Jurnal #28 Fathia dan Sederet Pengalamannya

Jurnal #28 Fathia dan Sederet Pengalamannya

Rasanya sudah lama tidak mengulas seseorang dalam blog ini. Sebetulnya beberapa kali sudah muncul ide, tapi urung dieksekusi karena kekurangan bahan. Lha emang mau sedetil apa? Tidak terlalu detil juga, tapi memang harus benar-benar tepat sasaran antara yang ditulis dengan sosoknya.

Singkat cerita, dipertemukanlah saya dengan seorang kawan di warung kopi dekat kosan, di Jalan Kebon Bibit, Tamansari, Bandung, Jawa Barat. Nama warung kopinya Selatan Jakarta. Merasa sedikit aneh? Iya namanya memang begitu meskipun lokasinya di Bandung. Apakah pemiliknya orang Jakarta Selatan? Tidak tahu juga karena saya tak sempat bertanya, dan memang baru kali ini nongkrong di situ. Ah sudahlah yang penting kopi susunya enak.

Seorang kawan ini namanya Uqimul. Tapi karena terdengar aneh maka orang-orang menyebutnya Fathia. *Pake “h” tidak ya, poho euy ah baelah.

Saya mengenal mojang asli Bandung ini karena sempat sama-sama menjadi wartawan. Akan tetapi jarang bertemu di lapangan sebab beda alam desk liputan.

Hal menarik dari ukhti-ukhti (dibaca harus sampai keluar dahak) modern ini karena dia juga seorang blogger ternyata. Wah menarik. Menemukan kawan seorang blogger barang langka di zaman sekarang. Karena kalian tahu sendiri, sekarang kebanyakan orang-orang hanya menulis di caption, jarang menulis di blog.

Selain blogger, dia juga senang traveling. Kok bisa tahu? Ya kan dia nulis sendiri di bio Instagram-nya. Oooh. Postingan Instagram-nya pun kini hampir seribu lho dengan feed yang super rapi. Niat emang dengan caption yang menarik dibaca. Followers-nya tak usah diragukan lagi, masih kurang dari 2.000. Yah masih belum swipe up, kasihan.

Karena dia sangat aktif sekali di dunia maya, maka saya tertarik untuk mengajaknya berbincang panjang lebar. Bahkan sampai anak kucing dan ibunya pun ikutan antusias di warung kopi itu.

Belajar Nyari Duit

Gadis kelahiran 1995 itu bercerita bahwa sejak kuliah dia sudah mampu menghasilkan duit sendiri. Dia pernah “kuli” di Masjid Salman sebagai penulis berita. Dari situlah awal mula dia belajar menulis dan sampai akhirnya kini menjadi pekerja teks komersial.

Selesai kuliah dia memutuskan berkarier sebagai wartawati di media online yang selalu memberikan semangat. Ayobandung! Ayooo! Kamu bisa.

Karena sering pulang malam, dan harus asruk-asrukan dari satu berita ke berita lain, dia hanya bertahan jadi jurnalis 1,5 tahun. Ditambah desakan keluarga yang menginginkan dia jadi the next Umi Bakrie.

*Maksudnya ‘kan yang di lagu Iwan Fals itu Umar Bakrie, nah ini versi perempuan jadi Umi Bakrie 🙂

Tapi dia harus bersyukur karena dari profesi jurnalis, membuka gerbang rezeki baginya. Kemudian jaringannya lebih luas, dan kenalannya banyak. Sampai-sampai bisa kenal dengan saya, kan itu sebuah prestasi ya.

Kuliah Lagi

Teteh Uqimul ini memang keren. Setelah resign dari pekerjaan, malah sekarang dia lanjut kuliah S2, di Universitas Padjajaran lagi. Lantas bagaimana dia bisa membiayai kuliahnya? Kan pengangguran. Eits Anda meragukan rencana Tuhan ya.

Memang benar kata ayat dalam Al-Qur’an, bahwa Allah akan memberikan rezeki dari jalan yang tidak terduga. Manusia hanya perlu ikhtiar dan usaha saja semampunya. Dan itu dibuktikan oleh Uqimul ini. Setelah keluar dari pekerjaan, agar bisa survive, awalnya dia jualan susu kurma, ikut kompetisi nulis, foto, lalu sekarang jadi freelance nulis, dan puncaknya kuliahnya gratis karena lolos program beasiswa dari Pemprov Jabar. Gede milik pisan ieu budak.

Tukang Ngopi dan Jalan-jalan

Hal menarik lainnya, meskipun dia tidak memiliki pekerjaan tetap, tapi mampu jalan-jalan ke luar negeri dan nongkrong di kafe-kafe. Bahkan dia akan berencana liburan ke Temanggung beberapa minggu kedepan, melihat destinasi wisata berbasis pemberdayaan masyarakat di sana. Loba duit pisan ieu budak.

Tapi ternyata, setelah diungkap, proses jalan-jalannya itu penuh perjuangan sekali. Meskipun hobi traveling itu tergolong mahal, tapi baginya bisa dicari cara agar tetap murah meriah. Saya tidak akan detil mengulasnya, nanti pengunjung di blog dia sepi pembaca dong. Haha. Jadi bisa dikepoin saja blognya http://www.fathiajalaninajadulu.com

Tidak cukup sampai di situ, Uqimul atau Fathia juga menyimpang hal menarik lainnya. Ternyata dia kesulitan menyebut huruf “R”. Lucu sih, jadi dia punya kamus sendiri, di mana kalau ada huruf “R” maka dia ganti dengan kata lainnya. Misalnya, ular jadi hewan melata, pagar jadi pengaman halaman depan, perahu jadi sampan, nyeker jadi tidak memakai sepatu atau sendal, dan rorombeheun jadi pelpecahan antal suku. Eh salah.

Maka dari itu, Fat sebenarnya kamu berpotensi jadi artis, seperti si Anyun Cadel.

Sekian. Semoga tulisan ini diampuni olehnya.

Salam Literasi | Jurnal #28

Adi Permana

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *