Pengertian dan Karakteristik Bahasa Jurnalistik

Pengertian dan Karakteristik Bahasa Jurnalistik

Seri kuliah jurnalistik kali ini akan membahas tentang pengertian dan karakteristik bahasa jurnalistik. Selamat membaca!

Berita berbeda dengan artikel/karya ilmiah. Berita memiliki karakteristik bahasa yang berbeda. Itulah yang dinamakan sebagai bahasa jurnalistik. Berita-berita yang sering kita baca di koran, majalah, tabloid, media online, maupun media elektronik, menggunakan bahasa jurnalistik. Lalu, apa pengertian bahasa jurnalistik?

Pengertian Bahasa Jurnalistik

Secara umum, bahasa jurnalistik dapat diartikan sebagai bahasa yang dipakai oleh media massa dalam menyampaikan informasi kepada pembaca. Bahasa yang digunakan harus bahasa yang sederhana dan mudah dipahami pembaca. Sebab berita bukan hanya untuk satu orang, tetapi menyasar para pembaca yang heterogen, sehingga bahasa jurnalistik harus bisa dipahami oleh semua orang.

Menurut Prof. S. Wojowasito, bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa yang ditampilkan dalam koran dan majalah. Menurutnya, tujuan bahasa jurnalistik adalah menyampaikan informasi yang jelas dan mudah dibaca oleh mereka yang memiliki tingkat intelektual berbeda. Selain itu, bahasa jurnalistik yang baik haruslah sesuai dengan norma-norma tata bahasa yang antara lain terdiri atas susunan kalimat yang benar, pilihan kata yang cocok (Anwar, 1984 : 1-2).

Misalnya, jika terdapat data statistik tentang partisipasi masyarakat dalam Pemilu, maka bahasa jurnalistik harus bisa menyederhanakan data tersebut.

Sebagai contoh, data statistik menyebutkan bahwa partisipasi masyarakat tahun ini 80 persen, meningkat dari tahun lalu yang hanya 70 persen. Dalam bahasa jurnalistik, kondisi tersebut dapat kita tarik sebuah kesimpulan sederhana: partisipasi masyarakat naik jika dibandingkan tahun lalu. Baru setelah itu kita sampaikan rinciannya.

Contoh lainnya dalam bahasa jurnalistik adalah pemisalan atas suatu data yang terlalu ilmiah. Jika terdapat data tentang luas suatu daerah, maka sebaiknya dilakukan perbandingan yang lebih sederhana. Misalnya, Pulau Kalimantan memiliki luas 743.330 Km persegi. Atau kita bisa sederhanakan menjadi: Pula Kalimantan memiliki luas tiga kali lipat pulau Jawa. Kemudian untuk bahasa ilmiah, misalnya air laut memiliki ph 8,1. Data tersebut bisa kita sederhanakan dengan perbandingan: air laut lebih basa dibandingkan air biasa.

Itulah beberapa contoh umum bahasa jurnalistik. Jadi bahasa jurnalistik berbicara tentang penyederhanaan data, juga penyederhanaan istilah yang terlalu ilmiah. Kenapa harus begitu, karena bahasa jurnalistik harus bisa dipahami oleh setiap orang.

Menurut McLuhan, setiap media memiliki tata bahasa sendiri, yakni seperangkat peraturan yang erat kaitannya dengan berbagai alat indra, dalam hubungannya dengan penggunaan media. Sebagai contoh bahasa jurnalistik pada radio lebih kepada cerita yang menimbulkan imajinasi, televisi adalah perpaduan dari suara, visual dalam waktu yang bersamaan, sementara bahasa tulisan, harus yang sederhana dan menarik untuk dibaca.

Karakteristik Bahasa Jurnalistik

Dalam buku Bahasa Jurnalistik yang ditulis oleh Haris Sumadiria (2011), ada 17 karakteristik bahasa jurnalistik yang ada dalam media. Apa saja ketujuhbelas karakteristik tersebut? Berikut ini adalah penjelasannya.

1. Sederhana

Sederhana berarti penggunaan kata dan kalimat harus yang umum, yang diketahui oleh publik. Jangan gunakan bahasa terlalu ilmiah. Sebab pembaca memiliki tingkat pengetahuan, kondisi sosial yang beragam.

2. Singkat

Singkat berarti langsung tertuju kepada informasi inti yang ingin disampaikan kepada pembaca. Jangan bertele-tele, tidak berputar-putar, karena pembaca memiliki tingkat kesibukan yang berbeda pula.

pengertian karakteristik bahasa jurnalistik
Contoh bahasa jurnalistik berdasarkan data statistik. Sumber: tirto.id

3. Padat

Karakteristik ketiga adalah padat. Padat berarti setiap paragraf dalam berita harus banyak mengandung informasi. Wartawan harus bisa memosisikan diri sebagai pembaca. Jika berita yang ditulis tidak terlalu penting, lebih baik dihilangkan saja. Kepadatan informasi tersebut salah satunya bisa kita tuangkan dalam teras berita (lead) atau paragraf awal dalam berita yang memuat setidaknya unsur 5W+1H.

Baca juga: Teras Berita: Pengertian, Macam-macam, dan Contoh

4. Lugas

Bahasa jurnalistik harus lugas. Artinya, informasi yang disampaikan harus tegas, tidak ambigu dan multi tafsir bagi pembaca. Coba saja Anda baca berita-berita di koran, wartawan akan selalu menulis dengan sangat lugas pada berita mereka. Kalau korupsi ya korupsi, kalau tidak salah ya tidak salah dengan fakta-fakta yang mereka tuliskan.

5. Jelas

Apa bedanya lugas dengan jelas? Keduanya hampir mirip namun tak sama. Jelas berarti mudah ditangkap maksudnya, mudah dipahami. Jika benda A adalah berwarna hitam maka harus jelas bahwa itu adalah hitam. Dalam bahasa jurnalistik tidak boleh abu-abu.

pengertian karakteristik bahasa jurnalistik
Contoh kalimat yang lugas dan jelas. Sumber: tirto.id

6. Jernih

Jernih dalam bahasa jurnalistik bukan berarti seperti air mengalir, akan tetapi bahasa yang dituangkan harus jujur, transparan. Seperti dalam salah satu elemen jurnalistik Bill Kovach, wartawan harus jujur kepada publik, tidak boleh berbohong. Sebab wartawan juga memiliki kode etik yang harus dipatuhi dan dijalankan setiap waktu.

7. Menarik

Menurut Haris Sumadiria (2011), bahasa jurnalistik juga harus menarik. Maksudnya adalah mampu membangkitkan minat dan perhatian khalayak, pembaca, sehingga mereka tertarik membaca keseluruhan berita. Membuat kalimat yang menarik merupakan tantangan tersendiri bagi wartawan. Misalnya dalam suatu peristiwa, wartawan yang berpengalaman biasanya tahu hal menarik apa yang bisa ditulis daro peristiwa tersebut. Terkadang, inilah yang membedakan bahasa jurnalistik dan bahasa ilmiah. Jika bahasa ilmiah cukup benar dan baku, maka bahasa jurnalistik tidak cukup dua hal tersebut, bahasa jurnalitik harus menyajikan bahasa yang menarik.

Baca Juga: Panduan Menulis Kalimat Langsung dan Tidak Langsung dalam Berita

8. Demokratis

Bahasa jurnalistik selanjutnya adalah demokratis. Maksudnya adalah bahasa jurnalistik tidak mengenal tingkatakan, pangkat, kasta, atau perbedaan. Makanya, jika kita perhatikan, media jarang menulis gelar akademik yang panjang, cukup nama saja. Penyebutan jabatan biasanya hanya di awal saja sebagai penjelasan dia yang diwawancara itu siapa. Selebihnya adalah nama biasa.

9. Populis

Karakteristik yang tak kalah penting lainnya dalam bahasa jurnalistik adalah menggunakan kata-kata populis. Apa itu? Populis berarti setiap kata, istilah, atau kalimat apa pun yang terdapat dalam karya jurnalistik harus akrab di telinga, di mata, dan di benak pikiran khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa. Sebagai contoh, mana yang lebih populis, aktivitas atau kegiatan, potensi atau kemampuan?

10. Logis

Logis berarti masuk akal. Dalam konteks bahasa jurnalistik, penggunaan kata, istilah dalam kalimat harus dapat diterima dan tidak bertentangan dengan akal sehat. Mengenai kelogisan ini, wartawan juga harus jeli dan skeptis terhadap data-data ataupun pendapat dari narasumber. Jika ada perbandingan, pakailah perbandingan tersebut. Misalnya terdapat data jumlah pengangguran meningkat tahun ini. Nah, ini perlu ada perbandingan dengan data kapan sehingga logis dikatakan meningkat.

11. Sesuai Gramatikal

Bahasa jurnalistik yang sesuai gramatikal adalah bahasa yang berpedoman pada kaidah bahasa yang baik dan benar. Kita mempunyai pedoman tersebut yaitu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Dalam hal ini wartawan harus tahu penggunaan bahasa baku dan tidak baku. Misalnya, respon itu seharusnya ditulis respons, tapi seharusnya ditulis tetapi. Kemudian daripada menggunakan frasa ”ia bilang”, lebih baku menggunakan “ia mengatakan” dan banyak lagi.

12. Menghindari Kata Tutur

Apa maksudnya? Penggunaan bahasa tutur atau bahasa sehari-hari cenderung informal. Memang lebih enak digunakan, akan tetapi tidak tepat dipakai dalam bahasa jurnalistik. Bahasa tutur cukup digunakan di aktivitas sehari-hari, tetapi dalam bahasa jurnalistik harus menggunakan bahasa yang formal, baku, dan sesuai kaidah bahasa yang baik dan benar.

13. Menghindari Istilah Asing

Dalam bahasa jurnalistik, daripada menggunakan istilah asing, lebih baik mencari arti lain dalam bahasa Indonesia. Tentu ini lagi-lagi berkaitan dengan tingkat intelektual khalayak yang beragam. Penggunaan istilah asing yang jarang didengar, akan menyulitkan khalayak memahami maksud dari berita. Sebagai contoh, daripada menggunakan istilah “work form home” lebih baik menggunakan “bekerja dari rumah”.

14. Pemilihan Kata atau Diksi

Menurut Haris Sumadiria (2011), bahasa jurnalistik sangat menekankan efektivitas kalimat. Setiap kalimat yang disusun tidak hanya harus produktif tetapi juga tidak boleh keluar dari asas efektivitas. Artinya setiap kata yang dipilih, memang tepat dan akurat sesuai dengan tujuan pesan pokok yang ingin disampaikan.

Misalnya, “Presiden Soekarno tercatat sebagai sejarah sebagai presiden pertama Republik Indonesia”. Diksi terabadikan kurang tepat, meskipun maksudnya jelas.

Coba bandingkan dengan ini, “Presiden Soekarno merupakan presiden pertama Republik Indonesia”.

pengertian karakteristik bahasa jurnalistik
Perbandingan antara bahasa jurnalistik dan bahasa ilmiah yang saya dapat dari pelatihan menulis siaran pers oleh Yosep Soprayogi (wartawan Tempo) yang diselenggarakan oleh Society of Indonesian Science Journalist. Olah grafis: Adi Permana.

15. Kalimat Aktif

Penggunaan kalimat aktif juga sangat berpengaruh dalam bahasa jurnalistik. Kalimat aktif berarti siapa melakukan pekerjaan apa secara aktif. Penggunaan kalimat aktif ini tentu lebih menarik dan disukai pembaca.

Contoh kalimat aktif: Presiden Soekarno mengatakan

Contoh kalimat pasif: Dikatakan oleh Presiden Soekarno

16. Hindari Bahasa Teknis

Penulisan bahasa yang cenderung teknis dalam bahasa jurnalistik kurang cocok digunakan. Wartawan cukup menuliskan informasi secara umum saja yang mudah dipahami oleh publik. Istilah teknik tersebut seperti istilah-istilah dalam ilmu kedokteran, ilmu hukum, dan banyak lagi.

17. Tunduk kepada Kaidah dan Etika Pers

Jurnalis Indonesia harus selalu konsisten menaati kode etik jurnalistik, dalam segala situasi dan semua kasus. Pelanggaran terhadap kote etik tentu dapat mencederai kerja jurnalistik yang selama ini telah dibangun oleh media. Maka dari itu, bahasa jurnalistik juga harus menjalankan kode etik jurnalistik, terutama terhadap berita atau isu-isu yang sensitif.

Wartawan harus tunduk dan taat pada kode etik jurnalistik. Di dalam kode etik jurnalistik diatur bagaimana perilaku wartawan dan bagaimana wartawan harus melakukan pekerjaannya. Sebagai contoh, wartawan tidak boleh beritikad buruk, tidak boleh menerima suap. Beritanya harus berimbang, akurat. Kalau wartawan beritikad buruk, membuat berita tidak akurat, tidak berimbang, berarti masih belum profesional. Menurut Bekti Nugoro Samsiri, pers yang berkualitas akan menghasilkan masyarakat yang cerdas.

Kesimpulan

Pada seri kuliah jurnalistik kali ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahasa jurnalistik di media massa, baik cetak, online, radio, maupun elektronik, bertujuan untuk memudahkan pembaca dalam memahami informasi secara baik. Kata atau kalimat-kalimat yang terlalu ilmiah, akan sulit dipahami khalayak. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat keberagaman pengetahuan/intelektual pembaca. Oleh karena itu, bahasa jurnalistik yang baik adalah bahasa jurnalistik yang mudah dibaca, dipahami, dan dimengerti oleh pembaca.

Baca juga: Piramida Terbalik: Pengertian, Ciri-ciri, dan Contoh

 

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *