Jurnal #44 Suka Duka Kuliah Daring Angkatan Corona

Jurnal #44 Suka Duka Kuliah Daring Angkatan Corona

Ini adalah jurnal saya yang ke-44 tentang suka duka menjadi mahasiswa angkatan corona yang harus kuliah secara daring.

Sudah lebih dari 7 bulan kita berada dalam situasi pandemi akibat COVID-19. Namun demikian, situasi ini tidak boleh menjadi penghambat kita dalam beraktivitas.

Baca: Pengalaman Tes Masuk Pascasarjana Unisba

Untungnya, kemudahan teknologi dan informasi memudahkan kita dalam berkomunikasi. Kehadiran platform Zoom, misalnya, memberikan kemudahan bagi para pekerja untuk melaksanakan rapat secara daring. Termasuk saya, yang pada tahun ini melanjutkan studi program magister. Sejak awal proses pendaftaran hingga matrikulasi dilakukan secara daring. Tanpa pernah bertatap muka sekalipun. Makanya, saya menyebut mahasiswa sekarang sebagai angkatan corona.

Hari ini adalah awal mula perkuliahan. Bagi saya, menjadi “Maba Daring” itu ada kelebihan dan kekurangannya. Dan oleh karenanya ada keunikan tersendiri bagi mahasiswa Angkatan Corona ini.

Kelebihan Kuliah Daring

Kuliah secara daring memudahkan kita untuk belajar kapan pun dan di mana pun. Teman saya bahkan ada yang mengikuti kelas dari Pematangsiantar, Kalimantan, Solo, Blitar, Banten, dan lain-lain.

Karena tidak kuliah tatap muka, mereka tak perlu mengeluarkan ongkos lebih untuk datang ke Bandung. Pun gara-gara pandemi ini, teman saya jadinya tak perlu biaya ngekos juga.

kuliah daring
Perkuliahan daring bersama Prof. Karim Suryadi. (Foto: Adi Permana)

Kelebihan lainnya adalah materi perkuliahan bisa ditonton ulang karena direkam. Sehingga bagi yang ketinggalan kelas, mereka bisa menyaksikan ulang materinya.

Kuliah daring juga membuat kita lebih leluasa dalam berpenampilan. Terkadang saat lagi kuliah bisa menggunakan sarung, cuman baju atasnya tetap mengenakan kemeja agar terlihat formal.

Kita juga lebih nyaman karena bisa sambil duduk, atau selonjoran.

Kekurangan Kuliah Daring

Dibanding kelebihan, menurut saya, kuliah daring lebih banyak memiliki kekurangannya. Apa saja kekurangannya?

  1. Tambahan biaya kuota

Saat kuliah matrikulasi saya habis kuota kurang lebih 10 giga. Perkuliahan matrikulasi ini dilakukan menggunakan Zoom kurang lebih selama 6 hari dari pagi sampai sore (kecuali Jumat hanya dilakukan setengah hari setelah salah jumat).

Lebih boros? Tentu saja karena biaya pembelian kuota menjadi meningkat dua kali lipat. Saya pribadi memilih menggunakan provider yang sudah teruji kecepatannya. Ya makanya, sedikit lebih boros terhadap kuota. Akan tetapi, hal ini masih bisa dimaklumi. Anggap saja pembelian kuota tambahan ini sebagai uang pengganti transportasi. Kan sama aja ya?

  1. Banyak gangguan

Tidak bisa dipungkiri, karena mengandalkan jaringan internet, perkuliahan daring seringkali mengalami gangguan koneksi.

Kadangkala ada dosen yang tiba-tiba hilang suaranya di tengah perkuliahan, atau mahasiswa yang ditanya tetapi jawabannya tersendat-sendat karena sinyal. Itulah risikonya, mau tidak mau. Apalagi kalau kita menggunakan paket internet yang lebih murah, gangguan itu sepertinya sudah jadi ujian sehari-hari.

  1. Perkuliahan kurang efektif

Menurut saya, kuliah daring itu kurang efektif untuk proses belajar-mengajar. Apalagi untuk mata kuliah-mata kuliah yang idealnya dilakukan secara tatap muka.

Dosen saya bilang, bahwa selama kuliah daring ini, ia kesulitan melihat karakteristik audiens. Sehingga penyampaian materi dilakukan apa adanya.

Kadang ada saja mahasiswa yang curang. Seolah-olah sedang menyimak, padahal itu hanya foto profil saja. Sementara mahasiswa tersebut sedang ada di mana. Kita juga hanya bisa mengenal masing-masing mahasiswa dan dosen kepalanya saja kan? Sulit juga melihat ekspresi masing-masing orang secara langsung dan jelas.

Baca juga: Mendadak Mendidik di Tengah Pandemi

Padahal dalam ilmu komunikasi, memahami karakteristik audiens itu penting agar efektivitas komunikasi kita bisa dilakukan dengan baik.

Ketidakefektifan tersebut bisa terlihat dari pemahaman mahasiswa terhadap materi. Perkuliahan secara tatap muka saja banyak tantangannya, apalagi secara daring?

Namun itu hanya asumsi saya saja. Mudah-mudahan tidaklah benar. Itu saja cerita saya dalam jurnal kali ini. Tak bosan-bosannya, saya ingin mengajak para pembaca semua untuk berdoa, semoga vaksin segera ditemukan sehingga kondisi kembali normal lagi.

*Pagi ini saya membaca berita, menurut WHO, kondisi normal seperti sediakala itu kemungkinan akan terjadi pada 2022. Mudah-mudahan itu salah ya, mudaha-mudahan secepatnya kita kembali kepada kondisi normal.

Saya juga penasaran dong ingin melihat sendiri wajah-wajah teman saya secara langsung.

Salam literasi

Jurnal #44

Baca juga: Corona dan Cerita tentang Layangan

Adi Permana
Latest posts by Adi Permana (see all)

One Comment

  1. Yaa, tantangan pandemi gitu mas. Mau tidak mau kita harus menyesuaikan dgn kondisi yg ada. Begitu jg dgn kampusku. Bahkan, temen2 ku yang harusnya wisuda, maka ditiadakan. Mereka hanya mengambil Ijazah ke rektorat, udah pulang. Ga ada perayaan seperti biasanya, sedih sih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *