Jurnal #9: Makna Hari Kelahiran

Jurnal #9: Makna Hari Kelahiran

Jurnal kali ini berasa istimewa karena bertepatan dengan hari ulang tahun saya di tanggal 9 Januari. Sebuah momen spesial karena kini usia saya sudah seperempat abad, tapi merasa belum meraih apa-apa, belum banyak hal baik diperbuat, dan hidup seperti merasa begini-begini saja. May be It’s just my feeling or something to contemplating.

Hari ulang tahun selalu mengingatkan saya pada cerita ibu. Katanya, saya lahir di hari Minggu saat waktu subuh tiba. Konon anak tersebut tidak rewel saat borojol, juga sehat. Kehadirannya sangat dinanti-nantikan sebab masuk program anak terakhir di keluarga. Menurutnya juga, anak tersebut diproyeksikan akan menjadi seseorang yang berguna bagi sesama, agama, dan negara.

Satu hal menarik lain dari cerita ibu adalah, anak yang bernama Adi Permana itu memiliki “wedal mega”. Wedal itu seperti ramalan tapi dalam Bahasa Sunda. Mega artinya langit. Harapannya, dengan wedal tersebut, sang anak akan memiliki rezeki luas, berwawasan luas, seperti halnya langit. Menurutnya juga, karakteristik wedal Minggu adalah lebih tenang (calm).

Percaya tidak percaya, saya menjadikannya sebagai doa. Karena toh, yang disampaikan ibu adalah hal kebaikan semua.

Selama mengarungi hidup ini, saya tidak begitu familiar dengan perayaan ulang tahun. Jika di rumah, kami cukup berkumpul, membuat nasi kuning, lalu selanjutnya mengaji salah satu surat sebanyak tiga kali. Sederhana, tapi begitu berkesan meski tanpa dihiasi tiup lilin dan tepuk tangan. Doa yang disematkan, betul-betul dari dalam hati seorang ibu dengan perantara mengaji di awalnya. Begitu terus sampai menginjak dewasa dan berkelana ke luar kota.

Alarm Hidup

Tatkala awal tahun tiba dan sebentar lagi saya akan bertambah usia, hal itu seperti menjadi alarm hidup. Toh pada dasarnya, ulang tahun bukan bermakna bertambah usia, melainkan usia kita berkurang dari jatah yang telah ditetapkan Allah.

Oleh karena itu, tatkala hari ulang tahun tiba, surah Al-Ashr selalu mengingatkan saya bahwa termasuk merugi orang-orang yang menyia-nyiakan waktunya. Dan dia tak saling mengingatkan satu sama lainnya dalam keburukan, serta mengajak pada kebaikan. Kata guru ngaji saya, celakah orang yang menganggap hidupnya lama, justru sangat singkat. Untuk itu bergegaslah terus melakukan kebaikan sebelum jatah waktu kita habis.

Selain sebagai alarm hidup untuk merenungi apa yang telah dilakukan di masa lalu, ulang tahun juga sejatinya dapat dijadikan momen perenungan tentang rencana hidup di masa yang akan datang. Bagian inilah yang berat. Sebab terkadang apa yang telah kita rencanakan, mimpikan, atau targetkan, seringkali tak sejalan.

Maka dari itu, berdasarkan nasihat dari teman, berdoalah agar diberikan sesuati yang terbaik versi-Nya, bukan versi manusia. Karena Dia lebih tahu apa yang terbaik bagi mahluknya, sekalipun kita merasa itu bukan yang diinginkan/harapkan. Dengan berdoa seperti ini, kita juga tak akan terlalu terbebani pada ekspektasi kita sendiri. Lebih tepatnya, selalu positive thinking pada setiap takdir-Nya.

“A blessing in disguise” begitu kira-kira dalam versi lain.

Surprise dari Kantor

Ada budaya yang sangat menyenangkan di kantor kami. Jika ada yang ulang tahun, wajib untuk dirayakan. Saya masih ingat, saat 2019 tiba-tiba dipanggil ke kantor direktur lalu ditanya ini-itu. Sempat gugup karena memang jarang mengobrol sebelumnya. Lalu tiba-tiba, suasana hening, dan teman-teman sekantor masuk ke ruangan direktur dengan membawa kue dan menyanyikan lagu “selamat ulang tahun”. Terharu sekali, serius.

Nah tahun ini, kejutannya berbeda lagi. Berhubung beberapa pimpinan akan lengser dari jabatannya, maka kantor kami pun mengadakan semacam farewell party. Tak diduga, di tengah-tengah acara, MC menyanyikan lagu ulang tahunnya Jamrud, lalu saya dipaksa maju ke depan panggung. Kebetulan saat itu tidak sendiri, ada juga Viya yang berulangtahun namun hanya berbeda beberapa hari. Viya ulang tahun tepat tanggal 1 Januari lho, sangat langka sekali ‘kan, saya pun tak percaya awalnya. Jadinya, kejutan ulang tahun kali ini bukan diberikan kue atau kado, tapi duet nyanyi bareng Viya. Hmmm.

Sayangnya saya tak begitu jago bernyanyi, meskipun sering sosoan cover lagu sambil gigitaran, begitupun Viya (meskipun namanya mirip artis). Modal kami mungkin hanya tingkat kepedean di atas rata-rata. Meskipun dengan suara pas-pasan kami tetap berusaha menghibur dengan membawakan lagu “Sepanjang Jalan Kenangan”. Sedikit canggung karena entah kenapa orang-orang seperti menjodohkan saya dengan Viya waktu itu.

Kembali soal merenungi makna hari ulang tahun, saya selalu percaya dan meyakini bahwa Dia sudah merencakan hal terbaik untuk kita di masa depan. Hanya saja kita tak akan pernah tahu secara spesifik kapan waktunya. Agar penantian kita pada masa itu tak menjenuhkan, mari kita isi dengan usaha, ikhtiar, berjuang, berdoa, dan diakhiri dengan berserah diri.

Selamat ulang tahun, selamat merenung dan membuat rencana, Adi!

Salam Literasi

Jurnal #9

 

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *