Refleksi Akhir Tahun 2019: Positive Thinking dan Just Do It!

Refleksi Akhir Tahun 2019: Positive Thinking dan Just Do It!

Blog Adi Permana –

Ada hal yang tak bisa dimiliki atau dikuasai oleh manusia. Itu adalah waktu. Setiap dari kita memiliki waktu yang sama. Lantas, apa yang membedakan antara satu manusia dengan manusia lainnya? Jawabannya adalah bagaimana kita memanfaatkan waktu yang dimiliki dan belajar dari apa yang terjadi di masa lalu. Manusia tak bisa mengulang waktu. Tapi manusia bisa belajar dari waktu.

Sebentar lagi, bahkan hanya hitungan jam, tahun 2019 pun akan menjadi masa lalu. Setidaknya, melalui momen tersebut, kita bisa menjadikannya sebagai ajang untuk refleksi diri, belajar dari masa lalu, menengok sebentar hal-hal apa saja yang pernah kita lalui—hal baik ataupun buruk.

Pada tulisan ini, saya ingin mengawalinya dengan mengatakan bahwa suatu hari, orang-orang akan menyesal karena telah menyia-nyiakan kehidupannya di masa lalu. Dan karena waktu tak bisa kembali, serta momen tak terulang dua kali, maka yang perlu kita lakukan sekarang adalah menikmati–sekaligus mensyukuri, apa yang telah kita punya dan jalani saat ini.

Bersyukur. Ya, itu adalah kata kunci yang selalu saya tekankan jika berbicara soal waktu. Kita mesti bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk hidup, bersyukur bisa menghabiskan waktu bersama orang-orang tercinta, bersyukur karena memiliki teman yang menyenangkan, bersyukur karena kita diberi kesehatan dan kekuatan untuk melakukan banyak hal di dunia ini.

2019

Bagi saya, tahun 2019 adalah tahun kembangkitan dari keterpurukan. Sebagian orang menyebutnya sebagai “quarter life crisis” atau apalah itu, yang jelas masing-masing dari kita pasti mengalaminya; krisis identitas, krisis keuangan, khawatir soal masa depan dan karier, teman sepermainan semakin berkurang, merasa sendiri dan banyak kegaulauan lainnya.

Saya belajar banyak hal di tahun 2019, terutama soal keluar dari zona krisis di atas. Dengan cara apa, ada dua hal, yaitu positive thinking dan just do it. Dua hal itulah yang selalu memotivasi saya untuk terus berusaha meningkatkan kemampuan diri, semangat dalam berkarya, keluar dari zona nyaman, mencari pengalaman baru, dan belajar banyak hal menarik lainnya.

Apa saja itu? Berikut adalah list beberapa pencapaian yang menurut saya patut untuk diapresiasi secara pribadi.

1. Berhenti Merokok

Saya mulai merokok sejak kuliah. Awalnya hanya coba-coba, lalu lambat laun jadi ketagihan. Di antara komunitas kami di kampus, merokok sering disebut sebagai sumber inspirasi untuk berkarya; misalnya dalam menulis. Tapi saya telah membuktikan bahwa, saya bisa menyelesaikan tulisan ini tanpa merokok. Hehe. Jadi, anggapan itu hanya mitos saja sih, it is just suggestion.

Berhenti merokok adalah wacana yang tiada ujungnya bagi para penikmat “sebats dulu”. Banyak kawan saya, termasuk juga saya sendiri yang telah mewacanakan hal tersebut sejak lama, tapi selalu gagal, dan kemudian merokok lagi.

Tentu saja, berhenti merokok perlu proses. Namun yang terpenting adalah niat dan motivasi. Just Do It. Saya berhasil berhenti caranya ialah dengan mengganti rokok sama permen, kemudian rajin olahraga. Awal-awalnya sangat berat, tapi lambat laun, otak kita bisa beradaptasi atas pengaruh nikotin dalam tubuh. Oh ya, saya memulai berhenti merokok awal tahun, jadi saya sudah berhenti merokok selama setahun.

2. Jatuh Cinta dengan Olahraga Kardio

Nomor dua ini ada hubungannya dengan berhenti merokok, ternyata yang saya rasakan, olahraga kardio sangat membantu tubuh untuk jauh dari rokok. Apa saja olahraga kardio yang bikin saya jatuh cinta itu, ciee?

Pertama adalah bersepeda. Wah ini olahraga yang sangat menyenangkan. Apalagi kalau saat sepedahan menemukan tanjakan, pasti setelahnya ada turunan hehe. Setiap weekend, selalu gowes dan bertemu komunitas lain di CFD Dago.

Kedua adalah lari. Karena lingkungan kantor banyak runner, saya pun jadi kebawa sering latihan lari. Pencapaian terakhir, lumayanlah jarak terjauh adalah lari 15 kilometer. Saya pun baru mengoleksi dua medali, niatnya di tahun baru bakal banyak even lari yang saya ikuti nih, yang sudah di depan mata adalah Tahura Trail Running 17K. Waw semangat!

Ketiga adalah renang. Sebetulnya dari dulu saya sangat senang dengan renang, tapi kebanyakan hanya untuk main air atau senang-senang, jarang sekali dipakai untuk olahraga. Tapi sekarang, saya banyak belajar renang untuk gaya dada dan gaya bebas. Susah-susah gampang. Tapi hasil dari latihan tersebut, ya setidaknya, sangat berguna sekali jika main air di laut (snorkeling/freediving).

3. Kursus Bahasa Inggris

Pepatah bijak mengatakan, tidak ada kata terlambat untuk belajar. So do I. Saya belajar Bahasa Inggris di usia 25 tahun. Orang lain mungkin sudah belajar atau mengenalkan Bahasa Inggris sejak kecil, tapi saya baru mendalaminya akhir-akhir ini. Pertanyaannya, kemana saja selama ini, baru benar-benar serius belajar sekarang. Ya, namanya juga baru sadar dan baru termotivasi sekarang.

Saya mengambil kursus di Kampung Inggris Bandung EPLC di Jalan Supratman. Cukup dekat dengan lokasi saya bekerja di Tamansari. Hal menarik selama belajar Bahasa Inggris adalah, saya betul-betul memulai dari nol. Terkadang minder dan malu karena di antara murid lain di tempat kursus, kebanyakan adalah anak SMA, dan kuliahan. Saya mengambil kelas dasar, persiapan speaking, dan speaking. Selama belajar Bahasa Inggris kurang lebih 6 bulan, ternyata tak terasa ya, bisa nonton film pakai subtitle Inggris, dan ngerti lagi. Saya tak menyangka ternyata bisa sampai ke level tersebut. Terharu, asli.

4. Traveling

Pengalaman baru lainnya di tahun 2019 adalah traveling. Ini bisa terealisasi akhir tahun sebetulnya, ya karena keterbatasan budget dan juga waktu. Saya termasuk orang yang katro karena belum pernah bepergian jauh selain pakai mobil. Tahun ini ternyata kesampaian juga merasakan bagaimana naik kerta 24 jam PP, juga naik pesawat ke tempat jauh.

Tahun depan, setelah mengecek tanggal, asyik sekali ya banyak tanggal merahnya. Sepertinya harus nabung lebih rajin lagi untuk mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi. Yeaa.

5. Belajar Fotografi dan Vidiografi

Ini sebetulnya karena tuntutan pekerjaan. Selain harus bisa menulis, saya pun perlu meningkatkan kemampuan fotografi dan vidiografi. Belajar dua hal tersebut gampang-gampang susah ya, karena setelah mendalaminya, ternyata amat luas. Bukan hanya soal art soul, tapi juga melibatkan teknik dan teknologi hehe.

6. Membuat Blog dan Vlog

Mungkin di antara kalian ada yang menganggap bahwa blog itu sudah usang, ketinggalan zaman. Sekarang orang-orang sudah beralih ke vlog. Tapi menurutku tidak, blog masih dibutuhkan karena mempunyai karakteristik berbeda dengan vidio. Blog bisa mengulas lebih luas, detil dan melatih kemampuan literasi kita di bidang menulis.

Saya membut blog ini dengan nama adipermana.com tidak lain berisi catatan pribadi, unek-unek, sharing pengalaman baru, dan latihan menulis. Sebab saya selalu ingat pesan seorang senior, bahwa kita harus selalu merawat kemampuan (skill) yang menurut kita unggul di bidang tersebut. Bidang itu, bagi saya adalah menulis. Saya bisa hidup dari menulis, karena itulah saya akan menghidupi menulis.

*Tampilan blog adipermana.com

Selain blog, saya juga membuat vlog di youtube. Tidak ada niatan untuk jadi komersial atau jadi youtuber sih, hanya untuk dokumentasi jikalau suatu saat rindu petulangan yang pernah dilakukan.

Berikut adalah link salah satu vlog perdana saya di Youtube saat pendakian ke Kawah Ijen (https://www.youtube.com/watch?v=uBkmrmP9tjA)

What’s Next in 2020

Emmm. Jika ditanya apa target atau pencapaian yang ingin dilakukan di tahun 2020, tentu saja banyak. Seperti Nobita, ingin ini, ingin itu, banyak sekali. Tapi semua itu tak bisa terwujud hanya dengan kantong Doraemon saja pastinya, melainkan harus dengan perencanaan yang baik, usaha, kerja keras, dan doa.

Selain melanjutkan hal-hal baik yang telah dilakukan di tahun 2019, saya pun berencana mengejar tantangan lain. Di tahun 2020 saya berniat untuk melanjutkan kuliah, meningkatkan kemampuan bahasa, ikut lari marathon, olahraga lebih teratur, pola hidup lebih sehat, belajar freediving, traveling ke banyak tempat, dan menurunkan berat badan 🙂

Namun di antara semua hal yang saya tulis di atas, ada yang kurang maksimal dilakukan, yaitu kegiatan berbagi. Sebetulnya saya sering melakukan itu, misalnya lewat pelatihan menulis berita, diskusi di komunitas, atau bahkan lewat blog. Akan tetapi intensitasnya tidak rutin.

Untuk itu, pada 2020 saya berusaha untuk memaksimalkan blog saya dengan konten berbagi atau sharing, baik itu pengalaman hidup, how to do something, atau cerita-cerita menginspirasi di sekeliling kita.

Semoga

Adi Permana

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *