Jurnal #35 Lebaran Virtual

Jurnal #35 Lebaran Virtual

Untuk pertama kalinya saya tidak berlebaran di kampung halaman, di Cianjur selatan. Tahun ini, saya memutuskan untuk berlebaran di Cimahi, di kediaman kakak. Ini semua akibat pandemi Covid-19 yang memaksa saya tidak mudik.

Tapi lebaran kali ini juga menawarkan hal yang unik. Silaturahimnya hanya dengan video call. Saya menyebutnya lebaran virtual. Walaupun kurang afdol karena tidak bertemu langsung, setidaknya itu bisa melegakan kerinduan pada keluarga di kampung halaman.

lebaran virtual
Screenshot video call bersama keluarga. Foto: Adi Permana

Bayangkan jika situasi seperti sekarang terjadi di 20 tahun lalu, di mana jaringan internet sangat terbatas, telepon pintar pun belum ada. Komunikasi masih dilakukan secara konvensional: hanya suara telepon atau bersurat. Tentu kita tak bisa bersilaturahim jarak jauh semudah sekarang.

Karena pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah, “lebaran virtual” ini sedang banyak dikampanyekan agar orang-orang tidak mudik. Namun gairah mudik ini tetap kuat. Bahkan saya membaca berita ada satu mobil minibus yang nekat mudik dengan penumpang 15 orang. Kalau sudah jadi budaya sih memang berat, tidak bisa dihalang-halangi.

Makna Lebaran

Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri memang selalu dijadikan momentum untuk saling berbagi, silaturahim, dan bermaaf-maafan. Lantas semua itu bisa dilakukan secara virtual? Bisa. Sangat bisa. Karena kunci dari ketiga hal tersebut adalah pada ketulusan hati. Meskipun tak bertatap muka langsung, kita masih bisa berbagi lewat tranfer dan kirim makanan, meskipun tak bertatap muka langsung masih bisa saling video call, dan meskipun tak bertatap muka langsung kita tetap bisa saling maaf-maafan. Sekali lagi, kuncinya ada di ketulusan hati.

Saat salat ied di masjid tadi pagi, khotib juga menyampaikan hal yang sama. Bahwa, meskipun lebaran kali ini tidak ada halal bihalal, juga setelah selesai salat ied tidak ada musofahah bersama, maka kita tekadkan dalam hati bahwa kita telah saling memaafkan satu sama lain.

Karena saling memaafkan itu termasuk dari tiga kata ajaib: terima kasih, tolong, dan maaf.

lebaran virtual
Foto: Adi Permana

 

 

 

Selamat lebaran, minal aidzin walfaidzin.

Jurnal #35

Lebaran Virtual

 

 

Baca juga tulisan lainnya: Ramadhan di Tengah Virus Corona

Adi Permana

2 Comments

  1. Sisi positif lainnya dri lebaran virtual adalah tidak bnyak rumah yg dikunjungi sehingga makanan yg masuk lebih terkontrol agar tidak lebar-an ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *