Hidup itu Spekulasi

Hidup itu Spekulasi

Semua hal dalam hidup ini ya spekulasi, kecuali yang sudah terjadi. Padahal, begitu terjadi, ia langsung menjadi masa silam. Yang kita hadapi setiap detik adalah sesuatu yang kita belum tahu, sehingga posisi kita selalu ada spekulasi. Lha, supaya spekulasi itu tidak membosankan dan membuat kita putus asa, kita wujudkan menjadi usaha terus menerus, kerja keras, dan doa kepada Tuhan.

Begitu kata Emha Ainun Najib dalam Danur 1 (2017:345). Kira-kira Anda tahu apa maksudnya? Saya mencoba menafsirkan kutipan tersebut dengan sebuah pengandaian. Misalnya, ada seseorang yang tengah mengalami quarter of life crisis — biasanya di usia 24-26 tahun. Mereka cenderung dilema memutuskan untuk menikah, berkarir, atau melanjutkan sekolah. Ketiga pilihan tersebut sangatlah spekulasi.

Bagi yang memilih menikah, dia haruslah usaha mencari nafkah dan kerja keras untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga; sandang, pangan, dan papan. Orang yang memilih karir juga sama, dia mesti struggling dengan bekerja sebaik-baiknya agar dapat menempati posisi strategis di sebuah perusahaan, atau dalam mengembangkan bisnisnya, ataupun yang masih apply job ke perusahaan yang diidamkan dengan gaji yang menggiurkan.

Pun dengan yang memutuskan kembali melanjutkan sekolah. Usaha dan kerja kerasnya tentu saja akan lebih banyak dicurahkan pada belajar, belajar, dan belajar. Hingga dia tembus beasiswa, meraih gelar magister dan doktor, menguasai bahasa asing, menerbitkan jurnal berkualifikasi Q1 dan pencapaian akademik lainnya.

Ketiga pilihan tersebut butuh usaha dan kerja keras untuk dapat meraih apa yang diharapkan/dicita-citakan. Terlepas, apakah itu hanyalah pencapaian pribadi, maupun menyangkut kepentingan orang banyak.

Tapi yang jelas, seberapa besar usaha dan setangguh apapun kerja kerasmu, doa adalah penentu segalanya. Tuhan telah menggariskan nasibmu akan menjadi ini, sebagai apa, kelak di kemudian hari. Tapi Dia merahasiakannya, dan tak ada yang tahu. Agar apa? Agar spekulasi hidup tak menjenuhkan dan memboskan. Dan kita harus mengisinya dengan usaha, kerja keras, disertai doa.

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *