Mati Listrik? Ah Itu Sudah Biasa Bagi Kami

Mati Listrik? Ah Itu Sudah Biasa Bagi Kami

Seminggu yang lalu, tepatnya tanggal 4 Agustus 2019, wilayah Banten, Jabodetabek, Jawa Barat dan sekitarnya sempat dilanda kejadian mati listrik total beberapa jam. Imbas dari peristiwa tersebut, banyak pihak mengalami kerugian materiel dan bahkan sampai korban jiwa menurut berita di media massa dan online.

Selain itu, jaringan internet untuk sebagian provider pun mati. Tentu saja hal ini berdampak galau bagi generasi Z atau milenial yang amat ketergantungan pada sosial media. Begitupun dengan para “pasukan” di mobile legend, mereka terpaksa harus menganggur untuk beberapa jam.

Menurut laporan Tirto.id, penyebab mati listrik karena gangguan transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV Ungaran dan Pemalang. Gangguan pada SUTET di dua tempat itu menyebabkan transfer listrik dari timur ke barat Pulau Jawa mengalami kegagalan. Kegagalan ini pada akhirnya menyebabkan gangguan di seluruh pembangkit di sisi tengah dan barat Pulau Jawa. (Baca : https://tirto.id/efCR.)

Dari kejadian tersebut, mengingatkan saya saat wawancara dengan Prof. Yazid Bindar, Guru Besar di ITB. Dia mengatakan, ada 7 kebutuhan dasar yang dunia butuhkan saat ini, yaitu udara bersih, air bersih, makanan (pangan), kesehatan, hunian (tempat tinggal), energi di rumah (listrik), dan terakhir transportasi.

(Baca: https://www.itb.ac.id/news/read/57185/home/solusi-mengatasi-krisis-pangan-dan-energi-di-masa-depan-menurut-prof-yazid-bindar)

Dari 7 poin kebutuhan dasar tersebut, salah satunya ialah listrik. Tanpa listrik, manusia akan sulit dalam beraktivitas. Karena ketergantungan itulah yang menyebabkan orang-orang heboh saat kejadian mati listrik seminggu lalu, bahkan sampai beberapa hari diberitakan oleh media dan masuk headline. Padahal bisa disikapi dengan biasa saja, toh nanti juga bakal hidup sendiri.

Asal kalian tahu, sekitar 80 kilometer dari Cianjur Kota ke arah selatan, ada sebuah daerah yang kondisi listriknya tidak sestabil di perkotaan. Nama daerah tersebut Tanggeung, kampung halaman saya. Pemadaman bergilir bukan barang asing bagi kami. Tidak mengenal waktu, hari ataupun pemberitahuan sebelumnya.

Saya menilai, ya mungkin wajar sering terjadi pemadaman bergilir karena medan ke sini sangat berat. Kabel listrik dari PLN mesti menembus jurang, bukit, lebatnya hutan. Tak ayal, kalau cuaca sedang buruk, listrik mati lebih sering terjadi kemungkinan bisa saja disebabkan faktor alam seperti adanya longsor atau pohon tumbang.

Pernah suatu waktu, saat saya sedang nonton bareng pertandingan super big match Persib (entah dengan Persija atau dalam laga final), yang jelas sangat tegang dan mendebarkan di menit akhir, tiba-tiba listrik padam. Keselnya bukan main itu!Segala jenis umpatan langsung dilontarkan, dari hewan sampai mahluk ghaib. Ya, namanya juga ekspresi spontanitas.

Nah, kejadian mati listrik pun saya rasakan lagi sekarang saat mudik ke rumah dalam rangka merayakan Hari Raya Idul Adha. Untungnya, karena sedang di masjid dan takbiran, saya lebih sopan dalam mengumpat, “Allahu Akbar….. (berilah mereka) walillahilhamd”.

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *