Jurnal #8: Media dan Problematikanya

Jurnal #8: Media dan Problematikanya

Media acapkali dihadapkan pada posisi yang dilematis. Pertama ia mesti menjunjung tinggi idealisme, kedua sangat perlu juga memikirkan aspek keuangan (komersialisasi). Dalam hal ini, ruang redaksi dan ruang advertising perlu terjalin sebuah kerjasama yang baik.

Namun terkadang idealisme harus dinomor sekiankan karena hadirnya tuntutan pasar. Imbasnya, berita-berita yang disajikan pun amat dangkal. Hanya sekadar memenuhi dahaga pembaca akan informasi viral dan sensasional.

Saya pernah mengalami hal tersebut ketika sudah susah payah membuat liputan, namun divisi iklan berkata lain. Jangan sampai naik cetak, sebab bisa berpengaruh pada iklan. Apa boleh buat, angel tulisan menjadi korban. Mulai saat itulah saya lebih selektif dalam memilih berita jika tak ingin bersinggungan dengan “permintaan klien”.

Pelajaran berharga itu masih saya ingat sampai sekarang. Saat zaman kuliah di jurusan jurnalistik, semua mahasiswa diajarkan bagaimana menjaga netralitas, independensi, kejujuran, loyalitas pada kepentingan umum, dan selalu menjunjung tinggi kebenaran. Tapi setelah dibenturkan di lapangan, yang namanya “kepentingan” selalu ada tak dapat dihindarkan. Sehingga sangat berpengaruh dalam aspek idealisme sebuah tulisan.

Daripada menulis berita “pesanan”, saya pun mulai memutuskan hijrah desk kerja ke liputan umum. Mencari tulisan-tulisan feature yang lebih berkarakter human interest dan inspiratif. Prosesnya memang tak gampang, tak bisa instan. Meskipun memakan waktu dan harus selalu ada sisi lain dalam setiap tulisannya, tapi hasilnya sangat memuaskan. Setidaknya bagi saya yang menulisnya.

Bagi saya, terus menerus menulis berita langsung (straight news), sangatlah menjenuhkan. It was no challenging for me. Kualitas dinomor sekiankan, lalu kuantitas selalu jadi junjungan. Apalagi sejak media online mulai menjamur, lambat laun mengubah perilaku pembaca dari koran ke online.

Kesejahteraan

Tuntutan pekerjaan seorang wartawan amatlah berat. Mereka tak kenal libur, tak kenal waktu kerja, setiap hari mesti produksi berita, dan topik liputan harus baru serta belum dimiliki media lain. Namun di sisi lain dari segi kesejahteraan, gaji wartawan sangatlah kurang.

Hal tersebut terutama dialami oleh wartawan dari media lokal. Beruntungnya, media nasional lebih rasional dalam memberikan gaji karena keuangan mereka relatif sehat. Tapi wartawan lokal, bahkan teman saya ada yang hanya dibayar Rp 10.000 per berita.

Saya memang paham ini urusannya keuangan, tapi setidaknya berikanlah gaji yang pantas dan layak. Jika tidak sanggup tak usah mencari keuntungan dari bisnis ini. Benar kata senior saya di lapangan saat wartawan, “Jangan pernah mencari penghasilan dari wartawan, tapi carilah pengalaman,” ujarnya.

Bagi saya, apresiasi itu penting. Jika media memberikan bayaran di luar rasional seperti kasusnya teman saya, tentu saja itu bukanlah bentuk apresiasi yang bagus wartawan. Sehingga ini akan berpengaruh pada karya berita mereka selanjutnya: asal-asalan, dangkal, dan mentah. Yang penting setor berita. Akhirnya ini menjadi semacam lingkaran setan yang tak berkesudahan. Media tak menghasilkan karya jurnalistik yang baik, pembaca tak tertididik dari hasilnya bacaannya, juga wartawan yang tak mengenal kata sejahtera.

Memang tak semua media demikian. Ada juga yang peduli dengan kesejahteraan wartawannya. Tapi itu hanya segelintir, dan rata-rata adalah media besar.

Salam literasi
Jurnal #8

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *