Demokrasi dan Suara Nyaring Rocky Gerung

Demokrasi dan Suara Nyaring Rocky Gerung

Sumber: Pikiran Rakyat

Negara kita menganut sistem demokrasi. Pasal 1 UUD 1945 menyatakan kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan sesuai dengan konstitusi. Ini menunjukkan, bahwa Indonesia sebagai negara demokrasi yang konstitusional.

Sebagai sebuah negara demokrasi, tentu hak-hak asasi manusia harus dijamin sepenuhnya, salah satunya menyuarakan pendapat. Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 menjamin akan hal tersebut, yang menyatakan bahwa setiap orang berhak berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

Namun di rezim saat ini, kebebasan berpendapat–termasuk salahsatunya menyampaikan kritik bagi penguasa– sedang diuji. Jika Anda sering membaca berita di media massa, belum lama ini sedang ramai pengenai pasal penghinaan terhadap presiden dan kontroversialnya revisi UU MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3). Banyak pihak yang tidak setuju mengatakan, adanya aturan tersebut bisa menutup keran demokrasi kita.

Menyoal ini, saya tertarik dengan ungkapan seorang analis politik Rocky Gerung. Seperti namanya, ia memang sangat nyaring mengkritik pemerintahan Jokowi dengan segala kebijakannya. Namun Rocky, bisa mengejawantahkan kritikannya itu dengan sederhana, lugas, penuh makna, dan perumpamaan.

Misalnya saja, saat acara Indonesia Lawyer Club (ILC) beberapa waktu lalu, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia itu mengumpamakan Pemerintahan Jokowi sedang masa panik.

“Kita mencium ada semacam kepanikan di dalam rezim ini. Orang panik biasanya ingin cari pegangan apa saja. Kayak orang hanyut, dia mau raih apa saja. Entah itu kaleng bekas hanyut, batang pohon. Jadi kepanikan menunjukkan ada krisis, sebenarnya,” kata Rocky.

Saya melihat pernyataan ini meskipun sederhana namun penuh makna. Bisa menjawab, meskipun tidak secara eksplisit, terhadap kondisi negara kita saat ini. Apalagi diungkapan kedua, ia lebih jelas mengatakan bahwa rezim sekarang sedang menyembunyikan kebohongan.

“Rezim itu, kalau dia terus menerus mengendalikan kebenaran, artinya ada kebohongan yang hendak disembunyikan,” tegasnya. Kebohongan itu bagi saya bisa dengan cara, permainan isu di masyarakat. Pernahkah Anda bertanya, mengapa kok bisa ramai mengenai isu penyerangan ulama di media sosial oleh orang gila?

Isu itu justru tak pernah pernah ada sekecil apapun di benak saya. Tiba-tiba ramai dan menjadi polemik. Terlepas entah itu permainan penguasa atau ada manipulasi media. Data dari Kepolisian menyebutkan, ada 47 laporan isu penyerangan ulama, namun ada 5 kejadian penyerangan yang benar-benar terjadi. Sisanya ialah hoax. Ini jelas ironi, dan sah-sah saja jika publik menilai ada permainan atau yang membekingi di balik itu semua.

Kata Rocky Gerung bahwa, “Pembuat hoax terbaik adalah penguasa, karena mereka memiliki seluruh peralatan untuk berbohong.”

Terlepas dari itu semua, seperti yang saya katakan di awal tulisan bahwa, demokrasi di Indonesia tengah diuji. Baik itu oleh tantangan zaman karena ada kecanggihan teknologi dan informasi, ataupun karena ulah para penguasa yang ingin memproteksi diri dari kritik.

Di saat alam demokrasi kita kondisinya begini, saya menaruh harapan besar kepada para guru besar, profesor, pengamat, ahli dan jurnalis untuk tetap nyaring bersuara. Saya atau masyarakat lain yang bukan siapa-siapa, memang punya keresahan, tapi bisa saja ketakutan ketika ingin menyuarakan pandangan. Meskipun sebetulnya kita punya legitimasi untuk melakukan itu, sebab dalam demokrasi kedaulatan berada di tangan rakyat. Mereka yang berkuasa saat ini, sebetulnya atas kehendak rakyat, maka tidak etis bila mereka menutup telinga ketika rakyat menagih amanahnya.

Sebab untuk sampai pada tahap mengkritik, dibutuhkan proses berpikir/penalaran, kajian mendalam, atau mengumpulkan dasar-dasar yang objektif di lapangan. Jika sembarangan mengkritik kan gampang untuk dikriminalisasi. Ya jangankan untuk hal itu, mencukupi kebutuhan sehari-hari pun sulit. Logikanya, bagaimana kita bisa berpikir jika perut lapar.

Oleh karenanya, mereka (ahli, pakar, guru besar) yang sudah terbiasa berpikir, melakukan kajian, dan digaji oleh negara untuk tak berdiam diri menyuarakan pandangan. Sebab kami butuh ribuan orang seperti Rocky Gerung, sebagai jembatan penyelamat dari penyempitan demokrasi.

Filsuf Yunani Aristoteles pernah mengatakan, bahwa politik (sebagai salah satu instrumen dalam demokrasi) adalah digunakan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Maka benar ketika ia menyebut manusia sebagai zoon politicon atau hewan yang berpolitik bukan hewan di politik.

Bandung, 16 Maret 2018

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *