Jurnal #40 Pengalaman Tes Masuk Pascasarjana Unisba

Jurnal #40 Pengalaman Tes Masuk Pascasarjana Unisba

Ini adalah cerita pengalaman saya mengikuti tes masuk Program Pascasarjana Unisba di tengah pandemi COVID-19.

Sabtu, 13 Juni 2020 adalah hari bersejarah bagi saya. Harus dibuat tulisannya, harus diabadikan ceritanya. Begitulah kira-kira pikiran saya waktu itu setelah mengikuti ujian tes online Pascasarjana Unisba, dan dinyatakan lolos pendaftaran gelombang I Tahun Akademik 2020/2021.

Saya kemudian menulis jurnal ini. Sebagai pengingat bahwa saya punya mimpi, dan bisa mewujudkannya.

**

Setelah lulus S1 pada 2016 lalu, saya pernah memiliki harapan untuk melanjutkan kuliah S2. Akan tetapi, realita berkata lain: dapat pekerjaan yang nyaman dan gaji layak pun sudah syukur.

Sebagaimana kalian ketahui, kuliah S2 akan sangat membutuhkan biaya yang tak sedikit. Sementara untuk mendapatkan beasiswa, saya pribadi kurang begitu optimis karena merasa tidak kompetitif. Alasannya karena kemampuan bahasa Inggris jelek, jarang belajar, dan terlalu sibuk mencari berita. Akhirnya harapan itu menguap begitu saja.

**

Namun, setelah beralih profesi dari jurnalis menjadi humas (public relations), harapan itu kembali muncul. Saya mulai mengejar ketertinggalan. Pertama, saya mengambil kelas bahasa Inggris di Kampung Inggris Bandung EPLC selama enam bulan. Saya belajar bahasa Inggris dari level awal, kemudian diakhiri dengan kelas speaking. Ternyata belajar bahasa asing itu tak bisa  instan, butuh proses. Maka dari itu saya terus mengasah kemampuan secara  mandiri dan ikut kelas TOEFL gratis.

Kedua, setelah belajar bahasa Inggris, ternyata hal tersebut berpengaruh terhadap pemahaman saya tentang bahasa Indonesia. Saya lalu tertarik menulis tentang bahasa yang dituangkan dalam blog. Bertitik tolak dari hal tersebut, kemudian menstimulus saya membuat blog ini, yang diisi dengan konten-konten menarik seperti para pembaca baca sekarang. Inilah yang menjadi salah satu personal branding saya.

Ketiga, pengaruh lingkungan. Saya termasuk pribadi yang tak mau kalah dalam bersaing dan dalam meningkatkan kemampuan–di bidang yang positif tentunya. Kebetulan, rekan-rekan di kantor banyak memiliki rencana untuk melanjutkan S2. Hal itu pula yang menjadi dorongan kuat saya untuk melanjutkan kuliah lagi.

Bagai sebuah mimpi. Saya tak menyangka hari itu, Sabtu 13 Juni 2020, akan menjadi perjalanan bersejarah dalam hidup. Saya melanjutkan kuliah ke jenjang pascasarjana, yang pernah saya impikan sejak lulus S1 empat tahun lalu.

Memilih Pascasarjana Unisba tentu sudah melalui berbagai pertimbangan, survei, dan konsultasi kepada beberapa orang.

Alasan pertama adalah saya ingin melanjutkan studi yang linear di bidang ilmu komunikasi. Kedua, saya belum bisa mendapatkan beasiswa sehingga harus kuliah sambil bekerja. Dan ketiga, biaya kuliah harus masuk di kantong karena memakai ongkos pribadi.

Tes Masuk Unisba

Berhubung sedang pandemi COVID-19, syarat-syarat administrasi untuk mendaftar di Pascasarjana Unisba sedikit dikurangi. Saya pun tak perlu surat izin, dan surat rekomendasi. Izin kemudian menyusul secara verbal kepada pimpinan di kantor.

Karena pandemi, tes masuk Pascasarjana Unisba juga dilakukan secara online. Masing-masing peserta diberi user name dan password untuk pelaksanaan tes di eusm.unisba.ac.id

Apa saja soal-soal tesnya? Hmm saya ragu, boleh tidak ya saya sampaikan di sini. Mungkin secara umum saja ya. Jadi, soal-soal yang diujikan itu terdapat dua jenis: Tes Potensi Akademik (TPA), dan bahasa Inggris.

Soal-soal TPA itu merujuk kepada pemahaman kita mengenai numerik, logika, deret hitung, dan matematika. Banyak contoh soalnya, bisa kalian pelajari di Youtube dan internet secara gratis. Maksimalkan saja.

Sementara itu, soal-soal bahasa Inggris adalah seputar writing expression, eror recognize, dan reading. Untungnya, saya pernah belajar TOEFL secara mandiri jadi bahasa Inggris tak terlalu menjadi kendala.

Hanya saja, hambatan besar dari ujian tes online ini adalah waktu. Kita harus mengerjakan kurang lebih 80 soal–saya lupa jumlah spesifiknya–dengan waktu 90 menit. Ya pokoknya harus pandai mengatur waktu, dan menjawab pertanyaan yang mudah terlebih dahulu.

Kebetulan juga, tahun ini saya banyak belajar mengerjakan soal-soal CPNS dan TOEFL, jadi relatif lebih terbiasa dan paham harus bagaimana saat mengerjakan soal-soal tes online Pascasarjana Unisba, mulai dari persiapan sampai pada saat pelaksanaannya.

Tes Wawancara dan Pengumuman

Setelah mengikuti tes, hasilnya tidak langsung dapat diketahui oleh para peserta. Hasilnya akan diberitahu kepada para calon mahasiswa Pascasarjana Unisba tiga hari setelahnya.

Tetapi sebelum itu, ada tes wawancara terlebih dahulu. Hampir saja saya lupa. Jadi, setelah tes online pada pagi hari, kemudian dilanjutkan dengan tes wawancara dengan salah satu dosen Pascasarjana Unisba siang harinya, sesuai jadwal yang telah ditentukan. Bagaimana wawancara tersebut? Saya tak bisa menjelaskannya di sini, yang jelas berlangsung dengan serius tetapi santai

Hari pengumuman pun tiba. Semua informasi mengenai kelulusan peserta tes online Pascasarjana Unisba diumumkan melalui web pascasa.unisba.ac.id dengan link-nya bisa kalian buka di sini.

tes pascasarjana unisba adi permana
List peserta yang lolos tes masuk Pascasarjana Unisba Gelombang I Tahun Akademik 2020/2021. Jika diperhatikan, untuk program studi S2 Ilmu Komunikasi itu hanya 12 orang. Cukup sedikit, mungkin hanya satu kelas. Tetapi nanti akan bertambah karena sudah dibuka untuk gelombang II. (Foto: Adi Permana)

Syukur alhamdulilah, nama saya ada di pengumuman tersebut. Perasaan senang dan bangga pun muncul saat itu. Saya masih tak menyangka, keputusan kuliah lagi ini sedikit nekad, dengan modal sendiri pula.

Tetapi saya pikir, mumpung masih muda, apa salahnya keluar dari zona nyaman, mencoba tantangan baru, berani mengambil risiko, menunda rencana lain (nikah) sementara. Bahkan saya pun sudah punya rencana melakukan penelitian untuk tesis yang berkaitan dengan kantor saya agar lebih aplicable, relatable, dan useful. Termasuk, materi-materi kuliah yang akan saya pelajari pun akan saya tulis di blog ini untuk di-share kepada para pembaca sekalian.

Jadi, secara mental saya sudah siap kuliah S2. Bismillah. Tinggal bayar kuliahnya yang berat hehe…

Salam Literasi, selamat berkutat dengan diktat-diktat.

Jurnal #40 Kuliah S2

Adi Permana

14 Comments

  1. mas untuk biaya registrasi yg 500rb itu langsung bayar setelah proses daftar di PMB pascasarjana? atau bisa kapan saja, asalkan sebelum waktu pendaftaran di tutup

    1. Itu biaya beli formulir pendaftaran mas. Nanti bakal ngisi form pendaftaran, lalu upload struk tranfernya.

  2. ok mas saya sudah melakukan transfer, mudah mudahan saya keterima dan kita bisa bertemu di kampus UNISBA, terlebih sebagai seorang profesional mungkin mas bisa sharing pengalaman kerja di dunia komunikasi 🙂 hehe . mudah mudah saya masuk juga mas di ilkom magister UNISBA… masss doakan huhu saya degdegan 🙁

    1. Wah oke mbak Difa, sampai ketemu nanti di kampus, walaupun tak tahu nih apakah kuliahnya daring atau luring nanti.

  3. oiya mas saya mengalami kendala saat mengisi IPF, nominal minimal nya brapa ya untuk magister ILKOM, terimakasih

    1. Itu biasanya kalau IPF otomatis ya mbak saat bayar registrasi ulang di bank. IPF Unisba untuk Ilkom itu Rp2juta mbak.

  4. Wah sepertinya bakalan ketemu nih. Saya juga diterima kuliah S2 komunikasi di Unisba. Btw kelas sudah dimulai belum ya? Saya daftar di gelombang II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *