Jurnal #43 Jalan-Jalan Sendiri, Pembuktian Diri Seorang Nuru

Jurnal #43 Jalan-Jalan Sendiri, Pembuktian Diri Seorang Nuru

Perempuan berkerudung abu-abu itu tampak sedang berbahagia. Hatinya mungkin tengah berbunga-bunga karena akhirnya bisa liburan setelah sekian lama terkurung akibat corona.

Namun liburannya ini tak seperti kebanyakan orang yang ingin menghabiskan waktu jalan-jalan bersama kawan seperjalanan. Ia lebih memilih berpergian sendiri. Entah itu pakai kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi.

Katanya, “Aku suka bertemu dengan orang baru. Jadi meskipun sendirian dari sini (Bandung), nanti bisa kenalan di perjalanan.”

Setidaknya ada lima destinasi wisata yang baru saja ia kunjungi. Pertama ke Dieng di Wonosobo, Jawa Tengah, kedua ke Bogor, ketiga ke Pantai Batu Guha di Garut, ketiga panjat tebing di Purwakarta, dan kelima Paralayang di Sumedang.

Nuru Fitry
Nuru saat panjat tebing. Foto: Instagram @nurufitry

Ketiga-tiganya ia kunjungi sendirian, meskipun pada akhirnya di tempat tujuan ia bertemu dengan orang baru.

Semenjak punya gaji sendiri, ia memang jadi sering jalan-jalan. Saya ingat betul dia pernah memamerkan fotonya di Instagram saat pergi ke pantai di Lampung. Namun karena keterbatasan uang, ia biasanya suka ikut open trip.

Perkenalkan, dia adalah Nuru, gadis asal Ujungberung. Dan jurnal kali ini akan bercerita tentang perempuan yang gemar jalan-jalan sendirian. Bahasa gaulnya, solo traveler.

Bagi para pembaca jurnal ini, mungkin punya anggapan apa yang dilakukan Nuru itu hal biasa. Toh masih di Indonesia, di sekitaran Pulau Jawa lagi. Beda lagi ceritanya misalnya, kalau dia benar-benar seorang diri ke luar negeri. Namun menurut saya, yang sudah kenal sosoknya sejak zaman abege labil di bangku kuliah, apa yang dilakukannya sekarang ini sedikit di luar ekspektasi.

Nuru yang saya kenal itu ya hanya perempuan rumahan biasa. Makanya, mungkin apa yang dia lakukan akhir-akhir ini sebagai sebuah pembuktian bahwa dia berani, dia mandiri, dan dia bisa hidup tanpa terus bergantungan dengan orang lain. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak manja lagi.

**

Saya berjumpa dengan Nuru di warung kopi dekat ITB. Saya sengaja mengajak perempuan yang baru-baru ini sedang patah hati itu untuk ngobrol-ngobrol santai tentang berbagai hal, salah satunya tentang kegemarannya jalan-jalan sendiri ke luar kota.

Nekad. Sepertinya kata itu layak disematkan kepada Nuru. Bagaimana tidak, perempuan yang baru bisa motor belum lama ini berani berkendara sendirian ke daerah Bogor hanya untuk membeli kue. Bagi saya, itu sedikit di luar nalar. Maksudnya, kok ada ya orang yang mau pergi ke Bogor yang jaraknya ratusan kilometer dari Bandung, hanya untuk belanja kue lalu setelah itu pulang lagi ke Bandung.

Kalau saya sih, lebih baik beli surabi atau ngantre beli sate di belakang Gedung Sate, hehe.

Ya itulah hobi, kadang di luar nalar. Selama hati senang dan tak merugikan orang lain, ya laksanakan.

Keputusannya yang berani ini tentu saja berisiko. Pernah satu waktu dia tertipu oleh salah satu agen penyelenggara open trip. Alhasil ia rugi lumayan besar. Selain itu, karena kebanyakan traveling yang dilakukan Nuru itu dadakan, risiko lainnya adalah terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, misalnya nyasar atau hilang tanpa kabar. Ya ‘kan namanya juga tanpa rencana dan pertimbangan yang matang.

Dalam konteks ini mungkin sedikit berbeda dengan saya yang lebih cenderung banyak pertimbangan untuk memutuskan suatu hal, termasuk pergi liburan. Apakah misalnya keuangan saya cukup, waktunya tak bentrok dengan pekerjaan, ke mana lokasi liburannya, dan bagaimana rencana perjalanannya.

Akan tetapi Nuru tak terlalu suka dengan pertimbangan semacam itu. Karena biasanya, jika suatu perjalanan terlalu direncanakan dengan baik ujung-ujungnya sering gagal alias wacana. Makanya, ia lebih senang dadakan. Sebuah pengambilan keputusan yang cukup berani.

Berbicara tentang pengambilan keputusan, kalau kata Jalaluddin Rahmat dalam buku Psikologi Komunikasi (2011), dijelaskan bahwa pengambilan suatu keputusan itu akan selalu melibatkan kognisi, motif, dan sikap. Dari ketiga hal tersebut, motiflah yang paling berpengaruh dalam pengambilan keputusan.

Nah motivasi Nuru ini ternyata simpel: senang bertemu orang baru. Selain itu, dia lebih memilih melakukan perjalan sendiri karena tidak ingin bergantung kepada orang lain.

“Kalau aku ngajak Mas Adi misalnya, lalu tiba-tiba nggak jadi. Itu suka bikin kesel ‘kan. Makanya aku lebih baik sendiri, jadi kalaupun mengajak teman tetapi temannya nggak jadi berangkat ya aku tetap pergi,” katanya.

Setelah tahu motifnya begitu, sedikit masuk akal juga. Dan memang sering dikeluhkan banyak orang.

Traveling itu Racun

Bagi saya, traveling itu ibarat racun. Sekali menjalaninya, kita akan ketagihan.

Sama seperti naik gunung. Bagi sebagian orang, ngapain juga capek-capek bawa ransel besar, belum lagi perjalannya melelahkan, sulit air, makan seadanya, tidur hanya di dalam tenda, menghabiskan uang pula. Ya tetapi di situlah racunnya. Itulah momen yang dicari sekaligus dirindukan dalam sebuah perjalanan.

Racun traveling ini membuat orang-orang yang pernah menjalaninya jadi ingin mencobanya lagi dan lagi. Hal itulah yang sedang dialami Nuru.

Makanya orang yang senang traveling itu selalu ingin pergi dari satu destinasi ke destinasi lain, dari gunung satu ke gunung lain, dari satu puncak ke puncak lain. Tak peduli habis uang berapa. Apalagi untuk naik gunung kita perlu beli perlengkapannya. Tetapi poinnya lagi-lagi, asal tidak merugikan orang, yang penting hati senang, ya jalankan.

Namun kawan-kawan, saya hanya ingin mengingatkan. Saat ini kita masih menghadapi krisis akibat pandemi. Kasus orang yang positif sampai tulisan ini dimuat pun masih banyak. Karena itu, pertimbangkan lagi baik-baik jika ingin liburan.

Kalaupun memang sudah tak kuat menahan nafsu untuk berlibur, patuhilah protokol kesehatan. Kita berdoa semoga krisis ini segera berakhir ya.

Sekian semoga tulisan ini bermanfaat.

Salam literasi,

Jurnal #43

Adi Permana
Latest posts by Adi Permana (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *