Jurnal #3: Kuliah dan Bekerja

Jurnal #3: Kuliah dan Bekerja

Bukan perkara mudah untuk melakukan dua aktivitas secara bersamaan. Misalnya kuliah dan bekerja. Sebab selalu ada yang harus dikorbankan. Saat itulah kemampuan menentukan skala prioritas dipertaruhkan.

Keluar dari zoman nyaman tentu bukan sebuah keputusan keliru. Justru itu akan memacu diri pada tantangan demi tantangan baru. Seperti kata seorang senior, semakin banyak masalah yang kita hadapi, maka kita akan semakin terasah mencari jalan keluarnya. Membuat kita tidak mudah panik, apalagi sampai mencari jalan pintas di luar nalar.

Tuntutan pekerjaan dan kuliah akan berat jika harus dipikul secara bersamaan. Tubuh manusia punya keterbatasan. Tapi ingatlah, Tuhan menciptakan masalah sepaket dengan solusinya. Bahkan itu akan jauh terasa lebih ringan jika kita memahami manajemen konflik dengan baik. Seni memecahkan masalah, begitu kaum aktivis menyebut.

Hal itu pula yang mungkin tengah dirasakan perempuan mungil berkacamata ini. Pagi hingga sore harus bekerja, malam nugas sampai larut. Dia hampir lupa caranya bahagia, atau pergi liburan bareng sahabatnya. Jika tak punya mental kuat, di tengah jalan mungkin ia sudah pasti akan menyerah dan balik badan. Tapi dia ternyata mampu bertahan, bahkan memotivasi saya untuk mencoba hal tersebut.

Don’t judge a book by the cover. Ungkapan tersebut cocok disematkan pada Citra ini. Dia tak mencirikan seorang akademisi yang bicaranya penuh teori meskipun kini title-nya adalah mahasiswi magister. Tapi jangan salah, saban hari, pikirannya selalu terbagi dua di kala jam istirahat tiba: pergi makan atau ke perpus mengerjakan tugas.

Menyelami alam ide seorang Citra lewat beberapa pertanyaan yang saya ajukan di kala senggang urusan kantor, ternyata cukup menarik juga. Dia bercerita bahwa kuliah memberikan kebahagiaan tersendiri baginya sebab ada hal baru yang akan dikerjakan selain rutinitas kantor yang menjenuhkan. “Seperti me-refresh pikiran,” begitu katanya.

Kenapa memberikan kebahagian? Karena akan bertemu dengan orang berbeda dengan latar belakang beragam. Ditambah lagi, tugas yang dikerjakan berhubungan dengan penelitian. Artinya kita perlu memutar otak lebih keras agar bisa membuat sebuah karya yang original dan layak masuk jurnal. Dia pun banyak belajar bagaimana menganalisis masalah dengan mencocokkannya pada teori di buku-buku. “Kuliah S2 itu lebih banyak aplikasi pada teori, beda dengan S1 yang lebih cenderung praktik,” ungkapnya bak dosen menjelaskan.

Jika kebanyakan orang ingin kuliah untuk mencari ilmu dan menambah gelar di belakang nama, Citra berbeda. Motivasinya justru karena artis favoritnya asal Korea harus wajib militer dua tahun, sehingga sebagian rutinitasnya untuk ‘ngepoin’ artis tersebut hilang. Ia pun kurang kerjaan lalu memutuskan untuk kuliah.

Sedikit kurang masuk akal? Memang begitulah dia. Terkadang dia menjelma anak komplek yang manja, tapi kadang dia berubah jadi perempuan cekatan dalam urusan kantor dengan tanggung jawab berat di pundaknya.

Di balik tantangan selama proses menjalaninya, kuliah dan bekerja menurutnya punya keuntungan tersendiri. Sebab setiap materi yang dipelajari bisa langsung dihubungkan dengan kondisi di lingkungan kerja. Lebih applicable kata Citra.

Apalagi dia mengambil jurusan komunikasi dan pekerjaanya pun berkaitan dengan hubungan masyarakat. Sehingga materi di kelas akan lebih cepat terserap. Dia pun tak perlu susah-susah mencari studi kasus untuk proposal penelitiannya kelak, karena di lingkungan kerjanya pun banyak objek penelitian yang bisa diangkat.

Tapi cerita berbeda hadir dari tempat lain. Ternyata, tidak semua orang yang kuliah dan bekerja sukses melewati tantangannya. Ada yang memutuskan untuk cuti karena selalu bentrok antara urusan kuliah dan pekerjaan. Dua-duanya penting, tapi mungkin pekerjaan lebih utama demi pemenuhan kebutuhan dasar. Itulah resiko yang akan dihadapi. Teman saya mengalaminya dan dia kini berhenti kuliah.

Maka dari itu, jika di antara sahabat hendak berencana melanjutkan kuliah sambil bekerja, pikirkan lagi matang-matang. Urusan budget mungkin bisa dicari, tapi kemampuan diri untuk mengerjakan dua aktivitas berbedalah yang sulit. Bagi yang ingin keluar dari zona nyaman, tak ada salahnya untuk mencoba menceburkan diri dengan urusan akademik lagi. Dan saya merasa tertantang akan hal itu.

Di antara kalian mungkin punya persfektif lain soal kuliah dan bekerja? Silakan berbagi di kolom komentar. Terima kasih.

Salam literasi

Jurnal #3

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *