Jurnal #30 Lari Maraton, antara Ujian Fisik dan Mental

Jurnal #30 Lari Maraton, antara Ujian Fisik dan Mental

Lari saat ini tengah menjadi olahraga yang cukup populer. Hampir setiap bulan, selalu ada event lari dengan peserta mencapai ribuan. Terbaru, salah satu acara lari yaitu Pocari Sweat Run Bandung 2020 bahkan tiketnya ludes habis untuk 11.000 peserta hanya dalam waktu 59 menit!

Biasanya, acara lari tersebut meliputi beberapa kategori. Mulai dari 5K, 10K, Half Marathon 21K, Full Marathon 42K, bahkan ada yang 200K. Selain rute biasa, ada pula acara lari yang lebih menantang yaitu Trail Run.

Saya pribadi pernah mengikuti event lari untuk kategori 5K dan Trail Run 18K. Belum banyak ajang yang diikuti karena memang baru menggandrungi olahraga tersebut setahun kebelakang. Awalnya saya hanya lari untuk kebugaran diri sendiri, tapi ternyata kesini-sini, seru juga ikut event lari apalagi yang bergengsi seperti Pocari Sweat Run, Bali Marathon, Borobudur Marathon, atau ITB Ultra Marathon 200K, dan banyak lagi.

Menurut beberapa teman, tantangan terbesar ikut event lari adalah berpartisipasi untuk kategori half marathon dan full marathon. Ujiannya bukan hanya soal fisik, tapi juga mental. Mendengar hal itu, tentu membuat saya penasaran, tantangan mental apa sih yang dimaksud. Bukannya lari itu yang paling penting adalah faktor fisik dan endurance ya?

Dari situlah awal mula saya sering latihan dan meningkatkan kemampuan berlari. Sesuai anjuran teman dan juga beberapa artikel yang pernah dibaca, untuk meningkatkan level belari haruslah bertahap, tidak boleh sekaligus sebab khawatir bakal rentan terkena cedera. Saking semangatnya, dalam seminggu dengan jeda selang sehari, sehabis solat subuh, saya selalu menyempatkan waktu lari keliling kosan dengan rute berubah-ubah.

Mengapa setelah subuh sih, apakah gak terlalu kepagian, Di? Emang sih lari jam segitu langit masih benar-benar sangat gelap hehe. Mau bagaimana lagi, alasan terbesarnya adalah karena jam masuk kantor yang super pagi yaitu pukul 07.15 WIB.

Kenapa tidak lari sore atau malam saja? Emm. Saya pribadi kurang suka. Alasannya karena faktor udara yang kurang segar, tubuh sudah lelah bekerja, dan males mandi malam karena tidak ada air hangat, maklum anak kosan ☹

Ujian Mental Lari Half Marathon

Karena sudah rutin lari pagi dengan average distance antara 5K-10K dan average pace 5-6 menitan, maka saya memutuskan untuk mencoba lari half maratahon pada Sabtu, 1 Februari 2020 kemarin. Padahal malam sebelumnya ngopi dulu sama teman, dan tidur agak malam.

Rute yang saya ambil adalah start dari Jl. Tamansari (Baltos) naik ke flyover Pasupati – turun ke Jl. Cihampelas – Jl. Wastukencana – Jl. Riau – Jl. Banda – Jl. Aceh – Jl. Tamanpramuka – Jl. Riau menuju Jl. Ahmad Yani – belok kiri menuju Jl. Supratman – Jl. Diponegoro – Gasibu/Gedung Sate – Jl. Ir. H. Djuanda (Dago ke atas) – Jl. Siliwangi – Masuk ke Jalan Ganesa dan mengeliling kampus ITB – kembali ke Jl. Siliwangi – Jl. Dago bawah – dan kembali ke Jl. Tamansari (melewati tugu sarjana Unisba) – finish di Baltos lagi.

Rute tersebut sebetulnya pas 21K jika, namun yang terekam hanya 20K. Record by Nike Run Club App.

Saya berhasil menyelesaikan misi half marathon tersebut dengan durasi 2 jam 5 menit dan pace 6.15 menit per kilometer. Catatan yang apik untuk orang yang baru pertama kali menjajal half marathon.

Lalu bagaimana kesannya? Apakah terbukti ujian mental dan fisiknya?

Saya telah membuktikan sendiri, memang benar apa yang dikatakan teman saya, lari marathon itu ujiannya bukan hanya soal fisik tapi juga mental.

Bayangkan, saya berlari 2 jam nonstop, tentunya sambil sesekali berhenti karena butuh waktu untuk minum. Ujian terberatnya adalah setelah memasuki 10 kilometer. Jarak tersebut adalah jarak normal saya berlari dan itu pun butuh usaha untuk menyelesaikannya. Ini masih tersisa 11 kilometer lagi. Hadeuuh.

Saat itulah mental berbicara. Terutama di tengah kaki yang sudah mulai berat, betis dan lutut mulai panas, dan juga telapak kaki yang pegal menjadi tantangan berikutnya. Jika nurut sama emosi, ingin rasanya segera menyudahi latihan tersebut, atau jalan kaki sajalah. Ngapain capek-capek, Adi!

Saat itu saya lari sendiri. Jadi keputusan untuk berhenti sangat-sangat-sangat mungkin terjadi. Mungkin akan beda cerita jika ada teman yang menemani, setidaknya bisa saling memotivasi.

Namun disinilah mental diuji. Saya harus teguh pendirian untuk tetap melanjutkan lari karena saya yakin, fisik saya kuat. Semua gelisah tadi hanyalah godaan saja. Itulah yang selalu saya ucapkan di kepala sebagai cara memotivasi diri sendiri.

Bagi saya, musik sangat berperan penting untuk mengalihkan pikiran agar tidak stress. Namun masalah selanjutnya saat itu adalah handset yang saya pakai bukan untuk olahraga, jadi sering lepas dan itu mengganggu sekali. Serius! Jadi kalau ingin lari pakai headset, mending beli khusus buat olahraga, karena headset biasa itu sangat tidak direkomendasikan sekali.

Lewat 15 kilometer. Ujian selanjutnya datang. Kaki mulai sakit dan pegal-pegal. Apalagi jika lari di jalan raya, kadang jalur larinya selalu tak terduga, mulai dari jalan yang tak rata, trotoar kecil dan berlubang-lubang. Sementara jika lari di pinggir jalan takut ketabrak mobil/motor. Ribet emang. Tapi kalau lari di track khusus seperti Saraga dan Gasibu, lebih bosen karena itu-itu aja pemandangannya.

Kemudian, ketika sudah memasuki 18 kilometer atau 19 kilometer ujian mental biasanya sudah lewat. Itulah yang saya rasakan. Pikiran sudah lebih ringan. Ini artinya kita sudah lolos ujian mental dan fisik berlari. Setelah itu, biasanya menuju 21K atau garis finish (jika sedang lomba) tidak akan terasa. Akhirnya selesai jugaaaaa.

Usai itu semua, saya sendiri suka tidak menyangka telah berhasil menyelesaikan half marathon. Kemudian timbulah perasaan senang dan ketagihan ingin mencoba lagi. Namun tidak mau sendiri, setidaknya ada teman biar ada cerita berbeda lain kali mah.

Pentingnya Cooling Down

Jika sudah lari dengan jarak cukup jauh, sangat penting sekali untuk proses cooling down atau pendinginan. Jangan langsung duduk, ini tidak baik. Kita harus melakukan gerakan-gerakan yang memang dikhususkan untuk pendinginan. Seperti apa gerakannya, bisa dilihat di Youtube untuk detilnya. Karena jika tidak, kaki akan rentan keram.

Selain itu, penting pula untuk minum yang banyak agar mengembalikan cairan tubuh. Biasanya setelah lari jarak jauh, perut suka sedikit lapar, nah jangan langsung makan makanan berat, lebih baik makan pisang, buah-buahan, makanan manis seperti coklat, atau makanan yang direbus-rebus. Tunggu beberapa jam barulah makan yang berat.

**

Itulah sharing pengalaman saya saat mencoba half marathon. Jadi intinya jika ingin lari jarak jauh, tiga hal ini sangatlah penting untuk diperhatikan:

  1. Latihan
  2. Kondisi fisik
  3. Mental

Di antara ketiga hal tersebut, kondisi mental sangat berperan penting saat berlari.

Poin penting lainnya, karena lari adalah salah satu olahraga yang sangat bagus untuk kebugaran, maka akan banyak sekali manfaat yang bisa dirasakan oleh kawan-kawan.

Pertama tubuh lebih sehat;

Kedua tubuh lebih segar dan fresh; dan

Ketiga karena kondisi tubuh sedang sehat, pikiran lebih fresh, dan mental yang baik, makanya suka lebih produktif dalam beraktivitas.

 

Sekian. Salam Literasi, salam olahraga | Jurnal #30

 

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *