Jurnal #39 Gugur di Medan Pandemi

Jurnal #39 Gugur di Medan Pandemi

Tenaga medis kembali berguguran. Sudah ada 38 dokter dan 17 perawat yang meninggal karena COVID-19. Mau sampai kapan para pahlawan di garda terdepan ini terus berguguran di medan pandemi?

Sementara itu grafik penyebaran COVID-19 belum juga turun—bahkan landai pun tidak, sampai hari ini (17/6).

Bahkan yang terbaru, satu lagi dokter meninggal akibat terpapar virus corona. Dia adalah dr. Deny Dwi Yuniarto, seorang dokter asal Madura yang menghembuskan napas terakhirnya pada Senin, 15 Juni 2020, pukul 03.00 WIB, yang sebelumnya dirawat di RS Universitas Airlangga Surabaya.

Penderitaan akibat COVID-19 ini juga dihadapi keluarga dokter tersebut. Istrinya kini tengah sakit—belum diketahui apakah positif COVID-19 atau tidak. Tetapi kerabatnya sudah dipastikan wafat karena COVID-19 sebelumnya. Yang menyebalkan dari kabar ini, di lain pihak masih ada yang menganggap virus ini tidak nyata, bahkan menyebutnya sebagai konspirasi elite global. Haduh apalagi itu.

Berita ini seharusnya menyadarkan kita semua, bahwa virus ini benar-benar nyata dan belum lenyap, masih hadir di tengah-tengah kita. Jika tidak waspada dan tak mengindahkan protokol kesehatan, mungkin tinggal menunggu giliran.

Coba bayangkan, bagaimana jika kita positif COVID-19? Siapa yang akan mengobati? Wong tenaga medis dan dokter sudah banyak yang berguguran. Apakah kita mau kondisinya sampai begitu? Maka dari itu, apa susahnya kita patuhi dan taati peraturan yang berlaku. Mudah-mudahan kita dijauhkan dari virus ini.

Selain soal berita bergugurannya para tenaga medis, saya membaca berita lain dari situs berita luar negeri. Bahwa virus corona kemungkinan akan berlangsung lama, pasang-surut infeksinya mungkin akan bertahun-tahun, sampai vaksin benar-benar ditemukan. Akan tetapi, meskipun nanti sudah ditemukan vaksin belum tentu juga kita mudah mendapatkannya. Sebab negara pembuatnya tentu memprioritaskan komunitasnya dahulu, baru yang lain. Ini semakin dilema, ditambah urusan konspirasi, makin ruwet jadinya.

Sementara itu, pembatasan sosial juga tak terlalu berdampak signifikan karena masyarakat yang sulit diatur. Kini sektor ekonomi mulai terkena imbasnya, banyak perusaan bangkrut, dan karyawan terkena PHK besar-besaran. Jika pembatasan sosial dibuka, akan semakin memperparah penyebaran. Angka kasus bisa semakin melambung, dan itu mulai terjadi sekarang ini yang sudah tembus lebih dari 1.000 kasus dalam sehari.

Menurut berita luar negeri tersebut, jika kondisnya seperti sekarang ini ada tiga cara untuk keluar dari pandemi ini. Pertama adalah vaksinasi, kedua cukup banyak orang yang memiliki kekebalan tubuh (herd immunity), dan ketiga mengubah perilaku manusia.

wearing mask ilustration-adipermanacom
foto: freepik

Dari ketiga solusi tersebut, yang paling efektif memang harus segera ada vaksin. Tetapi vaksin ini perlu waktu, setidaknya 12-18 bulan lagi. Yang paling memungkinkan untuk diterapkan adalah merubah perilaku masyarakat alias menjalankan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Itulah yang kini coba dilakukan pemerintah Indonesia.

Lalu bagaimana dengan solusi kedua? Belum bisa menjadi jaminan, sebab ada juga beberapa kasus yang reinfection setelah sembuh. Herd immunity pun perlu waktu, juga kesannya seakan kejam.

Meskipun kita menghadapi situasi dan kondisi berat, kabar gembira juga sudah ada. Beberapa negara mulai pulih, misalnya yang terdekat adalah Vietnam. Akan tetapi, mereka juga sedang was-was terhadap serangan gelombang kedua.

Sebab, Cina pun yang sudah pernah pulih dari COVID-19 telah muncul kasus baru. Sebagian masyarakatnya lalu dikarantina.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Tentunya kita harus optimis. Pandemi ini bisa kita lalui dengan kepatuhan dan merubah kebiasaan.

 

Salam Literasi

Jurnal #39

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *