Jurnal #29 Klub Renang Kelas Sore++

Jurnal #29 Klub Renang Kelas Sore++

Waktu sepertinya sangat cepat sekali berlalu. Hingga kusadari yang ada hanya, aku dan kenangan. Meski teringat jelas…Lha itumah lirik lagu deh.

Tapi memang sungguh tak terasa sekali ya, sekarang sudah menginjak tanggal 1 Februari 2020. Namun Jurnal ini masih menyisakan tiga tulisan lagi. Karena harus komitmen pada diri sendiri, maka saya harus menyelesaikannya—meskipun tak tepat waktu.

**

Pada jurnal kali ini, saya ingin bercerita tentang sebuah klub olahraga binaan ITB, yang kerap latihan di kolam renang Saraga. Namanya Klub Renang Kelas Sore. Sesuai namanya, anggota klub renang ini rajin latihan saat sore aja karena kalau pagi takut item. Karena sama sekali tidak diproyeksikan jadi atlet atau berprestasi atau untuk lomba, maka anggota klub ini latihan renangnya gimana mood dan kondisi cuaca. Juga latihannya hanya seminggu sekali doang.

Saat ini anggotanya baru enam orang. Terdiri atas dua laki-laki, dan empat perempuan. Kok sedikit? Karena memang klub ini baru dibentuk akhir November 2019 lalu atas dasar semangat hidup sehat dan ingin kurusan. Klub ini pun hanya merektur anggota yang tuna asmara, dan senang main. Ibu-ibu dan bapak-bapak gak bisa jadi anggota, kecuali anak-anaknya, itu baru boleh.

Awal mula dibentuk, klub ini memang sangat fokus untuk melatih kemampuan berenang. Salah satu anggotanya bahkan kini sudah bisa menaklukan ganasnya kolam renang Saraga (yang katanya berstandar internasional). Namun akhir-akhir ini, Klub Renang Kelas Sore nampaknya bukan hanya sekedar klub olahraga semata, tapi juga sebagai klub makan-makan dan “diskusi”. Makanya saya memberi judul “Klub Renang Kelas Sore++”.

Wajah-wajah kelelahan setelah latihan berenang. Eh kok ini mah pada cerita ya, salah foto gitu?

Jika selesai latihan renang, biasanya klub ini suka kulineran. Menu favorit para anggotanya adalah makan Bebek Goreng Kaleyo. Lalu tema diskusinya yaitu seputar urusan kantor, makanan, film, orang, percintaan, dll. Pokoknya sangat produktif sekali jika sudah masuk sesi diskusi, bahkan berjam-jam hingga tempat makannya close order. Meskipun di akhir diskusi, jarang menghasilkan konklusi berfaedah.

Saya sebagai anggotanya memahami, kenapa klub ini senang sekali diskusi, bahkan berjalan alot dan seperti malas untuk udahan. Bisa jadi mungkin karena anggotanya tidak memiliki tempat bertukar cerita, sehingga segala hal ditumpah ruahkan pada saat itu. Jadi diskusinya pun sangat meriah. Rahasia-rahasia terungkap, meskipun ada saja yang belum terbuka dan jarang bercerita.

Benar kata Aristoteles, manusia adalah zoon politicon, senang berkumpul dan berkelompok. Karena manusia adalah mahluk sosial itulah mengapa dia sangat butuh berinteraksi, dalam hal ini berkomunikasi dan berdiskusi.

Inilah wajah-wajah para anggotanya.

Meskipun diskusinya sering ngaler-ngidul, kesana kemari, gak jelas, tak berjudul, tapi selalu ada pesan yang bisa dibawa pulang. Kalau yang saya tangkap, pesan itu misalnya tentang bagaimana memahami orang lain, pentingnya kejujuran dan saling terbuka, dan tentu saja jadi pendengar yang baik ketika orang bercerita.

Sejujurnya, saya sangat suka dengan mereka. Orang-orangnya mengasyikan. Terus masing-masing dari mereka punya karakter berbeda, ada yang introvert, berkerpribadian ganda, garing kalau bercanda, pecicilan, aneh, polos, dan narsis.

Tapi saya yakin, lambat laun, topik diskusi bisa jadi akan menjenuhkan dengan orang yang sama. Maka dari itu, sepertinya Klub Renang Kelas Sore++ ini perlu merekrut anggota baru. Siapa tahu dia punya informasi baru, juga hal-hal menarik untuk diperbincangan, dikupas secara tajam, setajam singlet. Eh silet.

Salam literasi, mari berdayakan diskusi | Jurnal #29

 

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *