ke zaman kuliah, sahabat itu punya dua kriteria berbeda, pertama adalah sahabat yang lebih banyak susah senang dalam menghadapi proses akademik, maka sahabat satu kampung lebih sering menghadapi krisis “hidup” di perantauan.

Tapi memang itulah uniknya manusia. Setelah lewat dari proses krisis bersama itu, tetap saja kita akan melewati jalan hidup yang berbeda. Misalnya saya tetap di kota, teman-teman dari kampung kembali ke daerah asal. Lalu bagaimana dengan sahabat sejurusan, mereka menyebar ke berbagai jenis pekerjaan.

Jika sudah menginjak usia 20 tahunan ke atas, beberapa teman satu tongkrongan pun mulai jarang berkomunikasi satu sama lain. Musababnya tentu saja karena kesibukan masing-masing, sudah punya dunia sendiri. Hanya orang-orang yang tetap mau bertahan karena satu nasib yang kadang bisa disebut sebagai sahabat.

Memang jiwa oportunis akan selalu hadir di setiap pribadi. Akan tetapi, hal itu tentu saja perlu diimbangi dengan rasa empati dan simpati. Sebab manusia terlahir sebagai insan yang ingin dimengerti, dipahami, juga diapresiasi. Sahabat biasanya sosok yang selalu melakukan hal tersebut, dia paham kebutuhan satu sama lain.

Tapi sebetulnya, tidaklah betul bahwa kita telah kehilangan sahabat. Justru yang ada adalah, kita memilah dan menyeleksi mana orang yang mau tetap bertahan untuk saling berbagi kisah dan informasi, dan mana yang sudah tidak.

Salam Literasi | Jurnal #20

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *