Jurnal #38 Corona dan Cerita tentang Layangan

Jurnal #38 Corona dan Cerita tentang Layangan

Pada Jurnal ke #38 ini saya ingin bercerita tentang Corona dan Cerita tengang Layangan.

Pandemi Covid-19 membuat orang-orang bosan karena harus di rumah saja. Untungnya, sekarang sudah mulai masuk musim kemarau. Bermain layang-layang setidaknya bisa menjadi aktivitas pelipur lara di tengah pandemi.

Itu pula yang dilakukan keponakan saya. Setiap hari bermain layang-layang, tak peduli panas, tak peduli lapar. Sampai-sampai, ibunya dibuat terpesona melihat perubahan warna kulit anaknya dari hari ke hari. Yasudahlah, yang penting tidak main game terus, begitu katanya.

Itu juga yang dialami saya di kampung halaman dulu, ketika masih kecil, saat telpon pintar dan internet belum merubah kebiasaan hidup orang-orang. Setiap sore di musim kemarau, di pelataran sawah yang menghampar luas, bermain layangan adalah kegiatan yang amat mengasyikan. Meskipun tak selalu punya uang untuk beli layangan dan gelasan untuk ngadu layangan, anak-anak bisa berburu layangan putus.

Ngadu adalah istilah Sunda untuk bertarung, dalam konteks bermain layangan adalah untuk dua orang yang sedang beradu layangan. Tujuannya untuk menguji kekuaran benang/gelasan siapa yang paling kuat.

Gelasan adalah istilah untuk benang bertekstur kasar, yang dipakai untuk ngadu layangan.

Betul, dalam permainan layangan, ada yang berperan sebagai pemain juga ada yang bertindak sebagai pemburu. Pemain ini disematkan kepada dia yang punya layangan dan sedang ngadu dengan pemain lain di langit. Sementara pemburu adalah dia yang tidak punya layangan, maka dia kerjanya hanya memantau dan melihat, kalau ada layangan kalah dan putus, ya harus tancap gas dikejar dan bersaing dengan pemburu lain.

bermain layangan-adipermana
Di kota main layangan lebih sulit karena sudah jarang lahan terbuka. Kecuali di atap rumah, itupun mesti lolos dari semrawutnya kabel listrik. (Foto: Adi Permana)

Oleh karena itu, dulu anak-anak di kampung saya sangat jago lari. Karena memang kegiatan setiap sore mengejar layangan putus—bahkan tak beralas kaki. Apalagi, lari di tengah sawah kering bekas panen itu sulit, tanahnya keras dan retak. Kalau tidak cekatan, kaki bisa tijalikeuh masuk ke rekahan tanah. Justru, di situlah seninya bermain layangan, kita tetap bisa menikmati permainannya meskipun tidak memiliki layangan.

bermain layangan-adipermana
Tua muda juga senang bermain layangan. Sayang sekali jika masa kecil kalian tak bisa merasakan keseruannya. (Foto: Adi Permana)

Tetapi anak-anak sekarang berbeda. Kalau layangan putus, ya tinggal beli lagi yang baru. Semudah itu. Berbeda dengan saya dan kawan-kawan sebaya saat kecil, jika tidak punya layangan maka harus berburu agar bisa dapat giliran bermain. Beberapa kali bahkan saya sering buat gelasan sendiri dengan menghaluskan kaca dan ditempelkan ke benang.

Sekarang saya baru menyadari, ternyata keterbatasan membuat saya kreatif sejak kecil. Keterbatasan membuat saya kudu berpikir dan berusaha untuk meraih apa yang diinginkan. Sebab, tidak selamanya uang dapat membeli kebahagian, uang juga tak selalu jadi solusi atas suatu masalah, bahkan tak punya uang pun kita bisa membuat cerita berkesan, sepeti cerita masa kecil.

Baca juga: Jurnal #37 Guruku Miss K

 

Salam Literasi

Jurnal #38

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *