Jurnal #42 Memulai Lari dan Gowes Lagi

Jurnal #42 Memulai Lari dan Gowes Lagi

Pandemi memang merubah banyak kebiasaan manusia. Termasuk kebiasaan saya yang biasanya rutin lari seminggu minimal 3-4 kali, kini selama pandemi harus “puasa” dulu. Alhasil, karena berhenti olahraga dan malas melakukan aktivitas fisik lainnya, membikin perut saya jadi buncit lagi. Oh tidak!

Kalau sudah begini, terpaksa harus memulai lagi dari awal. Terlalu lama puasa lari ini harus segera disudahi. Maka dari itu, Jumat (7/8/2020) pagi saya mulai lari lagi. Dan cerita itulah yang akan saya tuangkan di Jurnal edisi ke-42 ini.

**

Kira-kira lebih dari dua bulan saya tidak lari. Pandemi benar-benar membuat saya takut untuk beraktivitas ke luar rumah. Ditambah, rasanya malas banget untuk olahraga di tengah situasi seperti ini. Meskipun beberapa kali sempat melakukan olahraga di rumah, semacam workout dan gerakan-gerakan plank, tetapi hanya sebentar karena malas dan bosan juga. Hehe. Ya lebih asyikan olahraga di luar rumah ternyata.

Karena itulah, lari Jumat pagi itu memang upaya perdana saya memulai lagi aktivitas fisik. Daya tahan tubuh (endurance) lari yang selama ini dilatih, perlu dibangun lagi. Buktinya, baru saja 3 kilometer, napas sudah ngos-ngosan, kaki juga berat. Rasaya ingin menyudahi saja dan jalan kaki. Haduh, mental juga ikut-ikutan jatuh ternyata.

Target jarak lari yang ingin saya tempuh Jumat pagi itu adalah 6 kilometer. Jalurnya adalah dari Jl. Kebon Bibit-Jl. Baksil (Siliwangi, Kebon Binatang)-Jl. Dago-Jl. Tamansari-Jl. Kebon Bibit lagi. Inilah jalur rutin saya. Biasanya saya kecepatan (pace) sekitar 6’30’’ per kilometer. Saya menggunakan aplikasi Nike Run Club untuk mengukur jarak dan merekam data selama berlari.

Meskipun sedikit malas, lari Jumat pagi itu tetap saya paksakan. Tidak ada kata jalan kaki—meskipun napas ngos-ngosan. Pokoknya lari sekalipun pelan. Kenapa saya lakukan itu? Karena saya tahu batasan kemampuan fisik saya. Yang membikin berat itu sebetulnya mental dan pikiran saja. Karena saya jarang lari, jadinya mental juga berpengaruh. Padahal sebetulnya, kalau dijalani, kita bisa dan mampu.

Jadi, latihan Jumat pagi itu bukan hanya soal melatih daya tahan, tetapi lebih kepada melatih mental atau ego.

Selama lari saya tak sempat melihat hand phone. Baru begitu larinya sudah beres, saya buka aplikasi Nike Run Club. Hasilnya, lumayan. Kecepatan saya berada di 7’23” per kilometer. Tak apalah tidak memenuhi target, yang penting bisa lari lagi.

Data lari yang direkam oleh aplikasi Nike Run Club. (Foto: Adi Permana)

Dan efek setelah lari ini yang baru saya rasakan lagi: keringetan, napas yang tadinya berat jadi lega, dan tubuh lebih segar dari biasanya. Minum air putih pun rasanya enak banget waktu itu. Bagi kalian yang suka lari, pasti pernah mengalaminya. Itulah pengaruh dari hormon endorfin yang membuat kita menjadi lebih semangat dalam melakukan aktivitas setelah lari.

Makanya, setelah lari pagi itu, saya lebih siap ngantor dengan pikiran yang lebih segar. Tak ngantuk. Lebih fokus menyelesaikan target urusan kantor. Dan yang paling penting, nafsu makan jadi lebih bertambah. Lho, kapan dietnya ini.

Gowes Lagi

Selain lari, saya juga pegiat bersepeda. Eits, bukan karena ikut-ikutan viral sepedahan ya. Sejak 2018 saya sudah berkecimpung (bahasanya) di dunia gowes. Jadi jangan disangkutpauitkan dengan yang lagi viral itu ya.

Justru saya heran, kok bisa ya sepedahan baru viral sekarang. Kemana aja selama ini? Apakah orang-orang baru merasakan serunya ngegowes kali ya? Hihi *sombong.

Kenapa saya mulai sepedahan lagi, karena selama pandemi—bahkan sebelum pandemi lebih tepatnya, saya sudah jarang sepedahan. Alasannya karena sepeda saya rusak. Ada komponen yang harus diperbaiki. Dan saya lagi tidak punya duit waktu itu. Hehe.

Asal kalian tahu, alat-alat sepeda itu harganya mahal, bahkan lebih mahal dibandingkan motor! Bahkan ada handle (stang) yang nilainya seharga dua buah motor beat. Haha.

Karena takut lebih rusak lagi gegara jarang dipakai, saya perbaiki sendiri tuh sepeda dengan alat seadanya, dan komponen seadanya. Lumayan setidaknya bisa buat gowes tipis-tipis lagi.

Saat itulah, saya jadi lebih semangat lagi naik sepeda, bukan hanya saat hari libur, tetapi juga sebagai moda transportasi ke kantor alias bike to work.

sepeda united bike to work
My bike for cycling to work (Foto: Adi Permana)

Bagi saya, orang yang memilih bersepeda ke kantor itu keren. Karena mereka mampu melawan kenikmatan dan kemudahan naik kendaraan pribadi. Ini bagi yang jarak rumahnya bisa ditembuh oleh sepeda ya.

Dan menurut saya, bersepeda ke kantor itu punya kenikmatan sendiri. Secara tidak langsung, kita jadi bagian dari “ranger of go green” dan lebih hemat tentunya. Lumayan kan, jatah bensin bisa dipakai buat nambah porsi makan hehe.

Jujur aja, selama seminggu bersepeda ke kantor, motor saya belum pernah lagi tuh jajan bensin.

Lari Half Half Marathon

Inilah contoh sub judul click bait. Maksudnya adalah lari 11 kilometer. Kan Half Marathon itu 21Kilometer ya, nah ini setengahnya.

Jadi, setelah Jumat pagi itu, saya memang sudah berencana untuk lari santai bareng teman kantor hari Minggu pagi. Kami janjian di Jalan Dago.

Memang tidak ada target untuk lari berapa kilometer. Pokoknya lari keliling Bandung.

Jalur yang kami tempuh adalah dari Jl. Dago-Jl. Merdeka-Jl. Asia-Afrika-Jl. Banceuy-Jl. Braga-Jl.Wastu Kencana-Jl. Purnawarman-Jl. Tamansari-Jl. Dago lagi (berhenti tepat di lampu merah pertigaan McD Dago).

Jaraknya ternyata 10 kilometer tuh. Ditambah lari dari kosan, ya total ada 11 kilometerlah. Sebenarnya bisa lebih karena ‘kan saya pulangnya jalan kaki juga. Jadi ya 13 kilometer mah ada.

rute lari bandung
Rute lari saya. Ini direkam oleh Nike Run Club juga. Foto (Adi Permana)

Untuk ukuran orang yang baru mengawali lari lagi, itu sudah lumayan. Ditambah lagi selama lari, saya tidak merasakan efek apapun, misalnya, lutut sakit atau kaki keram. Mungkin juga karena sudah pemanasan sebelumnya di hari Jumat. Jadinya, pas tadi minggu pagi lari, fisik dan daya tahan lebih oke.

lari di Bandung
Bonus foto selfie di Jalan Braga. Saya tidak pakai masker karena bikin sesak. (Foto: Adi Permana)

Selanjutnya, mungkin trail run, atau half marathon beneran. Kita lihat saja semoga tidak lembur urusan kantor dan semoga ada partner yang mau.

**

Itulah cerita saya di jurnal kali ini. Sebetulnya, tulisan ini didedikasikan untuk memenuhi tantangan dari komunitas blogger 1 Minggu 1 Cerita buat nulis tema “Terpaksa”. Mudah-mudahan sesuai ekspektasi ya. Sekian.

Salam Literasi, yuk olahraga!

Jurnal #42

 

Baca juga: Jurnal #41 Insaf Berbahasa

Adi Permana
Latest posts by Adi Permana (see all)

2 Comments

  1. Gowes ini emang luar biasa sekarang trend-nya ya. Bahkan toko sepeda yang dulunya sepi di toko kami, sekarang jadi ramai.

    Yang penting semua tetap sehat dan semangaaaat!

    Btw Kak Adi Permana profil bloggernya diubah jadi publik ya. Biar tidak brokenlink di komentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *