Jurnal #37 Guruku Miss K

Jurnal #37 Guruku Miss K

Jikalau YouTuber Guruku Mr. D jago bahasa Inggris karena dia seorang native speaker, Guruku Miss K ini jago matematika. Juga sedang belajar menjadi native speaker.

Belajar bisa dari siapa pun. Termasuk belajar menghitung. Guruku Miss K ini sangat tertarik dengan matematika yang bagi sebagian orang memusingkan, tapi baginya menyenangkan. Hitung-menghitung adalah dia, dia adalah apa yang ada dalam hitung-menghitung. Kesenangan akan menghitung itu bisa ia rasakan tatkala bisa menyelesaikan suatu persamaan.

Dari Guruku Miss K, saya menangkap pesan, bahwa memecahkan masalah matematika ibarat memecahkan masalah hidup. Seperti halnya menyelesaikan suatu persamaan, kita harus mengerti dulu apa persoalannya, apa yang ditanyakan, baru kita bisa dengan tepat menggunakan rumus yang sesuai.

Rumus-rumus di matematika itu banyak. Saya tidak hafal satu-satu. Tapi setiap rumus punya peruntukkannya masing-masing sesuai dengan masalah dan pertanyaannya. Maka, setiap persoalan hidup juga mesti diselesaikan dengan caranya masing-masing.

Lalu siapakah Guruku Miss K ini yang begitu memengaruhi saya sehingga membuat jurnal tentangnya?

Jika kalian menyimak dari judul, dia adalah seorang guru, guru matematika. Saya mengenal perempuan yang juga hobi lari ini karena kerap muncul di media sosial saya dengan postingan aktivitas lari, yang tentu saja menarik perhatian saya sesama pegiat lari juga.

Kami kenal lewat media sosial. Instagram menjadi jembatan silaturahim kami. Meskipun, kami tetap saling skeptis satu sama lain, siapa tahu salah satu di antara kami ini penjahat, ‘kan bisa saja demikian? Maaf jika berlebihan. Sebab di media sosial, orang-orang pandai membentuk personal branding-nya masing-masing yang tidak sesuai dengan realitanya. Di media sosial kita bisa menjadi siapa saja yang kita kehendaki, yang itu muncul dari segala sesuatu yang kita unggah dan tulis. Saya tidak mau jadi korban media sosial, begitu pun dia. Maka wajar kalau kami saling skeptis.

Jika saya pantau dari media sosialnya, Guruku Miss K ini punya paket komplit untuk urusan hobi dan skill. Dia hobi lari yang menunjukkan peduli pada kesehatan dirinya sendiri. Dia senang belajar hal baru yang menunjukkan kesadarannya bahwa hidup itu untuk belajar dan mengenal hal baru, setiap waktu. Dia juga kerap membahas topik keagamaan yang menunjukkan seseorang yang merawat imannya dengan baik. Bagi saya, hobi dan skill dia sebagai manusia sudah cukup komplit untuk dapat mengarungi hidup. Paket komplit saya tak seperti tetangga sebelah.

Agaknya berlebihan juga jikalau saya menyebut Guruku Miss K ini sebuah kesempurnaan. Banyak sekali kekurangan dari dirinya. Dalil itu pun berlaku untuk saya, juga manusia pada umumnya: kesempurnaan hanya milik Tuhan. Agaknya kurang ajar juga jikalau saya mengomentari kekurangannya tersebut, tanpa sedikit pun belajar menerima perbedaan dan memahami ketidaksempurnaan. Maka dari itu, bersyukur adalah hal yang harus dilakukan manusia untuk tidak sombong atas kelebihannya, juga tidak rendah diri atas kekurangannya.

Pernah suatu waktu, Guruku Miss K menanyakan hal yang serius dan personal kepada saya. Saya jawab saja dengan terbuka dan jujur. Saya tak punya sesuatu yang mesti ditutup-tutupi ataupun dilebih-lebihkan. Saya, ya begini adanya. Maka tatkala saya jawab pertanyaan tersebut, dia sedikit heran dan shock. Padahal maksud saya sederhana. Katanya, pertahanannya seakan mau roboh. Dalam hati saya, memang kita sedang menjalani Perang Dunia ke-3?

Oh, lambat laun saya baru faham, pertahanan yang dia maksud adalah komitmen dan rencana hidupnya. Sebagai seorang pembelajar–karena tuntutan profesi juga, mengharuskan dia harus meng-upgrade keilmuan dan syarat-syarat administratif yang melekat kepada profesinya. Saya begitu menyambut baik. Sebab, saya juga sedang merencanakan hal serupa untuk meng-upgrade pengetahuan–yang imbasnya dapat mengangkat derajat kita sebagai manusia, sebagaimana disebutkan dalam Al-Mujadalah:11. Dia juga punya target lain, begitu pun saya.

Maka, selayaknya sebagai seorang teman, kami sama-sama saling mendoakan atas “benteng pertahanan” kami tersebut.

Kami juga mempunyai satu kesukaan yang sama: bahasa Inggris. Belajar bahasa baru memang sangat menyenangkan dan punya ragam manfaat. Setidaknya, jika kami gagal menjalin komunikasi dengan menggunakan bahasa ibu, kami bisa meminjam istilah dari bahasa “asing” untuk menjelaskan segala keterasingan masing-masing.

guruku mrs k

Salam Literasi
Jurnal #37

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *