Teras Berita (Lead): Pengertian, Macam-macam, dan Contoh (2)

Teras Berita (Lead): Pengertian, Macam-macam, dan Contoh (2)

*Tulisan ini merupakan lanjutan dari penjelasan materi tentang Teras Berita: Pengertian, Macam-macam, dan Contohnya.

Tulisan sebelumnya bisa pembaca buka melalui link berikut ini:

Teras Berita (Lead): Pengertian, Macam-macam, dan Contoh

Lanjutan…

9. Teras berita “menjerit”

Dinamakan teras berita menjerit karena kalimat awalnya berupa ekspresi atau teriakan yang ditandai dengan kalimat langsung. Biasanya berisi ekspresi kemenangan, kesedihan, adanya kebakaran, kejahatan, aksi demo dll. Teras berita ini cukup menarik untuk digunakan sebagai variasi teknik penulisan berita. Pembaca tentu akan lebih tertarik membaca berita jika diawali teras berita seperti ini. Akan tetapi, perlu disesuaikan dengan konteks beritanya. Untuk tulisan-tulisan feature, teras berita ini sangat cocok dipakai.

Contoh:

“Turunkan harga BBM, turunkaaan!” Teriak seorang demonstran saat melakukan aksi di depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat. Dalam aksi yang diikuti ribuan mahasiswa se-Jawa Barat tersebut mereka menuntut pemerintah untuk segera menurunkan harga BBM.

 

10. Teras berita “kutipan”

Teras berita kutipan adalah teras berita yang memposisikan petikan langsung pada kalimat awal teras berita. Kutipannya harus singkat, padat, dan memuat informasi penting. Jika wartawan menulis teras berita seperti ini, tentu bisa membuat berita lebih menarik. Ingat teras berita ini harus diawali dengan kutipan langsung.

Lalu apa bedanya dengan teras berita menjerit? Perbedaanya pada jenis informasi. Teras berita menjerit memuat ekspresi yang lebih emosional. Sementara untuk teras berita kutipan, mengandung informasi hasil wawancara langsung dengan narasumber. Informasi tersebut disematkan di teras berita karena dianggap penting, dan menarik. Lihat contoh berikut untuk lebih jelasnya.

Contoh:

“Pendidikan gratis harus dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Maka dari itu, pemerintah mengeluarkan kebijakan Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk menjamin putra-putri kita yang kurang mampu secara ekonomi bisa mengenyam pendidikan gratis sampai perguruan tinggi.” Itulah petikan sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim saat menjadi pembicara dalam seminar “Dinamika Pendidikan di Indonesia”, di kantor Kemendikbud di Jakarta, Jumat (24/5/2020).

11. Teras berita “deskriptif”

Teras berita ini digunakan untuk menggambar kepada pembaca tentang sebuah kejadian/peristiwa tertentu. Bisa juga menggambarkan sosok seseorang saat tengah diwawancara, bagaimana suasana kejadian, dan lain-lain. Teras berita ini banyak digunakan di penulisan majalah-majalah atau tulisan-tulisan in depth reporting.

Contoh:

Seorang pria bule menunjukan kebolehannya berjalan pada seutas tali yang terbentang di antara bebatuan tebing karst Hawu, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, penghujung Januari lalu. Juanjo Sanchez, warga negara Ekuador itu berjalan mengendap – ngendap berupaya keras menyeimbangkan badan pada tali webbing yang dipasang sepanjang 200 meter. – Mongabay 

Contoh selanjutnya bisa dilihat pada tulisan fenomal “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft” ini. Ini bisa menjadi rujukan bagaimana mendeskripsikan suasana yang baik, dan menarik.

Sebuah bus memasuki terminal Lhokseumawe pada suatu pagi buta sekitar tiga tahun lalu. Terminal masih sibuk. Warung kopi dan rumah makan masih buka. Agen tiket bus masih melayani belasan penumpang, yang hendak berangkat ke Banda Aceh atau Medan. Barisan becak mesin juga masih parkir depan terminal. Pengemudinya menunggu penumpang. – Pantau.or.id 

12. Teras berita “pertanyaan”

Teras berita ini menempatkan unsur pertanyaan (?). Konsepnya sederhana, penulis atau wartawan hanya tinggal membuat pertanyaan tentang suatu kebiasaan, keresahan, atau hal unik lainnya. Biasanya, tulisan yang menggunakan teras berita pertanyaan adalah tulisan-tulisan feature (menghibur, human interest, dll).

Contohnya:

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kata sampah pelastik? Mungkin Anda akan mengira itu barang yang sudah tak bernilai guna. Namun, di tangan Reza Fajar Ghifari (29), sampah plastik bisa disulap menjadi kerajinan yang menghasilkan keuntungan jutaan rupiah. Bahkan, sudah melanglang buana ke seluruh nusantara.

13. Teras berita “naratif” atau “narasi”

Teras berita naratif adalah teras berita yang bercerita. Tulisannya mampu menciptakan satu suasana dan membiarkan pembaca menjadi seakan-akan tokoh utama. Memang jarang digunakan pada berita-berita straight news, tapi sering dijumpai pada berita-berita jurnalisme sastrawi (bersastra). Sangat tepat apabila diaplikasikan pada tulisan yang panjang atau tulisan kisah perjalan/pengalaman seseorang.

Contoh:

Hari itu ada tiga orang yang meninggal karena kecelakaan di jalan. Dua orang karena tabrakan dengan kendaraan lain, satu orang karena terjatuh dari sepeda motor lalu dilindas truk. Semuanya terjadi karena kelalaian pengendara bermotor yang ugal-ugalan di jalan.

14. Teras berita “parodi”

Pernah mendengar jenis teras berita yang satu ini? Memang kedengarannya sedikit aneh dan jarang ditemui di berita-berita umum. Tapi untuk menambah khazanah pengetahuan teknik penulisan berita, tak ada salahnya untuk memakai teras berita parodi.

Secara sederhana, teras berita parodi adalah yang memaparkan judul lagu, peribahasa, kata-kata mutiara, atau judul film yang tengah ngetren dan digandrungi orang.

Contoh:

Antara ”madu dan racun” buat Herman (30) tampaknya lebih memilih racun. Kemarin (24/1/2020) ia memang meneguk sebotol racun serangga yang hampir saja merenggut nyawanya.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itulah yang kini dirasakan Herman (30), seorang kompleks Permata Indah, Kota Bandung. Setelah terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di kantornya, kini ia pun terpaksa mesti bercerai dengan istrinya karena masalah ekonomi.

Dari dua contoh di atas, kata kunci dari teras berita ini terdapat pada kata dan peribahasa “Antara madu dan racun” dan “Sudah jatuh tertimpa tangga pula.” Namun, itu untuk contoh pada cerita kurang menyenangkan, pembaca juga bisa mengaplikasikannya pada kejadian atau cerita bahagia dengan menambahkan peribahasa yang sesuai. Selamat mencoba.

15. Teras berita “epigram”

Tak jauh berbeda dengan teras berita parodi, pada teras berita epigram, kita hanya menggunakan sejenis sajak, atau ungkapan pendek yang berisi sesuatu pikiran yang luhur atau menyenangkan sebagai sebuah sindiran tajam. Kata kuncinya bahasa yang digunakan sedikit satire.

Contoh:

Diam itu emas. Mungkin itulah yang dijadikan pijakan politikus muda, Misbahuddin ketika rekan-rekan di partainya berteriak lantang menggugat kinerja eksekutif yang dianggapnya buruk. Ia lebih memilih melakukan observasi mendalam guna mengungkapkan solusi yang terbaik.

16. Teras berita “sapaan”

Teras berita terakhir adalah teras berita sapaan. Apa maksudnya? Seperti halnya kalimat sapaan, teras berita ini menggunakan kata ganti orang pertama atau orang kedua pada kalimat pertamanya. Tujuannya agar pembaca merasa tersapa dan dilibatkan.

Contoh:

Apa yang pertama terbesit dalam benak Anda ketika mendengar kata Bandros. Tentu merujuk pada makanan khas Sunda. Tapi Bandros yang satu ini bukanlah makanan, melainkan bus yang digunakan untuk berkeliling di Kota Bandung.

Kesimpulan

Demikianlah beberapa jenis teras berita yang bisa menjadi acuan para pembaca (terutama mahasiswa jurnalistik) saat menulis berita. Setelah mengetahui bahwa ternyata teras berita itu beragam, bahkan ada 16 jenis, kita bisa lebih bereksplorasi berita kita menjadi lebih menarik dan enak dibaca.

Semakin terasah dan sering menulis, lama kelamaan daya tangkap kita akan semakin terasah dalam menulis. Makanya, sering ada pameo yang mengatakan, wartawan senior selalu punya perspektif melihat sebuah berita. Ya, wajah karena mereka sudah memiliki banyak pengalaman. Semakin sering berlatih pasti akan semakin mahir dan terasah.

Semoga bermanfaat.

*Rekomendasi buku bacaan mengenai teras berita:

  1. Andaikan Saya Wartawan Tempo karya Goenawan Muhamad
  2. Secangkir Peristiwa di Mata Wartawan karya Dono Darsono dan Enjang Muhaemin

 

Baca tulisan sebelumnya: Teras Berita (Lead): Pengertian, Macam-macam, dan Contohnya

Adi Permana

4 Comments

  1. Maaf, saya cuman ingin mohon maaf, usia yang tertulis mengenai saudara Reza Fajar Ghifari dalam tulisan di atas tidak benar adanya. Sungguh suatu kebohongan publik. Saya ikut merasa sedih dan terpukul membacanya. Salam dari Lampung.

  2. Wah ini yang paling dicari mahasiswa Jurnalistik seperti saya. Namun ada hal yang ingin saya tanyakan, apakah caption untuk foto jurnalistik bisa menggunakan lead yang beragam seperti di atas? Karena yang saya tau banyak media yang menggunakan 5W+1H saja. Mohon pencerahannya, terima kasih.

    1. Tergantung, di mana foto itu akan di tempatkan.
      Menurut pemahaman saya, caption foto 5w+1h sangat tepat dipakai untuk caption foto yang dimuat di koran dan portal online. Mengapa? karena terkait space of content.

      Kecuali jika fotonya diunggah di media sosial, kita bisa leluasa memasukkan caption sesuai kehendak dan sesuai konteksnya, juga panjang pendeknya. Semoga bisa menjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *