Jurnal #32 Mendadak Mendidik di Tengah Pandemi

Jurnal #32 Mendadak Mendidik di Tengah Pandemi

Seperti kita ketahui bersama, setelah COVID-19 ditetapkan sebagai pandemi global, banyak aktivitas masyarakat yang mengundang massa ditiadakan. Imbas dari virus yang pertama kali dikabarkan muncul di Wuhan, China, ini juga terjadi pada aktivitas belajar-mengajar di sekolah maupun perguruan tinggi. Bukan diliburkan, akan tetapi kegiatannya dialihkan dengan belajar di rumah memanfaatkan fasilitas teknologi dan informasi saat ini.

Akan tetapi, apakah proses pembelajaran secara daring tersebut tetap efektif dilaksanakan di tengah situasi seperti ini? Berikut ini adalah kondisi riil yang dialami seorang ibu rumah tangga bernama Bu Nurul yang anaknya harus belajar di rumah selama sebulan gara-gara COVID-19.

Orang Tua dan Guru, Apa Bedanya?

Beruntungnya di era kecanggihan teknologi dan informasi seperti sekarang ini, telah memudahkan Bu Nurul dalam melaksanakan kegiatan belajar meskipun di rumah. Bu Nurul pun melakukan hal yang sama dengan orang tua pada umumnya: memanfaatkan fasilitas internet sebagai media belajar. Tentu saja dengan tetap mengacu pada intruksi atau tugas dari guru yang disampaikan melalui grup WhatsApp.

Masalah muncul tatkala anaknya yang baru masuk kelas 1 SD itu dihadapkan pada tugas setiap hari. Sehari, dua hari, seminggu, mungkin anaknya tetap semangat mengerjakan setiap tugas yang diberikan. Namun bagaimana jika aktivitas tersebut dilakukan selama berbulan-bulan, bahkan kini akan menginjak dua bulan, rasa malas dan bosan pun muncul. Tidak hanya pada anak, tapi pada Bu Nurul juga. Belum lagi, materi pelajarannya kurang cocok untuk ukuran anak SD.

“Ya masa anak kelas 1 SD disuruh mengisi teka-teki silang, jumlah soalnya juga terlalu banyak, ya mana ngertilah. Pada akhirnya, kita orang tua yang membantu mengisi jawabannya,” keluhnya.

Bagi seorang anak, belajar di rumah dan belajar di sekolah sangatlah berbeda suasananya. Karena saking “bebasnya” belajar di rumah, anak merasa bahwa itu seolah-olah bukan belajar. Hanya mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah saja dari gurunya. Beda jika ke sekolah, ia akan memakai seragam, membawa tas, memakai sepatu, bertemu teman-temannya, diberi uang jajan, dan yang penting ia akan belajar dengan gurunya mau tidak mau. Sementara di rumah, anak terkadang malas bahkan bandel untuk mengerjakan tugasnya. Inginnya, ya main sama nonton televisi.

program belajar di rumah kemendikbud dan tvri
Jadwal tayangan televisi program belajar di rumah dari Kemendikbud bekerja sama dengan TVRI. (Foto: Kemendikbud.go.id)

Sebagai seorang ibu rumah tangga, Bu Nurul pun menyadari itu. Menurutnya, anak yang bersekolah setiap pagi sampai siang membuat dirinya lebih leluasa untuk melakukan aktivitas lainnya seperti memasak atau mengurus rumah. Apalagi dia memiliki seorang bayi berusia satu tahun yang juga harus diurus dan diawasi setiap saat. Sehingga kondisi saat ini menyulitkan bagi Bu Nurul tatkala harus mengajarkan anaknya materi sekolah, juga secara bersamaan merawat bayinya yang sedang masa-masanya super aktif itu. Sementara suaminya harus mencari nafkah untuk kebutuhan dapur.

Oleh karena itu, secara jujur Bu Nurul menyampaikan, belajar di rumah kurang efektif untuk ibu rumah tangga seperti dirinya. Tapi apa mau dikata, situasi seperti ini memaksanya harus bertahan selama beberapa minggu bahkan bulan ke depan sampai pandemi ini berakhir.

Namun ia sadar betul, jika mengajarkan materi sekolah sulit disampaikan dengan baik, makanya selama di rumah anaknya diajarkan tentang materi non-formal seperti bagaimana berakhlak dan berbudi pekerti yang baik selama di rumah. Anak pertamanya itu sesekali diberi tugas menjaga adiknya, membantu memasak, beli bahan-bahan dapur ke warung, juga karena ini bulan Ramadhan anaknya diajarkan berpuasa dan ibadah lainnya.

Dari kondisi tersebut saya menyadari, kendati ada ungkapan orang tua adalah guru pertama dan guru sepanjang hidup bagi seorang anak, mungkin itu berlaku pada aspek moral dan ahlak. Untuk urusan materi pembelajaran, peran guru di sekolah tentu lebih berpengaruh. Makanya, terkadang suka ada ‘kan anak guru tapi tak lebih pintar dari anak orang biasa (?).

“Kalau anak diajarkan pelajaran sama orang tuanya, ya resikonya suka bandel. Kalau sudah bosan dan malas, pastinya lebih capek untuk mengajaknya belajar. Lebih menguras energi. Beda kalau sama gurunya, pasti lebih nurut karena takut rankingnya kecil atau nilainya jelek,” tuturnya.

Lalu Bagaimana?

Saya sendiri tak memahami teori-teori tentang pendidikan. Akan tetapi jika melihat UU No. 20 tahun 2003, tujuan pendidikan kita adalah selain mencerdaskan, juga harus menghasilkan out put berupa sumber daya manusia yang berakhlak, berbudi pekerti luhur, dengan berlandaskan pada Pancasila serta sejalan dengan nilai-nilai agama.

Mungkin kondisi pandemi COVID-19 telah menjawab tantangan pendidikan secara daring (ternyata bisa dilakukan). Namun demikian, efektivitas belajar di rumah belumlah cukup. Anak-anak tetap perlu berangkat ke sekolah, berinteraksi dengan teman-temannya, dan belajar dari guru formalnya. Bagi orang tua yang mendadak mendidik anaknya karena pandemi ini, perlu sadar juga untuk tidak menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan kepada sekolah. Peran orang tua juga penting dalam hal ini, sebab sekolah tak selamanya dapat memenuhi ekspektasi kita, harus ada beberapa aspek yang “ditambal” oleh orang tuanya agar anaknya cerdas secara akal, juga cerdas secara emosional.

*Kalau Bu Nurul sendiri siapa ya? Ah itu hanya memberi nama lain selain Mawar.

 

Salam Literasi | Jurnal #32

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *