Aksi Najwa Shihab Mewawancara Kursi Kosong

Aksi Najwa Shihab Mewawancara Kursi Kosong

Presenter televisi kondang, Nazwa Shihab tengah menjadi perbincangan publik lewat aksinya mewawancara kursi kosong pada saat siaran langsung program Mata Najwa di Trans7. Namun bukan semata-mata mewawancara kursi kosong, melainkan itu adalah representasi dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia Terawan Agus Putranto.

Pandemi COVID-19 di Indonesia yang tengah terjadi hingga saat ini—bahkan kasusnya semakin tinggi, membuat Najwa Shihab kembali mengangkat tema Mata Najwa kala itu terkait penanganan pandemi. Menurut Nana, sapaan akrabnya, pandemi belum mereda dan terkendali. Karenanya ia mengundang Menteri Terawan untuk hadir di sesi talk show tersebut.

Sosok Menkes itu tentu saja adalah orang yang paling tepat untuk berbicara kepada publik, memberi penjelasan tentang situasi pandemi sebenarnya yang terjadi di Indonesia dan apa penanganannya. Menkes mempunyai wewenangan perihal anggaran, membuat kebijakan, dan program terkait pandemi ini. Sosoknya dinilai sangat penting untuk gencar menyuarakan kepentingan kesehatan.

Namun, untuk kesekian kalinya tim Mata Najwa mengundang sang Menteri tetapi tak kunjung bisa hadir. Salah satu alasannya, saat video tersebut menjadi viral di media sosial, adalah karena kesibukan pak Menteri itu tersendiri. Oleh karena itu, Najwa Shihab membuat sesi talk show tersebut seperti aksi teatrikal dengan mewawancara kursi kosong.

Menurut saya kejadian ini sangatlah menarik untuk dikaji. Sebab Nazwa Shihab tampil penuh drama dengan mewawancara kursi kosong sebagai representasi dari Menteri Kesehatan Terawan. Sejauh ini, saya belum pernah melihat aksi berani tersebut yang dipertontonkan di stasiun televisi. Karena hal yang tidak biasa itulah, sehingga videonya menjadi viral di mana-mana—bahkan sampai banyak meme terkait hal itu.

Bagaimana Seharusnya Pejabat Negara Menyikapinya?

Lewat video tersebut, sebetulnya menjadi alarm bagi pejabat negara untuk tahu skala prioritas. Kendati sibuk, sebaiknya Menteri Terawan bisa hadir di Mata Najwa untuk menyampaikan informasi-informasi sebenarnya tentang pandemi ini.

Dalam konteks ini, saya melihat bahwa narasumber-narasumber yang sering hadir di Mata Najwa ini “ketakutan” akibat pertanyaan-pertanyaan kritis yang sering dilontarkan Najwa Shihab. Ya, putri ulama Quraish Shihab itu memang sering tampil dengan gaya mewawancara yang tajam, detail, bahkan pandai melihat celah untuk dikoreksi. Akan tetapi sebetulnya, Najwa juga bertanya berdasarkan fakta dan data. Jadi selama memang narasumber punya dasar dan argumen akan selamat dari pertanyaan-pertanyaannya.

Di sisi lain, justru banyak pejabat yang malah antusias untuk hadir di Mata Najwa dengan asumsi mereka bisa mengklarifikasi dan menyampaikan informasi yang benar yang diinginkan publik. Kebanyakan narasumber yang hadir di Mata Najwa ini adalah tokoh publik, pejabat negara, dan sosok-sosok penting lainnya. Sehingga isu-isu yang menjadi tema pun akan selalu menarik dan terkini.

Pada konteks sesi wawancara kursi kosong, menurut saya, Menkes Terawan mengambil langkah yang kurang tepat tidak bisa hadir ke acara tersebut. Padahal, sebelumnya tim Maja Najwa telah mengundang beberapa kali. Situasinya semakin kurang mendukung Menkes karena kasus pandemi semakin ke sini semakin tak terkendali.

Jika saya boleh memberi saran, sebaiknya Menkes bisa hadir di acara sekelas Maja Najwa. Program tersebut dapat dijadikan panggung untuk Menteri sebagai kepanjangan dari pemerintah dalam menyampaikan upaya-upaya mereka yang telah dilakukan di tengah situasi pandemi ini. Jika memang tidak bisa hadir ke studio, kan bisa saja hadir secara daring melalui video virtual.

Dampak Realitas Komunikasi Ini

Dampak dari realitas komunikasi yang ditampilkan oleh Menteri Kesehatan Terawan ini kurang baik. Sehingga tidak menimbulkan kejelasan di mata publik mengenai penanganan pandemi. Biasanya, tema Mata Najwa selalu mengangkat hal-hal yang tengah krusial terjadi dan dicari solusinya. Atau misalnya menagih janji-janji pemerintah.

Sangat jelas bahwa realitas komunikasi ini tidak dapat menyejahterakan manusia dan menimbulkan kebahagiaan. Sebab, kini banyak orang tidak punya kejelasan kapan pandemi ini berakhir, kapan situasi normal kembali, kapan mereka bisa usaha dan memulihkan perekonomian? Hendak beraktivitas pun takut karena kasus demi kasus semakin tinggi. Apakah anjuran 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) sudah dilakukan dengan baik?

Segala pertanyaan itu sampai saat ini masih muncul di benak publik. Artinya bahwa publik masih khawatir—dan bahkan semakin was-was, dengan kebijakan yang pemerintah ambil. Kehilangan kepercayaan publik tentu saja berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika terus terjadi, masyarakat nantinya sudah tidak mau mendengarkan imbauan dan peringatan dari pemerintah.

Adi Permana
Latest posts by Adi Permana (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *