Jurnal #27 Pesantren dan Pendidikan Formal

Jurnal #27 Pesantren dan Pendidikan Formal

Pada suatu hari, seorang santri bertanya pada kiai.

“Pak Kiai, mengapa harus ada pesantren dan pendidikan formal?” tanya santri.

Lalu Kiai menjawab, “Dua-duanya penting sebab punya tujuan yang berbeda. Pendidikan formal mengajarkan pengetahuan umum, sementara pesantren mengajarkan keagamaan. Jadi jika pendidikan formal membuat orang menjadi pinter, maka pendidikan pesantren membuat orang menjadi bener,” jawab Kiai.

Belum puas, sang Santri kembali melemparkan pertanyaan.

“Kalau hanya belajar pada salah satunya, bagaimana?”

“Yang paling baik adalah belajar kedua-duanya, agar terjadi kesetimbangan antara nalar dan akal. Karena di negeri ini, konon banyak orang pinter tapi tidak bener. Contohnya dia korupsi, menyebarkan hoax, ngomong ngelantur, bikin heboh, perilakunya tidak mendidik, merasa paling bener dll. Tapi hanya belajar tentang keagamaan pun kurang tepat, perlu juga belajar pengetahuan umum agar kamu sebagai calon kiai nanti, tidak mudah ditipu, dakwahnya pun bisa lintas strata pendidikan, mampu menjelaskan kaitan antara agama dengan science kepada nonmuslim,” ujar Kiai panjang lebar.

Diskusi yang berlangsung di sebuah surau kecil di kampung ini mulai hangat. Santri tersebut terus bertanya dan Kiai bersedia menjawab sesuai pemahamannya. Tapi berhubung waktu mengaji akan tiba, Kiai hanya menerima satu pertanyaan lagi.

“Tapi Pak Kiai, apa sebetulnya perbedaan antara pesantren dan pendidikan formal,” tanya Santri.

“Perbedaanya sederhana. Kalau pendidikan formal itu ada hari libur tiap Sabtu-Minggu. Ya tapi kalau pesantren ya tiap hari harus ngaji,” selorohnya diiringi gelak tawa.

Konon percakapan tersebut memang benar terjadi. Santrinya siapa dan kiainya yang mana, juga lokasinya dimana, tidak terlalu penting untuk dibahas. Sebab kata Imam Ali, “Undur ila ma qola, wala tandzur ila man qola,”

“Lihatlah (dengar) apa yang disampaikan, jangan dilihat siapa yang menyampaikan.”

Perbedaan Pesantren dan Pendidikan Formal

Pendidikan adalah amanat dari Undang-undang dengan tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Di sisi lain, saat ini pendidikan juga menjadi kebutuhan manusia untuk bersaing dengan bangsa lain.

Pemerataan di bidang pendidikan mungkin saat ini bukan menjadi isu yang krusial dibahas sebab pemerintah telah menerapkan pendidikan gratis berjenjang. Namun pekerjaan selanjutnya adalah, output yang dihasilkan dari proses pendidikan tersebut. Apakah sudah menghasilkan manusia-manusia yang unggul, berkualitas, dan berdaya saing? Menurut saya jawabannya belum.

Itulah mungkin yang menjadi salah satu alasan mengapa Mas Menteri Nadiem mengeluarkan kebijakan Merdeka Belajar. Tidak lain untuk menjawab tantangan tersebut.

Lalu bagaimana dengan pesantren?

Jika mengacu pada UU No. 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, di sana diartikan pesantren adalah lembaga yang berbasis masyarakat dan didirikan oleh perseorangan, yayasan, organisasi masyarakat Islam, dan/atau masyarakat yang menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt., menyemaikan akhlak mulia serta memegang teguh ajaran Islam rahmatan lil‘alamin yang tercermin dari sikap rendah hati, toleran, keseimbangan, moderat, dan nilai luhur bangsa Indonesia lainnya melalui pendidikan, dakwah Islam, keteladanan, dan pemberdayaan masyarakat dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Agak sedikit panjang dan rumit, singkatnya pesantren juga sama-sama lembaga pendidikan tapi nonformal yang lebih berfokus pada nilai-nilai keislaman, juga sejalan dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Sementara itu, pendidikan pesantren adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh pesantren dan berada di lingkungan pesantren dengan mengembangkan kurikulum sesuai dengan kekhasan pesantren dengan berbasis kitab kuning atau dirasah islamiah dengan pola pendidikan muallimin.

Kitab kuning di sini adalah sumber keilmuan yang disajikan dalam Bahasa Arab. Kitab inilah yang menjadi rujukan keilmuan di pesantren. Mungkin kalian pernah mendengar kitab safinah, jurumiyah, dan tijan? Nah itulah kitab dasar yang sering diajarkan kepada para santri.

Seperti disampaik Pak Kiai di atas, antara pesantren dan pendidikan formal dua-duanya memegang peranan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Makanya saat ini, pesantren pun diajarkan ilmu pengetahuan umum, juga di pendidikan formal terdapat pelajaran keagamaan.

**

Saya termasuk orang yang harus bersyukur karena pernah mengenyam pendidikan formal dan ngaji di pesantren. Keduanya tentu saja menjadi bekal bagi saya untuk menjalani kehidupan hingga sekarang. Tapi meskipun pernah disebut sebagai santri, jangan coba-coba nanya kepada saya perihal ilmu agama ya, takut salah menjawab karena belajarnya hanya di permukaan saja.

Juga meskipun sekarang bukan lagi sebagai santri, tapi saya masih sangat senang kok momotoran pake sarung dan peci. Hehe.

Tulisan ini saya persembahkan dalam rangka memperingati Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU) Indonesia ke-94 Tahun. Saya lahir dan besar di keluarga NU. Bahkan rumah saya pun dikelilingi pesantren. Jadi kalau pulang ke rumah, malu sama Pak Kiai kalau tidak solat di masjid. *Jadi bukan malu karena Allah ya. Duh Adi…Adi…

Salam Literasi | Jurnal #28

 

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *