Pelajaran dari Kekeyi: Dihujat tetapi Membuatnya Melejit Terkenal

Pelajaran dari Kekeyi: Dihujat tetapi Membuatnya Melejit Terkenal

Pelajaran dari Kekeyi: Dihujat tapi Membuatnya Melejit Terkenal

Ada tiga hal di dunia ini yang bisa membuat Anda bisa populer dan dikenal banyak orang. Pertama karena kepintaran, kedua karena ketampanan atau kecantikan, dan ketiga karena jelek tapi lucu. Nomor ketiga ini banyak dimanfaatkan orang-orang yang sekarang jadi artis di televisi untuk mengejar popularitas.

Dengan segala kerendahan hati, saya tak bermaksud menghina, menghujat atau rasis, saya paham bahwa definisi cantik dan ganteng itu relatif dan dominan dibentuk oleh media, tapi itulah faktanya. Banyak artis yang mohon maaf, wajahnya biasa-biasanya, tapi karena dia lucu dan mau dijadikan objek bullying, dia menjadi terkenal. Itulah wajah dunia hiburan kita, yang selalu ditampilkan dilacar kaca dan disaksikan bahkan oleh anak di bawah umur. Meskipun sudah diperingatkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) berkali-kali, tetap saja tak berpengaruh. Karena prinsip mereka, “Ratting is the number one whatever good or bad the content is”.

Lalu bagaimana dengan Kekeyi?

Cerita Kekeyi beda lagi. Dia bukanlah artis yang sering muncul di televisi. Tapi akhir-akhir ini, jagat raya media sosial tengah diramaikan dengan pemberitaan pemilik nama lengkap Rahmawati Kekeyi Putri Cantika ini. Dia baru saja merilis lagu terbarunya dengan judul “Aku Bukan Boneka”. Bahkan lagu Kekeyi ini menjadi trending topic di Youtube mengalahkan Lady Gaga dan Black Pink.

kekeyi trending topic

Tidak ada yang salah dengan itu. Justru Kekeyi ini perlu didukung dalam berkarya di industri hiburan. Meskipun kontennya biasa-biasa saja. Meskipun tingkah lakunya banyak mengundang bullying dan gayanya yang cringe. Itulah personal branding Kekeyi. Karena dia sulit menjadi kriteria nomor satu dan dua—seperti yang saya sebutkan di awal tulisan—Kekeyi memilih menjadi nomor tiga.

Apa pelajaran dari Kekeyi?

Kekeyi adalah seorang beauty vlogger yang dikenal karena make up tutorial-nya. Menurut informasi yang saya baca, ia menggunakan balon untuk mengganti fungsi beauty blender. Ah saya kurang paham maksudnya, pokoknya bisa lihat saja Youtube-nya. Kekeyi memiliki kanal Youtube bernama  Rahmawati Kekeyi Putri Cantikka. Jangan salah, pengikutnya lumayan banyak yaitu 452.000 subscribers.

1. Memanfaatkan popularitas

Dia tidak serta merta membangun personal branding dalam waktu yang singkat. Pasti butuh proses. Butuh waktu juga. Apa yang terjadi pada Kekeyi hari ini adalah kompilasi dari usahanya selama ini baik sebagai Youtuber dan content creator.

Tatkala dia mulai banyak muncul di media sosial, Kekeyi memanfaatkan popularitasnya tersebut untuk terus menghasilkan konten. Tidak bisa dipungkiri, meskipun kita bukan fan atau subscriber Kekeyi, banyak sekali orang yang telah “membantu” Kekeyi mencapai semua trending itu. Tanpa orang-orang yang share, comment, dll pasti tak akan bisa trending seperti sekarang.

kekeyi trending topic
Kekeyi trending topic juga di Twitter. Foto: Adi Permana

2. Tetap berkarya meskipun banyak dibully

Menghasilkan konten adalah karya. Dan karya itu tidak ada yang bagus atau jelek. Semuanya sama. Yang membedakan adalah perspektif orang-orang, pendapat-pendapat yang kemudian berakumulasi menjadi pendapat kolektif. Kecuali karya hasil menjiplak dari orang lain, itu bukan karya. Tapi plagiarisme. Haram hukumnya disebut karya.

Kekeyi meskipun karyanya, menurut perspektif orang-orang biasa aja, tapi dia tetap konsisten menghasilkan karya demi karya. Pola tersebut patut dicontoh oleh kita dalam menjalani hidup dan karier. Konsepnya harus “Man jadda wa jadda” dan dikombinasikan dengan “Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu”.

3. Cantik tak jadi jaminan sukses

Pelajaran terpenting lainnya yang bisa kita petik adalah, Kekeyi telah merobohkan tatanan media selama ini, bahwa yang cantik itu bisa lebih sukses di industri hiburan. Karena yang cantik sangat laku dan disukai untuk “dijual” ke publik.

Tapi Kekeyi, dan juga orang seperti Kekeyi-kekeyi lainnya, membuktikan bahwa bisa sukses dan terkenal itu tergantung pada usaha. Bukan soal kecantikan saja. Sehingga konsepnya perlu dirubah dari “Ratting is the number one whatever good or bad the content is” menjadi “Content is the number one instead of ratting”

 

_____
About author

Adi Permana. Aktif menulis sejak kuliah, pernah menjadi wartawan, tertarik pada dunia blogging, fotografi, dan videografi. Pada blog ini, ia membuat #SeriKuliahJurnalistik dan catatan pribadi dalam #SebuahJurnal. Sebagai pelengkap, blog ini juga menghadirkan tulisan ringan dalam Blogging, dan Ulasan. Selamat membaca.

Adi Permana

10 Comments

  1. Kata sambung namun, tetapi, dan tapi biasanya digunakan untuk menunjukkan pertentangan atau perlawanan. Ketiga konjungsi ini tampak sama, tetapi sebenarnya berbeda penggunaannya.

    Namun adalah konjungsi antarkalimat. Ia berfungsi menyambungkan kalimat dengan kalimat sebelumnya. Diletakkan di awal kalimat dan diikuti oleh koma.

    Tetapi adalah konjungsi intrakalimat. Ia berfungsi menyambungkan dua unsur setara dalam suatu kalimat. Diletakkan di tengah kalimat dan didahului oleh koma.

    Tapi adalah bentuk tidak baku dari tetapi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *