Jurnal #41 Insaf Berbahasa

Jurnal #41 Insaf Berbahasa

Pandemi COVID-19 memang membawa banyak penderitaan. Namun demikian, jika diambil sisi positif, musibah ini telah memberikan kesadaran terhadap umat manusia. Kesadaran dalam hal lebih peduli terhadap sesama; tidak egois, dan peduli terhadap kesehatan!

Berkah tidak selamanya berorientasi pada uang. Berkah—dalam konteks musibah—bisa berupa insafnya manusia dari melakukan kesalahan di masa lalu.

Insaf berarti seseorang itu dengan penuh kesadaran mengakui kealfaannya, berjanji tak akan mengulangi kesalahan yang sama, dan berbenah diri untuk ke depannya: menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Wabah virus korona ini juga membawa berkah bagi lingkungan. Virus ini memaksa bumi “istirahat”. Hasilnya, langit biru bisa terlihat di Tiongkok sebagai negara yang padat akan industri dan pencemaran udara. Juga sungai-sungai di Venesia, airnya menjadi bening dan segar.

Virus korona juga memberikan kesegaran bagi warga-warga yang tinggal di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota padat penduduk lainnya.

Kualitas udara menjadi baik gara-gara virus korona. Setidaknya, saat itu warga dunia bisa bernapas lega dalam artian sebenarnya. Meskipun dalam arti kiasan, masih jauh panggang dari api. Sampai Senin, 27 Juli 2020, Indonesia bahkan mencatatkan sejarah tembus 100.000 kasus konfirmasi positif (suspect).

Karena penyebaran virus ini perlu ditekan, maka orang-orang dipaksa dibatasi aktivitasnya. Sekarang mungkin sudah mulai banyak kelonggaran menyusul kebijakan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Namun saat masa-masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kita terpaksa harus diam di rumah, segala aktivitas dilakukan dari rumah.

Saat itulah sisi berkah dari wabah ini hadir kepada saya. Karena PSBB, saya memanfaatkannya dengan belajar banyak hal baru, juga meningkatkan kompetensi yang telah dimiliki selama ini.

Bak gayung bersambut, banyak webinar dan kelas daring muncul di saat pandemi ini. Selain yang berbayar, bahkan banyak pula yang gratis. Saya menangkap munculnya fenomena tersebut sebagai bentuk ajakan untuk tetap produktif menjalani masa PSBB. Beruntungnya, kita ada di masa di mana kecakapan teknologi mampu memfasilitasinya.

Belajar Bahasa Indonesia (Lagi)

Beberapa webinar dan kelas daring banyak saya ikuti selama masa PSBB. Yang paling intensif adalah belajar bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

Kedua hal itu saya dalami kembali. Saya fokuskan belajar TOEFL untuk bahasa Inggris, dan mengikuti kelas daring bahasa untuk bahasa Indonesia.

Belajar kedua hal tersebut membuat saya sadar akan kesalahan-kesahalan mendasar namun penting dalam berbahasa. Misalnya, dalam satu kalimat itu minimal ada subjek dan predikat. Jika tidak ada, maka sulit untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Teman saya yang seorang penerjemah kerap kali mengeluh akan hal ini. Manakal ia harus menerjemahkan tulisan yang kurang baik struktur kalimatnya, semisal tidak jelas subjeknya, dia harus berpikir keras untuk menerjemahkannya dengan kalimat baru.

Setidaknya, belajar kedua bahasa tersebut membuat saya lebih hati-hati lagi dalam menulis, sekaligus tidak merepotkan para penerjemah.

Fakta menariknya, ternyata apabila kita belajar bahasa Inggris membuat kita belajar bahasa Indonesia lagi. Ini serius, bukan saya saja yang mengalami hal ini, melainkan oleh teman saya juga yang notabene dari jurusan kebahasaan.

Fakta lainnya, meskipun saya seorang penutur, ternyata kemampuan berbahasa Indonesia saya masih belum baik–khususnya dalam ragam tulisan formal.

Sebagai contoh, saya masih sering menulis kata-kata tidak baku, kesalahan ejaan, dan kurang lihai memilih diksi. Padahal pekerjaan sehari-hari saya adalah menulis dan mengedit berita.

Dalam suatu kelas bahasa dengan Ivan Lanin, seorang wikipediawan dan ahli bahasa, mengatakan, “Apabila kita memcapuraduk bahasa Indonesia dan bahasa asing dalam satu kalimat, itu tandanya kita tidak mampu mencari padanan kata. Padahal bahasa Indonesia punya banyak padanan kata.”

bahasa media sosial ivan lanin
Kelas daring bahasa media sosial bersama Ivan Lanin. (Foto: Adi Permana)

Mendengar hal tersebut, membuat saya merenung sejenak. Dari situlah saya mulai tobat dan insaf berbahasa.

Kalau bahasa Inggris masih banyak salah-salah tata bahasa (grammar), ya mungkin wajar karena saya bukan penutur (native speaker). English is not my mother tongue.

Namun untuk bahasa Indonesia, beda lagi ceritanya. Bertahun-tahun saya hidup dan memakainya, ternyata masih banyak “harta karun” kata yang terdapat dalam bahasa Indonesia, yang apabila kita gunakan akan sangat indah dan elegan dibaca dan didengar orang.

Fakta itu membuat saya berkesimpulan, bahwa level kecendikiaan seseorang itu dapat diukur dari bagaimana dia menulis dan berbicara.

Orang yang mampu menulis dengan baik, tandanya mampu berpikir runut dan logis.

Orang yang mampu berbicara dengan baik, tandanya mampu menyampaikan ide dan gagasannya secara cepat.

Dua hal istimewa ini yang bisa membuat seseorang dikagumi dan disegani.

Saat belajar bahasa Indonesia lagi, saya menjadi rajin mencari padanan kata agar sebisa mungkin tidak mencampuradukkan bahasa.

Sebagai contoh, saya pernah membuat status di media sosial dengan memakai diksi yang jarang digunakan.

Statusnya begini:

Juga, saya pun pernah menulis begini, “Malam ini bulan badar nampak anggun.”

Pada dua status di atas, saya mengganti diksi bulan=damar dan purnama=badar. Padahal sebetulnya itu status yang sederhana. Namun, kesannya, seakan-akan nyastra.

Oleh karena itu, setiap kali berbalas pesan dengan teman di WhatsApp, misalnya, saya berusaha memaksakan diri menggunakan diksi-diksi berbeda, atau menerapkan padanan kata. Contohnya, “Eh dirimu sudah baca surel yang aku kirim belum?” Atau “Eh video kemarin sudah diunggah belum? Bu Direktur tadi nanya.”

Namun itu hanya sebatas padanan, toh gaya bahasanya tetap santai, apalagi jika saling berbalas pesan dengan teman sejawat.

Tujuan dari semua itu adalah untuk membiasakan diri. Apalagi, karena pekerjaan utama saya adalah menulis berita dan mengoreksi tulisan, maka kemampuan mencari padanan kata harus benar-benar dilatih.

Saya juga mencoba menulis tentang bahasa di blog ini dengan mengoreksi bahasa para artis.

Siapa tahu menjadi viral, ‘kan nanti bakal banyak orang lebih aware pada bahasa Indonesia. *Eh maksudnya lebih peduli.

Selamat belajar kembali. Sekian, terima kasih ananta!

*Ananta= tak terhingga.

Adi Permana

7 Comments

  1. Wah saya merasa tertohok sekali mas, karena sering sekali mencampuradukan bahasa, seringnya memang karena kebingungan mencari kosakata yg tepat untuk menggambarkan beberapa kosakata bahasa Inggris. Mungkin untuk kedepannya saya juga harus lebih aware terkait pemakaian bahasa Indonesia, apalagi anaknya berminat dengan kesusastraan. Omong-omong, salam kenal mas Adi!🙏🏻

  2. Bahasan yang menarik ini Mas Adi, sepertinya saya pernah juga mengalami belasan tahun lalu, yakni masalah ketika kita harus belajar bahasa indonesia lagi sewaktu kita belajar bahasa inggris terutama tentang grammar. Dimana dulu pengetahuan saya tentang bahasa indonesia itu sangat kurang. Itu juga sebenernya yang bikin belajar Bahasa Inggris jadi terasa berat. 😂 Kalo sekarang gimana? Udah gak ingat sama sekali pelajarannya tapi selalu inget masalahnya 😂😅.

    1. Betul mbak Rini, aneh ya. Belajar bahasa Inggris tetapi kok jadi belajar bahasa Indonesia lagi hehe. Bersyukur sih, dengan begitu jadi tahu kesalahan-kesalahan umum yang sering dilakukan oleh kita, terutama saat nulis ya. Semangat belajar mbaaak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *