I Quit Smoking!

I Quit Smoking!

sumber: freepik.com

Saya begitu terenyuh saat melihat sebuah video yang dimuat di media massa tentang penyesalan Mas Indro Warkop yang kehilangan istri tercintanya belum lama ini. Mas Indro sangat menyesal karena dirinya pernah merokok dan karena itulah, orang yang sangat ia sayangi mengidap kanker paru-paru.

“Sebenarnya saya malu banget. Merokok adalah kebodohan terbesar dalam hidup saya. Inilah contoh yang tidak baik, saya merokok sejak umur 11 tahun, padahal orang tua saya tidak merokok, saya melihat dari sepupu. Apalagi dari kecil saya mainnya sama orang-orang dewasa,” kata Mas Indro seperti dikutip dari berita Kompas.com dengan judul “Indro Warkop: Merokok, Kebodohan Terbesar”. Dalam berita tersebut, Mas Indro bahkan mengungkapkan dirinya bisa menghabiskan lima bungkus rokok dalam sehari selama 30 tahun merokok.

Terlepas dari kontroversi yang muncul belakangan bahwa istrinya dulu perokok aktif atau hanya sebagai perokok pasif, apa yang disampaikan Mas Indro harus menjadi renungan bersama, terutama kepada para perokok. Bahwa gaya hidup tak sehat itu selain memengaruhi kesehatan diri sendiri, juga berpengaruh negatif kepada lingkungan.

Mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa merokok seolah sudah menjadi gaya hidup di masyarakat kita. Hampir sangat mudah kita menemui orang yang merokok di lingkungan sekitar mulai dari yang tua, sampai generasi muda. Rokok juga mudah didapatkan, hampir di setiap warung kelontongan/kecil menjual rokok. Mereka bahkan bebas menjualnya, baik dalam bungkusan atau batangan kepada siapapun yang membelinya, sekalipun pembeli itu usianya di bawah umur.

Sadar ataupun tidak, rokok itu memiliki efek candu. Ketika sudah kecanduan rokok, sangat sulit untuk lepas. Banyak teman-teman saya bercerita, godaan terberat dari berusaha berhenti merokok adalah melihat orang lain merokok, atau saat berkumpul dengan teman satu tongkorangan yang semuanya ikut merokok. Saya mengalami hal serupa saat berusaha berhenti merokok. Ya, saya pun pernah kecanduan merokok. Awal mulanya karena coba-coba, penasaran dan sebuah doktrin bahwa dengan merokok dapat memunculkan inspirasi untuk menulis.

Percayalah, tulisan ini dibuat tanpa merokok. Saya menyerap sumber inspirasi tulisan ini justru lewat musik-musik keroncong. Jadi asumsi yang terakhir, merokok mampu memberi inspirasi itu keliru ternyata. Hehe…

Dampak Kesehatan

Pembaca yang budiman, adakah di antara kalian yang masih aktif menggunakan Twiiter? Salah satu akun yang menginspirasi dan dapat mendorong seseorang untuk berhenti merokok adalah akun @Sutopo_PN. Dia adalah Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI, juga seorang penyintas kanker. Meskipun sedang sakit yang sudah studium empat, tapi Sutopo tetap berusaha memenuhi kebutuhan informasi masyarakat soal kebencanaan di Indonesia.

Menariknya, beberapa postingan di time line Twitter-nya banyak mengajak untuk menjaga hidup sehat. Saya menerjemahkan ajakan itu kepada berhenti merokok, karena dia sedang mengidap kanker paru-paru yang menurut beberapa artikel, penyebabnya adalah dari asap rokok.

Dikutip dari artikel hellosehat.com, bahaya merokok bagi kesehatan yang paling utama dating dari racun karsinogen (penyebab kanker) dan karbon monoksida pada asap rokok. Kedua zat tersebut akan terhirup saluran pernapasan, yang pada akhirnya dapat memicu kerusakan organ dan menurunnya fungsi dari organ system jantung, pembuluh darah dan pernapasan.

Itulah penjelasan secara ilmiah. Saya ingin memberikan contoh ringan dalam kehidupan sehari-hari. Pernahkah kalian merasa dada sesak saat bangun tidur, mudah lelah ketika olahraga berat? Bisa jadi itu salah satu dampak dari keseringan menghisap rokok. Jika tetap bersikukuh bahwa merokok tidak mempunyai dampak buruk bagi kesehatan, coba saja datang ke dokter, lalu cek kondisi paru-paru kalian.

Tapi ada orang yang sudah tua, merokok dan kondisi tubuhnya sehat-sehat aja. Itu bagaimana? Secara logika, menurut saya dampak negative dari merokok itu akan berakumulasi di kemudian hari. Bisa jadi hari ini baik-baik saja, tapi di kemudian hari baru terasa.

Banyak orang yang berhenti merokok karena dia sudah divonis mengidap penyakit tertentu. Apakah kalian mau menjadi orang seperti itu? Harus sakit dahulu lalu berhenti merokok? Bukan berarti mendoakan, tapi alangkah lebih baik jika berhenti merokok karena kesadaran daripada setelah vonis dokter. Ingat, penyesalan itu berada di akhir.

Lalu bagaimana dengan saya. Setelah berhenti, saya merasakan daya tahan tubuh lebih baik. Dulu sering sekali mudah terserang flu, batuk, dan gangguan pernafasan lain. Meskipun jarang berolahraga, sekalinya melakukan aktifitas fisik yang berat, tubuh serasa tidak mudah lelah dan nafas sesak. Kalau dalam Bahasa Sunda tidak gampang “eungap”.

Dampak Ekonomi

Pernah mendengar istilah begini. Merokok itu sebetulnya punya manfaat karena pajak dari tembakau sangat besar pemasukannya untuk negara. Bahkan dari pajak/pemasukan rokok, sebagian dipakai untuk dana pendidikan dan kesehatan. APBN kita, kalau tidak salah, banyak disumbang dari rokok pula. Jadi apakah harus berterimakasih kepada para perokok karena telah membantu yang sakit, dan membantu dunia pendidikan kita? Entahlah. Tapi itulah kenyataannya.

Iklan-iklan yang dilakukan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan sebetulnya sudah banyak dilakukan dalam menyosialisasikan bahaya merokok. Namun seolah semua itu tak berarti apa-apa. Juga tidak akan pernah efektif selama masyarakat tidak aware pada kesehatannya sendiri. Seseram apapun gambar dampak merokok di bungkus-bungkus rokok, tidak akan mempan bagi para pecandu rokok. Bahkan hanya jadi meme kan? Sebab yang perlu dirubah adalah pola pikir mereka. Itu yang sulit.

Akan tetapi, sosialisasi memang masih menjadi salah satu medium yang efektif. Cuman mungkin pengemasannya harus lebih baik dan menyentuh. Buatlah lebih kreatif karena generasi muda bosan dengan iklan yang begitu-begitu saja. Namun juga yang perlu diperhatikan adalah orang tua. Sebab mereka sendirilah yang mempromosikan gaya hidup tidak sehat kepada anak-anaknya dengan merokok di rumah dan lingkungan sekitar yang banyak anak-anak. Saran saya, jika orangtua tak sanggup menahan dorongan ingin merokok, jangan di dekat anak-anak dan jangan sampai terlihat, karena anak akan penasaran dan menirunya.

Kalau pemerintah mengeluarkan kebijakan menutup pabrik rokok bagaiamana? Saya mungkin tidak berpikir ekstrim ke arah sana sebab harus dilihat juga nasib para petani dan buruh yang hidup dari rokok. Kalau sampai pabrik tutup, bagaimana mereka bisa menghidupi keluarganya. Sementara jumlah mereka ratusan ribu orang.

Wacana yang sering terlontar soal larangan merokok ialah kepentingan perang dagang. Tapi saya tidak akan terlalu dalam membahas mengenai ini karena masih di tataran asumsi. Dampak ekonomi yang paling berpengaruh besar dari rokok, adalah pengeluaran sehari-hari. Berapa besar duit yang “dibakar” ketika kita membeli rokok. Jika satu bungkus rokok dibeli seharga Rp 20 ribu untuk tiga hari, berapa besar uang yang harus dikeluarkan untuk membeli rokok selama satu bulan bahkan satu tahun? Pengeluaran itu tidak kita sadari kan?

Jika kita tidak membeli rokok, itu akan lebih hemat bukan? Tapi dalih para perokok seringkali bilang, mau beli rokok atau pun tidak, tetap saja uang akan habis. Bagi saya jawab ini memang betul. Tapi dari sisi kesehatan jauh lebih baik bukan, misalnya uang merokok diganti dengan membeli buah, apakah itu tidak lebih baik? Jadi memang merokok tidak hanya menyerang kesehatan, tapi juga menyerang pola pikir manusia.

Pada tulisan ini, saya tidak bermaksud untuk menggurui atau berceramah. Hanya saja, ingin mengajak berpikir dengan akal sehat. Jika pun teman-teman tetap bersikukuh untuk merokok, setidaknya harus tahu etika. Merokoklah di tempat yang seharusnya, jangan di tempat umum. Hargailah yang tidak merokok karena mereka berhak mendapatkan udara yang bersih.

Lalu apa tips untuk yang ingin berhenti merokok?

1. Niat dan komitmen yang kuat;
2. Dukungan orang terdekat;
3. Alihkan rokok dengan permen;
4. Perbanyak Olahraga;
5. Cari lingkungan yang bersih dari asap rokok;

Lingkungan di pekerjaan juga sangat berpengaruh. Kebetulan, di tempat saya bekerja terdapat aturan dilarang merokok. Jadi sangat membantu sekali bagi yang mau berhenti merokok. Semoga tulisan ini menginspirasi. Terima kasih.

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *