Jurnal #14 Jebakan Mimetisme Media

Jurnal #14 Jebakan Mimetisme Media

Sebuah buku orange di rak buku tiba-tiba menarik perhatian saya untuk dibaca malam ini. Sampulnya sedikit berdebu, jilidnya agak lecet karena sering tak sengaja terlipat.

Saya buka lembar demi lembar. Lalu tak sengaja menemukan secarik kertas berisi catatan kecil. Tulisannya sambung dengan tinta yang mulai memudar. Bukan surat cinta, itu adalah catatan saya sendiri tentang intisari dari buku tersebut. Dari catatan itu, ada yang menarik perhatian saya yaitu tentang jebakan Mimetisme media. Apakah itu?

Mimetisme Media

Istilahnya barangkali asing di telinga kita. Saya pun baru menemukannya dari buku “Etika Komunikasi” karya Dr. Haryatmoko ini. Meskipun para pembaca sekalian bukanlah seseorang yang background pendidikannya komunikasi, tapi istilah jebakan mimetisme ini perlu juga untuk diketahui sebab selalu hadir di tengah-tengah kita semua.

Menurut Haryatmoko (2007), keinginan media untuk tampil khas tidak jarang justru menjerumuskan ke dalam keseragaman pemberitaan. Mimetisme media menunjukkan bagaimana penting/tidaknya berita sering ditentukan oleh sejauh mana media-media lain dipacu untuk meliputnya. Sederhananya, jika ada berita yang banyak diliput media, berarti beritanya dianggap penting. Padahal tidak juga demikian.

Sehingga dalam hal ini, alat ukur penentuan pentingnya berita terletak pada sejauh mana diliput oleh media. Bukan pada konten beritanya. Media seringkali khawatir jika berita tersebut tidak diliput, maka akan ditinggalkan pembaca/penonton.

Hal tersebut pernah saya rasakan saat menjadi wartawan. Redaktur atau koordinator liputan seringkali menugaskan peliputan pada isu yang sedang ramai diberitakan media lain. Sehingga media kita, katanya, jangan sampai “kebobolan” informasi. Padahal sebetulnya banyak isu lain yang bisa digarap. Akhirnya, kekhasan berita pun tak terjadi. Bayangkan jika semua berita di televisi, media cetak meliput hal yang sama setiap hari?

Menurut Haryatmoko, faktor ekonomi selalu menjadi acuan media masa kini. Karena demikian dalamnya pengaruh determinasi ekonomi dalam dunia media, hierarkisasi nilaipun ditentukan oleh konsumsi massa, sedangkan profesionalisme wartawan sering tergadaikan.

Bisa kita saksikan sendiri, betapa jarangnya media yang mahiwal dalam pemberitaan. Rata-rata selalu dengan topik yang sama. Mungkin ada beberapa, tapi tak banyak.

Mimetisme Media dan Sunda Empire

Jebakan mimetisme media ini bisa kita simak dalam perkembangan informasi media akhir-akhir ini, di mana tengah ramai soal “kemunculan” kerajaan-kerajaan baru, termasuk salah satunya Sunda Empire. Beritanya menghebohkan, begitu menurut media. Bagi saya, soal kerajaan dan Sunda Empire ini tak terlalu memiliki nilai berita informatif. Tapi mungkin masuk kepada nilai keunikan karena di era sekarang masih ada “lelucon” yang mengatasnamakan keturunan raja zaman dulu yang mampu mengubah peradaban.

Pada konteks ini, media termasuk pihak yang ikut mem-viral-kan. Walaupun sebetulnya, tidak perlu dibuat massif seperti hari ini. Tapi ‘kan karena jebakan mimetisme ini, sehingga jika satu media meliput, maka media lain juga harus ikut memberitakan. Kalau tidak ya ketinggalan zaman.

Bagi saya pola ini kurang baik untuk literasi media. Sebab pada akhirnya, yang menjadi korban lagi-lagi adalah masyarakat. Mereka tak punya pilihan lain sebab harus menyaksikan keseragaman informasi yang disajikan media. Pindah ke chanel televisi sebelah, bahkan lebih parah lagi dengan sinetron yang penuh drama. Maka, pada kondisi seperti ini banyak orang lebih senang dengan Youtube sebab punya keragaman yang bisa kita pilih sesuka hati.

Melihat kondisi keseragaman berita seperti sekarang ini, saya selalu merasa beruntung sebab belum punya televisi. Ya, selama menjadi anak kosan dan hidup “terkotak” di ruangan berukuran 6×3 meter, sangat tidak ada ruang untuk menaruh televisi. Tapi selama masih bisa browsing, segala informasi bisa diperoleh dari Mbah Google. Tinggal klik, muncul deh.

Sekian. Salam Literasi

Jurnal #14

 

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *