Jurnal #5: Belajar Bersyukur dari Penambang Sulfur

Jurnal #5: Belajar Bersyukur dari Penambang Sulfur

Kita seringkali terlalu fokus membandingkan apa yang kita miliki dengan orang lain sampai lupa caranya bersyukur. Kita juga seringkali terlena pada sebuah keinginan, lalu menghiraukan apa yang menjadi kebutuhan. Padahal hidup itu sebetulnya sederhana dan simpel, yang memberatkan justru adalah pikiran kita sendiri.

Saya selalu percaya, bahwa sebuah perjalanan bisa mengubah seseorang. Sebab pada prosesnya, kita akan bertemu banyak hal baru dan pelajaran hidup yang mungkin tidak akan didapatkan sebelumnya. Seperti halnya saat melakukan pendakian ke Kawah Gunung Ijen akhir Desember 2019 lalu, saya banyak belajar arti bersyukur dari para penambang belerang dan juga tukang ojek troli gunung.

Seperti diketahui, Ijen selalu menjadi magnet wisata sebab terdapat blue fire yang langka. Tapi di balik itu semua, banyak orang yang menggantungkan penghidupan dari sana.

Cerita jurnal ini dimulai saat saya memulai pendakian pukul 02.00 dini hari dengan tujuan puncak Gunung Ijen dan turun ke kawahnya untuk melihat blue fire. Baru beberapa menit berjalan, beberapa orang ada yang sudah tumbang karena kondisi jalur pendakian menanjak. Lalu tiba-tiba, muncul dari belakang sebuah troli menerobos keramaian jalur pendakian.

Bermodalkan sarung, dan sepatu boot, troli ditarik oleh dua orang dari belakang dan juga depan. Di atasnya duduk seseorang yang sedang kelelahan. Napas mereka ngos-ngosan karena jalur tanjakan yang curam dengan kemiringan 40 derajat. Saya tak bisa membayangkan, bagaimana mungkin mereka sanggup mengangkut penumpang dengan cara seperti itu hingga sampai puncak yang berjarak lebih dari 3 kilometer.

Membawa beban diri pun sudah berat. Apalagi harus mengangkut orang sampai ke puncak. Saya sangat tersentuh. Apakah sampai sesulit itu mencari pundi-pundi uang? Apakah itu yang disebut kerja keras sampai banting tulang?

Sebagai informasi, jika menggunakan troli menuju ke puncak, wisatawan harus membayar antara Rp 500 – Rp 700 ribu per orang. Turunnya antara Rp 200 – Rp 100 ribu bergantung pada titik mana naik trolinya.

Penghasilan tersebut Jika dibagi dua, mungkin masing-masing hanya mendapatkan bagian setengahnya. Saya bertanya kepada salah seorang dari mereka. Menurutnya sangat jarang ada yang mau naik troli sampai puncak, belum lagi jumlah penarik troli yang sangatlah banyak. Dalam seminggu bisa sekali ataupun tidak sama sekali.

Sesampai di puncak hampir pukul 03.30, saya melanjutkan pendakian ke kawah. Jalurnya curam dipenuhi bebatuan. Mulai dari sini, asap belerang sangatlah kuat. Saya mulai menggunakan masker karena baunya membuat batuk dan mual.

Blue fire berhasil saya kejar. Meskipun tidak terlalu besar karena sedang musim hujan, tapi saya cukup puas bisa melihat fenomena alam menakjubkan tersebut.

Saat hari mulai cerah. Kabut mulai menghilang. Barulah terlihat para penambang belerang bekerja. Mereka sangat cekatan mengambil belerang meskipun harus berpacu melawan asap. Belerang yang mereka cari berasal dari cairan sulfur yang keluar dari kawah. Untuk mempermudah pekerjaan, para penambang membuat semacam pipa besi sehingga belerang bisa mudah terambil.

Namun perjalanan masih panjang. Setelah belerang ditambang, mereka harus mengangkutnya ke atas puncak yang berjarak kurang lebih 800 meter. Tapi jalannya sangat terjal dan penuh bebatuan.

Tidak ada mesin derek atau alat lain untuk mempermudah proses pengangkutan. Untuk ke puncak, mereka harus membawanya sendiri dengan pikulan. Beratnya 80-90 kilogram. Saya pikir atlet angkat beban pun tak akan sanggup jika harus melakukan hal ini.

Namun yang lebih menyayat hati adalah, mereka hanya dibayar antara Rp1.200 – Rp 1.400 per kilogram belerang. Sungguh harga yang tak setimpal dengan perjuangan melawan asap beracun dan terjalnya jalur yang mereka lewati. Sempat terlintas di dalam pikiran, mengapa dunia tak seadil ini?

Salah satu penambang mengatakan, dia sudah melakukan pekerjaan tersebut sejak tahun 1980. Artinya sudah 40 tahun dia bekerja seperti itu. Tapi untungnya, ia tak pernah merasakan sakit atau penyakit pernapasan lain. Meskipun secara medis, resiko kerusakan paru-paru sangat berisiko jika sering menghirup asap belerang.

Di tengah perjalanan ke puncak dari kawah, saya sempat beristirahat dan mengobrol dengan salah seorang penambang. Kami sedikit berbagi air minum juga makan ringan. Ia tampak senang, begitu pun dengan kami. Dari obrolan tersebut, ada pelajaran bersyukur yang kami peroleh darinya. Juga mengenai bagaimana mencari rezeki di jalan yang benar dan bersih meskipun rintangannya sangat sulit dan berat. Tapi asalkan hati ikhlas dan tulus, semuanya terasa lebih ringan.

Dari pelajaran itu saya teringat salah satu cerama KH Hasyim Muzadi yang menyampaikan, bahwa Allah memberikan rezeki dalam dua jenis: ada rezeki mulya (bersih) dan ada rezeki Istijrot. Orang-orang yang mendapatkan rezeki yang mulya, hatinya bersih, dan doanya akan sampai.

“Itulah mengapa banyak orang desa yang bodoh, miskin, tapi bersih. Lalu dia berdoa, anaknya jadi ulama, jadi intelektual, jadi presiden, jadi tokoh dunia. Sementara orang yang sudah pintar, banyak harta (tapi rezekinya Istijrot), anaknya kena narkoba, kasus ini dan itu.”

Jadi, kebersihan itu akan melahirkan kebesaran. Tapi penggunaan kebesaran yang tidak bertanggungjawab, dia akan memukul dirinya sendiri.

“Wa tsanasanastadrijuhum min haitsu laa ya’lamuun”.

 

Salam literasi

Jurnal #5

 

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *