Jurnal #22 Gara-gara Telat Gajian

Jurnal #22 Gara-gara Telat Gajian

Secangkir teh panas menemani petualangan saya untuk menulis malam ini. Musik sudah siap mengiringi. Papan ketik di laptop sudah sangat rela untuk dijamahi huruf demi huruf. Tapi tiba-tiba ada yang datang sekelebat dalam benak.

“Astagfirullah, hari ini tuh waktunya gajian ya. Wah saya harus bayar ini dan itu nih”

Dengan sekejap, perhatian beralih ke telepon genggam kemudian membuka aplikasi mobile banking milik salah satu bank plat merah. Sempat loading, tapi dengan pasti bisa masuk ke rekening pribadi. Tapi sayang seribu kali sayang, saldo tak ada yang berubah.

“Wah kok bisa, ‘kan ini sudah tanggal gajian.”

Lalu saya ingat. Ada sebuah pesan yang tak sepenuhnya dibaca di whatsApp saya pagi tadi. Ternyata itu dari bagian kesekretariatan. Isinya berisi informasi keterlambatan pencairan. Alangkah malangnya nasib saya, ternyata bulan ini gajian sedikit telat masuknya. Tapi tak apalah, mungkin hanya akan telat beberapa hari.

Cerita pun beranjak ke hari sebelumnya.

Tentu saja saya sudah paham betul bahwa esok adalah tanggal gajian. Saya sudah membuat daftar kebutuhan apa yang saja yang hendak dibeli dan harus dibayar. Pikiran sudah kalap, bayangan manis sudah menguap di kepala.

Untungnya saya tidak punya cicilan, karena nurut apa kata pak ustadz untuk menghindari riba. Walaupun sering dikecualikan oleh kebiasaan umum, realita, dan kebutuhan yang mendesak. Jadi gaji telat pun, tak membuat telepon genggam berdering dengan tagihan.

Karena kondisi krisis finansial di akhir bulan ini, saya suka teringat saran teman untuk mulai memikirkan investasi sejak dini mengingat kedepan inflasi akan terjadi. Padahal itu menjadi target saya di tahun ini; mulai mempelajari apa itu saham, reksadana dan turunannya.

Tak hanya itu, malam ini pun pikiran menerawang jauh sambil merenung. “Duh pemasukan masih segini-gini saja, bagaimana nanti duit buat kawin, buat rumah, buat kebutuhan ini dan itu. Haaaaah sambil menghela napas panjang.”

Kok jadi begini. Niat hati ingin mencari pelarian dari jenuhnya aktivitas sehari-hari dengan menulis, malah terjebak dengan realitas sosial.

Semua ini gara-gara telat gajian sih.

Salam Literasi | Jurnal #22

 

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *