Jurnal #36 Ibu Kami Bu Samitha

Jurnal #36 Ibu Kami Bu Samitha

Jika Bu Kartini mewariskan pesan perjuangan kepada perempuan untuk bangkit dalam memberikan peran, Bu Samitha mewariskan kami bagaimana cara memosisikan diri dalam setiap peran.

Sejatinya tulisan ini sudah masuk list sejak awal tahun ini yang rencananya akan diterbitkan berbarengan dengan jurnal tentang Pak Acah, Rektor ITB periode 2015-2020. Namun karena satu dan lain hal, tulisannya tertunda dan baru sempat saya rampungkan hari ini.

Baca juga: Jurnal #17 Pak Acah dan Harmonikanya

Persoalannya adalah, jurnal yang mengulas ataupun mengenang tentang seseorang itu tidak gampang, perlu penjiwaan. Seperti halnya membaca puisi, kita mesti menyatu dalam setiap sajak juga suasananya. Maka, pendalaman materi itu penting. Sayangnya, ide jurnal ini sudah ada sejak dulu, eksekusinya yang telat. Lalu idenya kabur, konsepnya bertebaran, kemudian tertunda begitu saja gara-gara tertindih jurnal lain dan cara-cara menulis SEO di blog.

Tapi tunggu, tertunda tidak sama dengan terlupakan ya Bu. Dengan segala kerendahan hati, Ibu tetap dan akan selalu ada di hati kami kok. Melupakan sosok Ibu tuh berat, seberat mengangkat tabung gas elpiji 50 kg sendirian hehe.

Mungkin kalian belum ada yang ngeh ya, kenapa kok saya menulis sudut pandang orang pertama bentuk jamak ‘kami’ dibanding menulis ‘saya’? Hal itu karena saya mencoba mewakili perasaan teman-teman di kantor lewat tulisan ini. Kalau tidak terwakili ya maaf, namanya juga usaha. Faizaa faragtafansab waila robbika farghob aja ya.

Ibu dan Pelajarannya

Bu Samitha ini adalah pimpinan saya di kantor. Nama lengkap beliau adalah Samitha Dewi Djajanti. Profil lengkapnya bisa dilihat di sini atau di sini. Ibu Ita, begitu beliau akrab dipanggil, masih memakai ejaan lama dalam namanya “Djajanti”, jadi sudah barang tentu para pembaca mafhum maksud saya apa ya.

Nah karena Ibu adalah bos saya, ini salah satu alasan lain kenapa saya sedikit segan waktu itu menuliskan jurnal tentang beliau. ‘Kan tidak lucu kalau-kalau esok hari dipanggil ke ruangan ibu secara pribadi gara-gara tulisan ini. Apalagi pembaca blog ini lumayan banyak lagi, yah bisa berkurang peluang saya untuk dapat restu beliau buat dapat “sponsor” untuk acara penting nanti hehe.

Tapi kini Bu Samitha sudah bukan jadi pimpinan saya lagi di Humas ITB. Beliau kini “go back home” sebagai dosen di kampus. Alasannya, karena beliau ingin fokus ngajar saja. Ya mungkin sebelum pensiun Ibu ingin benar-benar mengabdikan diri untuk mengajar, dalam rangka tujuan mulia: mencurahkan ilmu, mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi kami masih tetap sering menjalin komunikasi. Silaturahim tak terputus hanya karena jarak. Terakhir saling berkomunikasi bahkan sehari yang lalu.

Tahukah Anda, Bu Samitha ini dikenal sebagai sosok yang tegas dan galak. But in the right place and time pastinya. Ibu itu sangat pandai harus berbuat dan bertindak apa jika sedang bertugas. Ia selalu ingin segala sesuatu berjalan sesuai rencana. Makanya tatkala hendak membuat acara kantor, harus dipikirkan dan dipersiapkan dengan matang. Jiwa perfectionist ibu ini yang sangat berperan penting dalam kelancaran dan kesuksesan acara. Dalam pandangan saya, Ibu juga sosok yang teliti, bahkan satu huruf yang di mata anak muda seperti saya seringkali terlewat, ibu bisa ngeh ada yang kurang tepat.

Teliti itu sulit, itulah ilmu penting yang saya dapat dari ibu. Nah, ini juga menjadi masukan penting bagi saya kalau menulis. Jangan asal nulis, perhatikan juga struktur kalimatnya, datanya benar atau tidak, konteksnya sesuai apa tidak, sudah bebas dari typo belum? Kalau aman ya baru bisa kita publish dan sebar semasif mungkin.

Surprise Ulang Tahun

Jika berbicara sosok ibu, saya selalu teringat tatkala hari ulang tahun saya. Sebagai informasi, di kantor kami selalu ada semacam budaya untuk mengapresiasi seseorang dengan merayakan hari ulang tahunnya. Syukurannya simpel, hanya potong kue atau paling mewah juga makan-makan. Hal sederhana, tapi mampu mempererat kekeluargaan. Saat itu di tahun 2019, tiba-tiba saya diminta datang ke ruangannya. Waktu itu masih segan dan jarang ngobrol sama Ibu, ya jadinya tegang dong. Mana ditanya soal kerjaan lagi. Tapi sejumput kemudian, kejutan datang dengan kue ulang tahun yang diiringi nyanyian “Selamat Ulang Tahun” dari teman-teman kantor. Terharu sekali waktu itu. That was the best moment that I never forget in my life!

Ulang tahun berikutnya bahkan diucapkan sama Pak Acah walaupun timing-nya agak kurang pas karena saya keburu hendak pulang. Tapi tak apa, kemeriahannya dialihkan waktu farewell di kediaman Pak Miming kok.

Momen lainnya yang lebih eksklusif dengan Ibu adalah saat beliau mengajak saya dan Amalia–teman kantor, makan nasi padang di Simpang Raya di Jalan Dago. Waktu itu sehabis maghrib, karena memang kami sedikit lembur. Ajakan Ibu tentu saja diiyakan berhubung belum makan malam juga soalnya. Dalam pertemuan informal itu, tentu saja topiknya bukan urusan kantor. Kami bercerita banyak hal ihwal personal. Seru! Sampai saya nambah nasi dua kali. Kalau ada kesempatan lain, ingin lagi sih, bukan makan gratisnya ya lebih ke ngobrol bareng ibunya. Karena dari cerita pribadi, banyak hal bisa kita diserap, kita ambil ibrohnya.

perpisahan bu samitha
Foto bersama setelah perpisahan dengan Bu Samitha.

Ya tentu saja jika berbicara kenangan, pasti banyak sekali. Sulit apabila harus ditulis satu persatu. Setidaknya, kini meskipun sudah tidak sekantor, dan “anak-anak” ibu sebagian ada yang hijrah ke tempat lain, silaturahim tetap terjalin. Ibu pun sesekali masih terbuka menampung cerita kami, tentunya dengan tetap memosisikan diri dalam peran masing-masing.

Salam Literasi | Jurnal #36

 

Baca juga jurnal lainnya…

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *