Obituari: Selamat Jalan Haryanto

Obituari: Selamat Jalan Haryanto

Selamat Jalan Haryanto – Sebuah pesan berisikan ungkapan duka muncul di salah satu grup WhatsApp sore itu, Selasa (01/10/2019). Namun saya skip, karena pesannya pun sudah puluhan. Tak lama berselang, teman saya mengirim pesan jaringan pribadi yang berisi pertanyaan tentang kepergian salah satu sahabat baik saya. “Di, Haryanto meninggal?” tanya teman saya.

Saat itu saya sangat terkejut dan kaget, lalu mengecek kembali isi puluhan pesan duka di grup WhatsApp tersebut dan memang betul, itu ungkapan duka untuk Haryanto.

“Innalillahi Wainnailaihi Roojiun,” ucap saya di dalam hati.

Selepas salat ashar itu, saya tertunduk lesu dan seolah tak percaya bahwa sahabat saya itu telah pergi untuk selama-lamanya. Saya kemudian browsing sana-sini, memastikan kebenaran akan kabar tersebut. Juga sekaligus berharap, bahwa Haryanto tetap baik-baik saja. Ternyata, keluarga almarhum mengonfirmasi bahwa Haryanto telah wafat. Ia meminta almarhum dimaafkan atas segala kekhilafannya.

Pria Periang dan Calm

Kepergian Haryanto memang sangat tiba-tiba. Dia yang kini bekerja sebagai wartawan di Tribun Jabar itu wafat dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di Jalan Surya Sumantri, Bandung, Selasa siang. Dalam insiden tersebut melibatkan angkutan kota dan bus.

Kawan-kawan media di Bandung dan sekitarnya pun berduka atas kepergian almarhum di usianya yang masih muda, 26 tahun, kalau tidak salah. Padahal malam hari sebelumnya, berdasarkan penuturan teman-teman wartawan, Haryanto masih bersama mereka untuk meliput aksi demonstrasi di Bandung. “Padahal peuting (malam) tadi panggih (ketemu) liputan demo,” begitu kata salah satu teman di grup WhatsApp.

Umur seseorang memang siapa yang tahu. Semuanya sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Kita harus ikhlas dan menerima, sekaligus menjadi momentum introspeksi diri dalam memaknai sisa hidup ini.

Saya dan Haryanto adalah teman baik ketika kita pertama kali bertemu akhir tahun 2016 lalu. Dia saat itu bekerja di media arah.com, dan saya bekerja untuk Galamedia. Kita sama-sama wartawan muda dan orang baru di media. Masing-masing dari kami masih meraba-raba agenda liputan termasuk topik yang menarik untuk menjadi berita. Selama itulah, hampir setiap hari saya selalu bertemu, baik di lokasi liputan ataupun di tempat tongkrongan untuk mengetik berita.

Selain Haryanto, saat itu pun ada Iman, Asep, Hengky, dan Bagoes yang sering liputan bareng. Banyak sekali cerita suka dan duka yang kami lalui bersama saat liputan dulu, dari mulai berita hukum dan kriminal, politik, lingkungan, sosial, event-event besar, bencana alam, peristiwa, dan banyak lagi. Semuanya berlalu begitu saja.

Namun setelah media online tempat dia bekerja itu tak beroperasi lagi, dia pun pindah ke Tribun Jabar lalu ditugaskan di Purwakarta. Saya masih menjadi wartawan ketika itu dan sering mengajak dia untuk kembali ke Bandung, liputan bareng, atau kongkow dengan kawan-kawan di Bandung lagi.

Hal yang saya suka dan kagumi dari Haryanto adalah pembawaannya yang calm dan santai, meskipun dalam pekerjaannya penuh tekanan deadline berita. Dia pun begitu murah senyum kepada semua orang. Karena itulah, kepergiannya ini membawa duka yang amat dalam.

Setelah dari Purwakarta, Haryanto kemudian dipindahkan kembali tugas di Bandung. Namun sayangnya, kita tidak bisa liputan bareng lagi di lapangan karena saya sudah pindah kerja. Namun kita tetap sering bertemu karena dia pun ditugaskan untuk meliput kegiatan-kegiatan di tempat saya bekerja saat ini. Terakhir saya bertemu kalau tidak salah pertengahan September, ketika dia meliput kegiatan salah satu menteri yang mengisi seminar.

Kita pun sempat ngopi bareng. Bercanda, bernostalgia, dan saling melempar cerita pengalaman hidup masing-masing. Sampai akhirnya dia bilang, kini sudah memiliki seorang istri yang tengah mengandung. Saya mengucapkan selamat karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah.

Haryanto
Jenazah Haryanto saat di rumah duka. Foto: Rizky/PRFM

Tuhan lebih sayang kamu, Boy. Dia memangilmu pastilah dengan sebuah alasan. Saya banyak belajar tentang bagaimana kamu menjalani hidup, berjuang, dan bekerja keras di dalam mengisinya. Saya tahu, bahwa menerima kepergian itu memang berat, terutama untuk istrimu yang kini tengah mengandung. Semoga anakmu kelak bisa menjadi generasi yang berbakti kepada orangtua dan keluarga, berguna bagi bangsa dan agama, dan sebagai representasi dari semua sifat baikmu.

Dan kamu begitu bahagia melihatnya tumbuh menjadi anak yang soleh/solehah dari Surga-Nya.

Alfatihah…

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *