Jurnal #6 Mendadak Rajin Olahraga

Jurnal #6 Mendadak Rajin Olahraga

Siapa yang jarang berolahraga? Itulah saya dua tahun yang lalu. Diperburuk lagi dengan gaya hidup kurang sehat seperti sering begadang, merokok, dan makan makanan kurang sehat

Selain itu, rasa malas yang akut benar-benar menjadi penghambat dalam melakukan aktivitas gerakan fisik. Imbasnya, tubuh mudah sakit dan lemak-lemak mulai bermunculan terutama di daerah perut.

Namun semua itu berubah tatkala saya bertemu dengan seorang teman yang rajin lari. Saya follow Instagram-nya dan sering sekali update sedang workout baik itu pagi maupun malam hari.

Saya tertarik. Lalu mencobalah lari di kala hari libur kerja di Gasibu Running Trek. Hanya berhasil tak lebih dari 10 putaran yang berarti sekitar 3 kilometer saja. Napas berat dan otot kaki sangat lemas. Pada saat itu, saya masih merokok. Jadi memang percuma karena setelah lari, lalu merokok kembali dipadukan kopi dan gorengan.

Tapi alon-alon, toxic dari lari ternyata lebih kuat dari toxic rokok. Saya mulai ketagihan lari dan mencoba meningkatkan level endurance. Kali ini, latihannya lebih serius. Saya unduh aplikasi Nike Run Club karena kata teman, ada panduan bagi pelari beginner untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Dari biasanya di Gasibu, saya pindah ke Saraga Running Trek karena Gasibu terlalu penuh sesak dan jalurnya terlalu keras. Sementara Saraga jalurnya lebih nyaman karena dari tanah merah, dengan trek lebih panjang dan lebar. Hampir setiap minggu rutin berlari bahkan sempat beberapa minggu sehabis subuh sebelum masuk kerja. Tapi tak berlangsung lama karena godaan tidur setelah solat subuh ternyata lebih kuat dibandingkan harus olahraga.

Progresnya sangat baik. Saya merasa endurance dan daya tahan tubuh semakin kuat. Awalnya rutin 5 kilometer, kini mulai naik level ke 10 kilometer. Bahkan jarak terakhir yang berhasil saya tempuh adalah 15 kilometer. Waw. Meskipun bagi yang sering lari itu belum masuk half marathon, tapi tenang saja, suatu saat saya bisa tembus 21 kilometer.

Setahun berlari (meskipun tidak rutin), setahun berikutnya saya berhenti merokok. Pola hidup lebih teratur, makanan yang masuk betul-betul dijaga dengan mencoba menghitung kalori yang akan diserap tubuh setiap hari. Hasilnya, berat badan tetap konsisten tak lebih dari 70 kilogram. Itu berat ideal bagi saya dan akan tetap dipertahankan sebisa mungkin 🙂

Renang dan Sepeda

Selain lari, saya mencoba mengombinasikan dengan olahraga kardio lain yaitu renang dan bersepeda. Memang sangat berat melakukannya secara berurutan dalam satu minggu karena keterbatasan waktu.

Biasanya saya menjadwalkam setiap Sabtu sore renang, dan Minggu pagi lari. Sayangnya, sepeda harus cuti dahulu berhubung alatnya dalam masa perbaikan. Efeknya sangat terasa. Lari sangat menguatkan otot kaki dan jantung, dan renang membuat tubuh lebih bugar serta segar.

Setalah sering melakukan dua olahraga kardio tersebut, ditambah pola hidup yang sedikit teratur, ternyata berdampak pada kondisi kesehatan. Tubuh tak mudah sakit, juga seperti semangat menjalani hari-hari. Setelah membaca beberapa artikel, saat melakukan olahraga kardio, tubuh mengeluarkan hormon endorpin, yaitu zat kimia seperti morfin yang diproduksi sendiri oleh tubuh yang memiliki efek mengurangi rasa sakit dan memicu perasaan senang, tenang, atau bahagia.

Belakangan, bahkan jika tubuh jarang olahraga justru merasa seperti kurang enak badan. Tapi setelah lari atau renang, merasa segar kembali. Hak itu tidak hanya dirasakan oleh saya, tapi juga beberapa orang yang juga suka lari.

Selama melakukan dua aktivitas tersebut, saya sering meng-update-nya di sosial media, terutama Instagram. Bukan hendak riya, tapi lebih mengajak orang lain supaya berolahraga juga. Siapa tahu, kasus yang sama juga terjadi pada saya yang tertarik berlari karena sering melihat teman update status di Instagram Story.

Motivasi lain mendadak rajin olahraga, karena saya berusaha mensyukuri nikmat sehat yang telah diberikan oleh Allah dengan menjaganya.

Selain itu, semakin tinggi usia manusia, tingkat metabolisme tubuh pun akan semakin menurun. Makanya, mungkin kalian menyadari atau bahkan mengalami, semakin bertambah usia, perut semakin membuncit dan melebar, lebih mudah sakit, dan cepat lelah dalam melakukan aktivitas? Itulah ciri-cirinya. Saya tidak mau demikian, setidaknya bukan di usia produktif seperti saat ini.

Salam literasi

 

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *