Energi Baru Terbarukan, Solusi Jangka Panjang Ketahanan Energi Nasional

Energi Baru Terbarukan, Solusi Jangka Panjang Ketahanan Energi Nasional

Kebutuhan energi di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal tersebut seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan jumlah penggunaan kendaraan bermotor. Dengan penerapan energi baru terbarukan (selanjutnya ditulis EBT), akan menjadi solusi jangka panjang bagi ketahanan energi nasional.

Menurut data BPS tahun 2019, jumlah penduduk Indonesia adalah sebanyak 267 juta jiwa. Bahkan, diprediksi pada 2045, Indonesia akan mengalami pertambahan penduduk sampai 319 juta jiwa. Sementara itu, jumlah pertumbuhan kendaraan bermotor juga terus mengalami peningkatan. Pada 2017 saja, BPS mencatat jumlah kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat adalah sebanyak 137 juta, dan mengalami peningkatan menjadi 146 juta pada 2018. Ini artinya 6 dari 10 penduduk Indonesia memiliki kendaraan pribadi.

Kehadiran EBT merupakan isu yang amat strategis dalam pemenuhan kebutuhan energi. Persoalan ini tentu dirasakan oleh semua negara, tidak hanya Indonesia. Oleh karena itu, negara yang menguasai energi, maka akan memiliki posisi menguntungkan di dalam persaingan global. Sebab, energi memegang peranan penting di berbagai sektor.

Melihat kondisi tersebut, tentu saja pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) harus segera mengambil kebijakan yang tepat sasaran agar krisis energi tidak terjadi di Indonesia. Nampaknya pemerintah telah merespons hal tersebut. Jika melihat Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), pemerintah terus berupaya melaksanakan percepatan pengembangan EBT agar dapat mencapai target 23% energi baru terbarukan pada bauran energi nasional tahun 2025.

Katalis dan Bioenergy

Pada 2018, total produksi energi primer yang terdiri dari minyak bumi, gas bumi, batubara, dan energi terbarukan mencapai 411,6 MTOE. Sebesar 64% atau 261,4 MTOE dari total produksi tersebut diekspor terutama batubara dan LNG. Selain itu, Indonesia juga melakukan impor energi terutama minyak mentah dan produk BBM sebesar 43,2 MTOE serta sejumlah kecil batubara kalori tinggi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sektor industri (Outlook Energi Indonesia, 2019).

Ketergantungan akan impor minyak mentah ini perlu dikurangi. Salah satu solusi jangka panjangnya adalah dengan beralih ke EBT. Beralih ke EBT sama artinya dengan menjaga alam. Sebab emisi atau polusi yang dihasilkan lebih “hijau” jika dibanding energi yang dihasilkan dari fosil dan batu bara. Mengapa demikian? Sebab EBT diperoleh dari angin, air, panas bumi, bioenergy, laut, dan sinar matahari. Sumber-sumber energi tersebut berasal dari alam dan oleh karena itu akan lebih ramah lingkungan.

Sesuai PP No. 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, target bauran energi baru dan terbarukan pada 2025 paling sedikit 23% dan 31% pada 2050. Mengacu pada hal tersebut, Indonesia sebetulnya mempunyai potensi energi baru terbarukan yang cukup besar untuk mencapai target bauran energi primer tersebut. Potensi tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut:

energi baru terbarukan

Dalam laporan Outlook Energi Indonesia (2019), total potensi energi terbarukan ekuivalen 442 GW digunakan untuk pembangkit listrik. Sedangkan BBN dan Biogas sebesar 200 ribu Bph, digunakan untuk keperluan bahan bakar pada sektor transportasi, rumah tangga, komersial, dan industri. Pemanfaatan EBT untuk pembangkit listrik tahun 2018 sebesar 8,8 GW atau 14% dari total kapasitas pembangkit listrik (fosil dan nonfosil) yaitu 64,5 GW.

Minimnya pemanfaatan EBT untuk ketenagalistrikan ini disebabkan oleh masih relatif tingginya harga produksi pembangkit berbasis EBT, sehingga sulit bersaing dengan pembangkit fosil terutama batubara. Selain itu, kurangnya dukungan industri dalam negeri terkait komponen pembangkit energi terbarukan serta masih sulitnya mendapatkan pendanaan berbunga rendah, juga menjadi penyebab terhambatnya pengembangan energi terbarukan.

Berbicara tentang EBT, kabar baik baru saja muncul. Indonesia kini akan membangun pabrik katalis yang mampu mengonversi minyak sawit menjadi bioenergy. Katalis itu disebut dengan “Katalis Merah Putih”. Pendirian pabrik patungan oleh PT Pertamina (Persero), PT Pupuk Kujang, dan PT Rekacipta Inovasi ITB, ini dimotori oleh Prof. Subagjo, ahli katalis dan reaksi kimia dari Institut Teknologi Bandung. Upaya ini tentu saja akan menghasilkan kemandirian bangsa dalam produksi energi nasional.

 

energi baru terbarukan
Kunjungan Menristekdikti Prof. Moh Natsir di Lab Katalis Pendidikan ITB. (Foto: itb.ac.id)

Pabrik katalis berkapasitas 800 ton/tahun yang akan dibangun tersebut, adalah pabrik katalis nasional pertama di Indonesia yang 100% dikembangkan dan dibangun oleh anak bangsa. Pabrik ini rencananya akan berlokasi di Kawasan Industri Cikampek dan dibangun untuk memenuhi kebutuhan katalis industri pengilangan minyak, industri kimia dan petrokimia, serta industri energi.

energi baru terbarukan
Produk katalis yang dihasilkan oleh ITB. (Foto: itb.ac.id)

“Pabrik katalis ini akan mulai dibangun pada September 2020 dan diharapkan akan mulai berproduksi pada tri wulan kedua 2021. Pengembangan dan pembangunan pabrik katalis ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mandiri dalam teknologi proses dan ketahanan energi,” ujar Prof. Subagjo dari Tim Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis (TRKK) ITB seperti dikutip di laman itb.ac.id.

Menurut Prof. Subagjo, katalis adalah kunci teknologi proses. Hampir seluruh industri proses, baik itu industri kimia, petrokimia, pengilangan minyak dan gas, maupun oleokimia—termasuk di dalamnya teknologi energi terbarukan berbasis biomassa dan minyak nabati, memerlukan katalis. Penguasaan teknologi katalis adalah langkah awal bagi kemandirian dalam bidang teknologi proses. Dengan demikian, Indonesia tak perlu lagi mengimpor. Melalui pabrik katalis ini, ia berharap dapat menjadi solusi bagi NKRI untuk meningkatkan kedaulatan teknologi proses nasional.

Upaya Pemerintah dalam Memenuhi EBT

Minyak bumi diprediksi akan semakin menipis. Sementara itu, cadangan energi dari fosil tersebut juga semakin berkurang. Berdasarkan Rencana Strategis (Renstra) Kementerian ESDM Tahun 2015–2019, cadangan minyak bumi Indonesia sebesar 3,6 miliar barel diperkirakan akan habis dalam 13 tahun mendatang. (Sa’adah dkk, 2017). Dalam kasus ini, Indonesia hanya mempunyai dua pilihan: mencari cadangan energi baru atau segera beralih dengan energi alternatif. Guna mempercepat pengembangan EBT, pemerintah telah mengetok palu dengan menerbitkan tujuh regulasi di antaranya sebagai berikut:

(1) Peraturan Presiden No. 4 Tahun 2016 (Pasal 14) tentang Percepatan Infrastruktur Ketenagalistrikan,

(2) Peraturan Presiden No. 66 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden No. 61 Tahun 2015 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit

(3) Peraturan Menteri Keuangan No.177/PMK.011/2007 tentang Pembebasan Bea Masuk atas Impor Barang untuk Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas serta Panas Bumi

(4) Peraturan Menteri Keuangan No.03/PMK.011/2012 tentang Tata Cara Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Fasilitas Dana Geothermal

(5) Peraturan Menteri ESDM No. 49 Tahun 2017 merupakan penyempurnaan atas Permen ESDM No. 10 Tahun 2017 tentang Pokok-Pokok Dalam Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik,

(6) Peraturan Menteri ESDM No. 50 Tahun 2017 merupakan revisi dari Permen ESDM No. 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik, dan

(7) Peraturan Menteri ESDM No. 49 Tahun 2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap oleh Konsumen PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Baca Outlook Energi Indonesia, 2019: 7)

Menurut Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana, seperti dikutip di laman esdm.go.id, pemerintah telah merilis lima langkah pengembangan EBT. Pertama, dengan menambah kapasitas pembangkit untuk produksi energi. Dalam beberapa tahun ke depan, pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) akan digencarkan.

Langkah kedua, dengan menambah penyediaan akses terhadap energi modern bagi daerah terisolasi, khususnya pembangunan energi perdesaan dengan mikrohidro, tenaga surya, biomassa, dan biogas. Ketiga, dengan mengurangi biaya subsidi BBM, di mana substitusi PLTD dengan pembangkit EBT dapat mengurangi subsidi. Sedangkan, langkah keempat dan kelima adalah mengurangi emisi gas rumah kaca dan penghematan energi besar-besaran.

Pertamina juga telah melakukan inovasi berkelanjutan dengan sukses mengolah Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil (RBDPO) 100 persen yang dapat menghasilkan produk Green Diesel atau D-100 yang mencapai 1.000 barel per hari di fasilitas existing Kilang Dumai. Kehadiran inovasi tersebut, dapat menghasilkan produk green energy untuk menjawab tantangan energi yang lebih ramah lingkungan (Republika.co.id, 2020)

energi baru terbarukan
Kilang minyak pertamina. (Foto: Republika.co.id)

Tentu saja, berbagai upaya tersebut harus kita respons positif. Pemerintah pun dalam hal ini tidak bisa berjalan sendiri, butuh peran serta triple helix (pemerintah, industri, dan perguruan tinggi) agar upaya tersebut dapat direalisasikan dengan baik. Melalui peran triple helix, mimpi Indonesia sebagai negara yang memiliki ketahanan energi akan semakin terwujud.

Upaya Kita untuk Melakukan Penghematan Energi

Jika pemerintah sudah banyak melakukan ikhtiar, kita sebagai masyarakat—dalam hal ini pengguna energi, juga perlu berperan aktif dalam penghematan energi. Tantangan pada aspek ini juga cukup berat, sebab kita harus mengubah pola pikir dan gaya hidup masyarakat. Saat ini, boleh dikatakan kita sedang dimanjakan dengan ketersediaan energi yang cukup melimpah, baik listrik maupun BBM. Namun jika merenung sejenak, bagaimana nasib anak cucu kita 30 sampai 40 tahun lagi? Akankah seenak sekarang?

Ketergantungan terhadap energi fosil adalah hal yang harus dikhawatirkan oleh generasi yang hidup saat ini. Prof. Yazid Bindar, Guru Besar ITB pada Kelompok Keahlian Teknologi Pengolahan Biomassa dan Pangan, mengatakan, sedikitnya ada tujuh kebutuhan dasar yang krusial bagi umat manusia saat ini, di antaranya yaitu udara bersih, ketersediaan air bersih, makanan (pangan), kesehatan, hunian (tempat tinggal), energi di rumah (listrik), dan terakhir kebutuhan transportasi. Kebutuhan dasar tersebut akan mengalami krisis jika sejak saat ini, manusia kurang bijak dalam pemanfaatannya. Oleh karena itu, kita harus berhemat. Itulah upaya kita selaku individu yang penuh rasa tanggung jawab bagi kelangsungan hidup di masa depan.

Apa saja yang bisa kita lakukan dalam rangka melakukan penghematan energi? Berikut ini adalah beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan di rumah atau lingkungan masing-masing.

  1. Matikan Listrik Jika Tidak Dipakai

Banyak orang kerap mengabaikan hal sederhana ini: mematikan lampu saat sedang tidak digunakan. Contohnya adalah ketika tidur, seringkali lampu dibiarkan tetap menyala. Alangkah lebih bijak jika kita mematikan saja lampu-lampu yang memang tidak dipakai. Cukup menyalakan lampu yang memang dikhususkan untuk tidur. Selain itu, cabut alat-alat yang ada di colokan listrik. Meskipun tidak dipakai, alat-alat tersebut juga mengambil daya listrik meskipun kecil.

Baca juga: Mati Listrik? Sudah Biasa Bagi Kami

  1. Bijak Menggunakan Dispenser

Hampir setiap rumah memiliki dispenser. Salah satu fasilitasnya tentu saja adalah memanaskan air minum. Untuk lebih berhemat, cukup nyalakan pemanas dispenser jika memang akan digunakan saja untuk membuat teh atau kopi. Setelah itu, matikan kembali. Cara lainnya, kita bisa memanaskan air di kompor, lalu menyimpannya di termos. Kiat ini tentu lebih irit dan hemat.

  1. Matikan TV Jika Tidak Ditonton

Kebiasaan ini masih sering dilakukan banyak orang. Televisi dibiarkan menyala meskipun tidak ada yang menonton. Alih-alih dijadikan “teman” di kala mau tidur, padahal sebetulnya daya listrik dari televisi ini cukup besar. Meskipun saat ini sudah banyak televisi hemat energi, tetap saja jika dibiarkan menyala terus-menerus akan boros listrik juga.

  1. Kurangi Penggunaan Pendingin Ruangan

Bagi lingkungan perkantoran, penggunaan pendingin ruangan (AC) mungkin sangat lumrah. Namun, saat ini rumah-rumah juga sudah banyak yang memasang AC. Perlu diketahui, penggunaan AC dengan 1 PK saja, umumnya menyedot daya sekitar 840 watt. Tentu ini termasuk perilaku boros energi. Padahal ada alternatif lain untuk mengurangi penggunaan AC, yaitu dengan memperbaiki sirkulasi udara rumah atau ruangan.

  1. Gunakan Lampu Hemat Energi

Kiat ini sangat erat kaitannya dengan poin ke-1. Sebagai salah satu langkah menghemat energi di rumah, gantilah lampu biasa dengan lampu hemat energi (LED). Dengan watt yang sama, lampu LED bisa menghasilkan sinar yang lebih terang dibandingkan lampu biasa atau lampu pijar. Umur dari lampu LED juga biasanya lebih lama. Jadi, selain dapat menghemat listrik, juga bisa berhemat pengeluaran.

  1. Jangan Gunakan Gawai Sambil Mengisi Daya

Ini kebiasaan yang hampir dilakukan setiap orang. Secara logika, jika gawai atau hand phone sedang diisi daya lalu kita gunakan untuk menonton video atau bermain game, misalnya, tentu waktu pengisian daya sampai penuh akan semakin lama, yang berarti listrik yang dipakai pun akan lebih besar. Lebih baik, saat mengisi daya, matikan gawai kita, dan tunggu sampai penuh. Dengan cara tersebut, kita juga bisa memperpanjang usia baterai.

  1. Kurangi Penggunaan Pemanas Air (Water Heater)

Langkah lainnya yang bisa kita lakukan untuk menghemat energi adalah dengan mengurangi penggunaan alat pemanas air. Sebab pemanas air biasanya hanya digunakan untuk mandi saja, dan selalu stand by menyala. Tentu sangat disayangkan dan efeknya adalah boros listrik. Cobalah beralih dengan memanaskan air secara manual saja di kompor. Meskipun sedikit repot, tetapi panas yang dihasilkan toh sama. Dan tentu saja akan lebih hemat listrik.

  1. Beralih ke Meteran Listrik Prabayar (Token)

Kiat terakhir adalah dengan mengganti alat meteran listrik dengan sistem prabayar atau pulsa. Dengan begitu, penggunaan listrik akan lebih terkontrol karena kita bisa melihat langsung jumlah pemakaian sehari-sehari. Berbeda dengan penggunaan meteran listrik pascabayar, karena kita tidak bisa melihat penggunaan harian, tiba-tiba tagihan bulanan menjadi membengkak.

**

Kebutuhan energi memang sangat penting bagi kehidupan. Namun demikian, karena populasi manusia semakin mengalami peningkatan—ditambah pertumbuhan kendaraan juga meningkat, maka krisis energi bisa menghantui kita kapan saja. Pemerintah telah berupaya dengan mengeluarkan regulasi pemanfaatan EBT, industri telah berperan dengan hilirisasi inovasi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi, maka kita juga harus turut serta dalam melakukan penghematan energi. Semoga kolaborasi ini bisa menciptakan sinergi yang baik untuk ketahanan energi nasional. Sebab masa depan anak-cucu kita kelak, bergantung pada apa yang kita lakukan hari ini.

*Artikel ini ditulis dalam rangka lomba karya tulis “Energi untuk Indonesia” yang diselenggarakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI tahun 2020.

Referensi:

Adita Fitra, Helmia. 2018. Ketahanan Masyarakat terhadap Ancaman Krisis Energi Listrik di Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung. Jurnal Wilayah dan Lingkungan. Vol.6 No.1.

Dewan Energi Nasional. 2019. Outlook Energi Indonesia 2019. Jakarta: Dewan Energi Nasional

Sa’adah, A. F. dkk. 2017. Peramalan Penyediaan dan Konsumsi Bahan Bakar Minyak Indonesia dengan Model Sistem Dinamik. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia. Vol.17 No.2.

Idris, Muhamad. 2020. BPS: Penduduk Indonesia Diprediksi Capai 319 Juta Jiwa di 2045. Kompas.com. https://money.kompas.com/read/2020/02/14/181000126/bps–penduduk-indonesia-diprediksi-capai-319-juta-jiwa-di-2045?page=all. Diakses 4 Agustus 2020.

Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis dari Tahun 1949-2018. Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1133. Diakses 4 Agustus 2020.

Potensi Energi Baru Terbarukan di Indonesia. Kementerian ESDM RI. https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/potensi-energi-baru-terbarukan-ebt-indonesia. Diakses 5 Agustus 2020.

Permana, Adi. 2019. Solusi Mengatasi Krisis Pangan dan Energi di Masa Depan Menurut Prof. Yazid Bindar. Institut Teknologi Bandung. https://www.itb.ac.id/news/read/57185/home/solusi-mengatasi-krisis-pangan-dan-energi-di-masa-depan-menurut-prof-yazid-bindar. Diakses 6 Agustus 2020.

Penandatanganan Perjanjian Usaha Patungan Pendirian Pabrik Katalis Merah Putih. Institut Teknologi Bandung. https://www.itb.ac.id/news/read/57557/home/penandatanganan-perjanjian-usaha-patungan-pendirian-pabrik-katalis-merah-putih. Diakses 6 Agustus 2020.

Pratiwi, Intan. 2020. Kilang Dumai Siap Produksi Bahan Bakar D-100. Republika.co.id. https://republika.co.id/berita/qdjqtw383/kilang-dumai-siap-produksi-bahan-bakar-d100. Diakses 6 Agustus 2020.

Adi Permana
Latest posts by Adi Permana (see all)

6 Comments

  1. Tulisan ini menyadarkan kita, generasi yg terlalu nyaman menggunakan, tanpa memikirkan nasib generasi ke depan.
    Tips nya praktis untuk dilakukan dari hal terkecil.

    Semoga sukses, kak!

  2. Wow keren banget sekarang Indonesia udah punya pabrik katalis berarti ya, duuh mesti inves di CPO nih kali2 nanti jadi juragan minyak, hihihi. Keep writing nu kararieu nya masadi, saeeee!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *