Jurnal #21 Idealisme Saya dalam Menulis

Jurnal #21 Idealisme Saya dalam Menulis

Setiap orang punya gaya tersendiri dalam menulis. Saya tipikal orang yang menulis langsung pada inti pembahasan yang ingin dituangkan. Jarang bertele-tele karena khawatir malah out of the context.

Saat awal-awal menulis blog, saya sempat kebingunan mau dibawa kemana tulisannya: apakah akan menjadi tempat mengulas sesuatu, tempat curhat, catatan pribadi, tulisan serius, atau tulisan keras yang mengkritik. Tapi ternyata, seiring berjalannya waktu, semuanya mengalir begitu saja hingga lahirlah jurnal ini dan beberapa tema tulisan lainnya.

Sejak dulu, bahkan tatkala hendak memulai tulisan, saya memegang prinsip menulis ya menulis saja. Menulis segala hal yang ada di kepala. Segala ide yang ingin saya curahkan dan bagikan lewat tulisan. Jadi blog ini pun sebagai tempat curhat? Betul sekali. Jika saya sedang tidak ada rekan untuk diskusi, maka gagasan yang ada di kepala dituangkan dalam tulisan.

Idealisme Menulis karena Mood

Terkadang ada yang memiliki pandangan bahwa menulis itu bagaimana mood. Jika mood sedang bagus, menulis bisa panjang dan detail. Tapi jika sebaliknya, tulisan cenderung ingin segera selesai. Itu juga yang terjadi pada saya dalam menulis. Tidak bisa dipungkiri, karena faktor pekerjaan sehari-hari adalah menulis berita, maka tatkala selesai urusan kantor lalu menulis di blog, seringkali ada penat yang hinggap; nulis lagi, nulis lagi. Padahal ide di kepala sebetulnya sangat banyak.

Berbicara menulis, saya memiliki kebiasaan buruk tidak segera mencatat ide-ide tulisan yang kerap muncul tak mengenal waktu dan tempat. Maka terkadang, ketika laptop sudah menyala, tangan sudah di atas papan ketik, tapi bingung ingin menulis apa. Ya, itulah mungkin ciri-ciri penulis amatir. Tapi semakin lama, saya yakin fase tersebut akan terlewati.

Sebetulnya kita tak akan sampai kehabisan ide untuk menulis. Sebab setiap hari banyak hal-hal terkecil pun bisa ditulis. Hanya persoalannya adalah daya jelajah dan daya tangkap akal kita tak secermat para penulis hebat. Saya seringkali iri, kok bisa ya para penulis-penulis itu punya ide yang cemerlang dengan diksi yang kaya.

Terkadang saya ingin mengeluh, karena inspirasi itu datangnya dari Tuhan, kenapa tak hadir lebih dulu di kepala saya dibanding orang lain.

Menulis Bukan Semata-mata Karena Uang

Saya mengakui bahwa lewat dunia tulis-menulis, saya bisa bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi, sejak awal blog ini memang tak ada niatan sama sekali untuk dikomersialisasi. Alasannya pertama karena tulisan di blog ini bukan untuk uang, bukan pula untuk mengejar popularitas. Blog ini saya jadikan sebagai etalase pemikiran saya selama hidup, dengan harapan kelak akan dibaca anak cucu.

Kedua, saya ingin menulis untuk menyampaikan gagasan, menyalurkan hobi, dan juga semata-mata diperuntukkan bagi para pembaca yang tertarik dengan apa yang saya tulis. Tapi saya tak munafik, jika Tuhan punya kehendak lain bahwa lewat blog ini akan menjadi salah satu ladang rezeki sekaligus ladang amal saya, maka saya akan berusaha sungguh-sungguh untuk selalu menghasilkan karya terbaik dari blog ini.

Urusan uang bisa belakangan, yang terpenting adalah menghasilkan karya dahulu. Seperti kata pepatah, rezeki tidak akan salah sasaran.

**

Sejak mahasiswa, Adi Permana sudah aktif menulis di UKM Lembaga Pers Mahasiswa di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Wajahnya menunjukkan usianya masih sangat muda saat itu. Hehe… (Foto: entah siapa?)

Lewat jurnal ini saya ingin berbagi, bahwa menulis itu mudah, tapi juga susah. Menulis perlu waktu, juga harus berlatih. Tapi jika sudah ketagihan, sudah merasakan sensasi kepuasaan, saat itulah kalian sudah masuk fase menulis itu mengasyikan.

Entah kenapa saya suka aja dengan menulis. Karena bagi saya, dengan menulis kita harus membaca, dengan membaca kita belajar memahami, dan paham tak butuh kata-kata. Maka saat itulah kita terbebas dari ucapan yang sia-sia.

 

Selamat menulis, teman-teman!

Salam Literasi | Jurnal #21

 

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *