Memahami Sistem Akustik Masjid

Memahami Sistem Akustik Masjid

Masjid tidak hanya menjadi tempat beribadah (salat) tetapi juga digunakan untuk tempat diskusi, mengaji, dan tentu saja dakwah. Oleh karena itu masjid memerlukan sistem akustik yang baik. Apa itu sistem akustik masjid? Berikut penjelasannya.

Pengertian Akustik Masjid

Berdasarkan pemahaman umum masyarakat, akustik identik dengan sistem tata suara. Akan tetapi, akustik di masjid tidak hanya dilihat dari sisi sistem tata suara saja, melainkan juga dilihat dari konsep ruangannya, yaitu akustik ruang (Sarwono, 2020).

Memahami sistem akustik masjid ini sangat menarik. Sebagian masyarakat mungkin tidak memahami konsep ini. Bahwa bentuk masjid itu memengaruhi sistem akustik. Pengaturannya pun tidak akan sama antara satu masjid dengan masjid yang lain.

Juga bahwa pengeras suara yang berkualitas tidak menjadi jaminan bahwa audio di dalam masjid akan bagus. Penempatan pengeras suara, yang disesuaikan dengan jenis ruangan, adalah yang tepat untuk kualitas tata suara di dalam masjid.

Dalam buku yang ditulis oleh Kelompok Keahlian Fisika Bangunan, Fakultas Teknologi Industri ITB, Joko Sarwono dkk tentang Peningkatan Kualitas Akustik Masjid yang diterbitkan oleh ITBPress tahun 2020, dijelaskan bahwa sistem akustik masjid yang baik adalah mampu mengarahkan pendengaran makmum/jemaah ke kiblat. Dengan begitu, dapat menambah kekhusukan kita dalam beribadah.

Akustik masjid yang baik dapat dicapai dari empat hal:

  1. Menghadapkan “pendengaran jamaah” ke arah kiblat,
  2. Mencukupkan energi untuk mendengar,
  3. Mencukupi kondisi untuk menyimak informasi, dan
  4. Menghasilkan rasa audial unik ruang masjidnya.

Dalam memahami sistem akustik masjid, faktor penting yang perlu diperhatikan adalah melihat efek suara yang dihasilkan, yang mampu membangun persepsi seseorang yang berada di dalamnya.

Disebutkan Joko Sarwono, masjid sebagai ruangan untuk beribadah haruslah terasa sebagai tempat ibadah yang khusuk dan agung.

“Efek ini dapat ditimbulkan oleh adanya gaung di dalam ruangan. Di sisi lain, ruangan ini juga memiliki fungsi untuk kegiatan percakapan, sehingga aspek kejelasan suara ucap menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Hal-hal yang disebutkan ini menyebabkan akustik ruangan memiliki peran yang sangat penting di dalam masjid.” Sarwono (2020).

Pengaruh Material di Dalam Masjid Terhadap Sistem Akustik Masjid

Bahan-bahan material yang terdapat di dalam masjid ternyata dapat memengaruhi sistem akustik. Hal ini jarang disadari. Sayangnya banyak masjid yang menggunakan material keras seperti keramik yang dipasang di dinding sehingga membuat degung menjadi lebih besar.

Material yang baik di dalam masjid adalah yang dapat menyerap suara. Sehingga dengung yang dihasilkan pas dan membuat nyaman di telinga jamaah.

Secara umum, kondisi akustik masjid dipengaruhi oleh sistem geometri (bentuk) dan material yang terpasang di dalam masjid. Gemoteri ditentukan oleh dimensi dari masjid dan bentuk masjid. Semakin besar ukuran masjid maka pantual di dalam ruangan akan semakin banyak sehingga akan semakin berdengun.

“Untuk mengendalikan pantulan ini perlu dipasang material yang mampu menyerap suara. Secara umum material yang dimaksud adalah material lunak dan berpori. Material penyerap suara harus dipasang di tempat yang tepat agar penyerapan suara menjadi lebih optimal.” Sarwono (2020:19).

Mengenal Bentuk-Bentuk Masjid di Indonesia

sistem akustik pada masjid
Foto diambil dari buku Peningkatan Kualitas Akustik Masjid. (Foto: Adi Permana)

Saat mempelajari sistem akustis masjid, tak kalah penting adalah mengenal bentuk-bentuk masjid. Seperti telah disebutkan, bentuk masjid sangat memengaruhi pantulan suara juga degung yang dihasilkan. Di Indonesia sendiri, terdapat tiga bentuk umum masjid yang sering dijumpai, yaitu:

1.Bentuk Kubah

Masjid berbentuk kubah memberikan kesan agung dan indah secara arsitektural, dengan kubah berbentuk setengah lingkaran di atasnya. Namun, menurut Sarwono, tipe masjid seperti ini dapat menimbulkan masalah jika tidak diperhatikan dimensi kubah dan material yang digunakan di dalamnya.

Sistem akustik masjid
Masjid Kubah Mas Depok (Foto: Republika)

Dalam hal ini, persoalan yang kerap kali timbul adalah suara yang terfokus di bawah kubah masjid. Sehingga dapat mengganggu pendengar (jamaah) yang berada di bawah kubah.

sistem akustik masjid
Kondisi di dalam Masjid Kubah Mas Depok. (Foto: Republika)

2. Bentuk Limasan

Bentuk limasan memiliki langit-langit yang tak merata. Contohnya masjid Agung Cianjur. Atapnya berbentuk segitiga dan terdapat lekukan-lekukan lain.

sistem akustik masjid
Masjid Agung Cianjur (Foto: Republika)

Secara umum bentuk limasan ini dapat memberikan keuntungan, yaitu tetap memiliki kesan megah, tanpa terjadi efek suara yang refokus di dalamnya.

3.Bentuk Datar

Masjid jenis ini juga banyak dijumpai di Indonesia, bahkan cenderung disebut masjid modern. Tipe masjid dengan langit-langit datar adalah bentuk paling aman untuk mengaplikasikan sistem tata suara yang baik dan nyaman.

Bentuk langit-langit yang datar dapat memberikan fleksibilitas dalam pemasangan pengeras suara. Kondisi ruangan akan semakin optimal apabila digunakan material akustik yang baik di bagian langit-langit.

Contoh masjid tipe seperti ini adalah masjid Salman ITB.

sistem akustik masjid
Masjid Salman ITB (Foto Merdeka.com)

Masjid Bukan Hanya Tempat Ibadah

Sejak zaman nabi, masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga dimanfaatkan untuk mengaji, diskusi bahkan merencanakan stategi perang.

Baca juga: Lombok Kota Seribu Masjid

Hal tersebut juga terjadi di era modern. Masjid kerap dipakai sebagai tempat kajian, mengaji, diskusi, bahkan untuk akad nikah.

Karena banyak dimanfaatkan untuk berkomunikas (baik satu arah, maupun dua arah), sehingga aspek suara ini sangat penting untuk diperhatikan.

Seringkali, masjid memiliki konsep arsitektur yang megah, indah, dan agung, yang ditampilkan dengan penggunaan material yang keras dan langit-langit yang cenderung tinggi. Konsep ini baik, akan tetapi menyebabkan pantulan suara di dalam ruangan semakin dominan, yang hasilnya mengurangi kejelasan suara.

Tentu kita akan sangat terganggu. Meskipun materi dakwah yang disampaikan bagus, akan tetapi jika suara yang dihasilkan tidak dapat didengar dengan baik oleh jamaah, fokus mereka pun akan terganggu. Sehingga pesan dakwahnya tak tersampaikan secara efektif.

Salah satu aspek dari kejelasan suara di masjid adalah kehadiran pengeras suara. Semakin banyak pengeras suara, maka akan semakin banyak pula suara langsung yang dihasilkan. Namun suara langsung yang banyak, juga akan menghasilkan suara pantul dan dengung. Kondisi ini harus diperhatikan sebab suara langsung harus tetap menjadi suara dominan.

Lalu Seberapa Keras Suara yang Ideal di Dalam Masjid?

Berkaitan dengan hal ini, semakin keras suara tentu saja akan semakin jelas informasinya. Namun terlalu keras juga dapat menggangu kesan pendengaran jamaah.

Sementara itu, jika semakin pelan suara, maka informasinya kurang dapat tersampaikan dengan baik.

Menurut Sarwono, yang ideal adalah suara yang dihasilkan merata di segala titik di dalam masjid. Tidak terlalu keras, juga tidak terlalu kecil. Suara yang dihasilkan dapat terdengar dengan baik. Ada teori untuk menghitungnya, namun tidak akan saya sampaikan di dalam tulisan ini.

Untuk informasi lengkap, bisa pembaca baca di buku ini

sistem akustik pada masjid
Buku Peningkatan Kualitas Akustik Masjid. Foto Adi Permana

Penggunaan Material Penyerap Suara di Dalam Masjid

Pemasangatn material penyerap suara di dalam masjid sangat penting untuk dapat mengendalikan dengung dan pantulan suara.

Seringkali orang tak memahami apa perbedaan antara material penyerap suara dan material penahan suara.

Material penyerap suara adalah material yang mampu menyerap suara, sehingga energi suara yang memantul menjadi berkurang.

Sementara itu, material yang mampu menahan suara adalah material yang menahan suara agar tidak diteruskan ke bagian belakang material. Ini digunakan untuk mengendalikan pantual di dalam ruangan.

Menurut Sarwono, terdapat dua jenis material penyerap suara yang lazim digunakan, yaitu bahan penyerap suara porus, dan bahan penyerap suara resonator. Apakah itu?

Bahan penyerap suara porus memiliki karakteristik lunak, berpori, dan umumnya memiliki penyerapan yang baik pada frekuensi menengah-tinggi, dan mampu menyerap suara pada frekuensi yang lebar. Contohnya karpet, gorden, foam, glaswool, rockwool dll.

Adapun bahan penyerap suara resonator adalah bahan penyerap yang digunakan untuk menyerap suara pada frekuensi rendah dengan penyerapan pada frekuensi yang sempit. Bahan tipe ini memiliki permukaan yang kasar, memiliki gap udara di belakangnya. Contohnya papan plywood yang dipasang dengan gap udara.

Berikut ini adalah beberapa kombinasi penggunaan dua jenis material di atas untuk diterapkan di masjid, yang saya kutip dari buku Peningkatan Kualitas Akustik Masjid.

  • Pemasangan bahan penyerap suara pada salah satu bidang yang sejajar. Digunakan untuk mengatasi terjadinya flutter echo. Flutter echo adalah terdengarnya suara yang saling bersahutan.
  • Pemasangan bahan penyerap suara di bagian belakang masjid. Ini berguna untuk mengurangi pantulan suara dari arah belakang yang menyebabkan terjadinya echo atau feedback pada sistem tata suara.
  • Pemansangan bahan penyerap suara di langit-langit di bagian bawah balkon. Ini berguna untuk menghindari terjadinya flutter echo antara lantai dan langit-langit balkon.
  • Pemasangan bahan penyerap suara di bagian bahwa kubah. Ini berguna untuk menghindari terjadi focusing

Kesimpulan

Pada dasarnya, konsep akustik masjid adalah konsep penataan suara di dalam masjid. Akustik masjid ini dipengaruhi oleh jenis pengeras suara, penempatan pengeras suara, bentuk masjid, dimensi masjid, material di dalam masjid.

Jika akustik masjid diperhatikan, ini akan membuat pengalaman jamaah saat beribadah dan mendengarkan ceramah akan lebih khusuk. Tujuannya tentu saja untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt.

Semoga tulisan ini bermanfaat, sekian.

 

Referensi:

Kelompok Keahlian Fisika Bangunan Fakultas Teknologi Industri ITB. 2020. Peningkatan Kualitas Akustik Masjid. ITBPress: Bandung

Adi Permana
Latest posts by Adi Permana (see all)

2 Comments

  1. Bagus ini penjelasannya. Di Mesjid dekat rumah, kadang pengeras suaranya pas, enak terdengar di segala titik ruangan. Kadang, gak enak sama sekali (terlampau keras). Kalau tidak mengubah/mengganti material ruangan mesjid, bisakah membuat suara dan dengung dalam ruangan mesjid itu pas/gak harus diutak-atik terus?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *