Bumi Manusia, Perlawan Pribumi dan Kisah Cinta Minke Annelies

Bumi Manusia, Perlawan Pribumi dan Kisah Cinta Minke Annelies

Bayang-bayang akan sosok anak muda yang gaul dan modern bersama gaya slengeannya, menjadi kekhawatiran saya pada sosok Minke, yang diperankan oleh Iqbaal Ramadhan dalam film Bumi Manusia. Tapi sepertinya, Iqbal bisa melewati karakter Dilan-nya dalam film berdurasi 180 menit lebih itu.

Ya, pada 15 Agustus 2019 lalu, Falcon Pictures merilis salah film yang paling dinanti di tahun 2019, yaitu adaptasi dari Novel Bumi Manusia. Bahkan rasa penasaran orang-orang sudah hadir ketika rencana karya masterpiece dari Pramoedya Ananta Toer itu akan difilmkan.

Novel Bumi Manusia merupakan bagian pertama dari tetralogi Buru. Ada tiga judul lainnya setelah tersebut, yaitu Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Semoga tiga judul itu juga difilmkan ya.

Film ini mengangkat kisah percintaan tentang Minke dan Annelies di era kolonial Belanda sekitar abad 20-an. Sosok Minke digambarkan pribumi totok, tapi bangsawan karena bisa sekolah di HBS Belanda. Sementara Annelies Mellema adalah gadis blasteran Indo-Belanda hasil perkawinan antara Nyai Ontosoroh seorang pribumi dan Herman Mellema.

Kalau boleh jujur, saya sedikit ragu untuk menonton film yang diangkat dari sebuah novel. Sebab beberapa film yang pernah ditonton di luar ekspektasi. Tapi ketika melihat sosok Hanung Bramantyo di belakang layar, saya sedikit yakin film tersebut bakal sukses menarik penonton ke bioskop. Kita tahu, Hanung sudah beberapa kali membuat film adaptasi dari novel misalnya Ayat-ayat Cinta, dan Perahu Kertas yang terbilang sukses. Film-film serupa bernuansa zaman penjajahan juga pernah ia buat seperti Sang Pencerah, dan Soekarno.

Bumi Manusia ditayangkan khusus di tengah kemeriahan Hari Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia. Sebelum film dimulai, para penonton bahkan diharuskan berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia raya. Wah, itu sebuah pengalaman yang amat berkesan bagi saya. Kapan lagi coba bisa nyanyi lagu Indonesia Raya di Bioskop.

Nonton Bioskop Bumi Manusia
*Penonton berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum film Bumi Manusia diputar di bioskop-bioskop. (Foto: Adi Permana)

Dalam film tersebut, sosok Annelies yang diperankan oleh Mawar De Jongh sangat pas, karena memang dia keturunan Belanda asli. Sutradara film sukses membangun karakter Annelies yang cantik, manja, baik, dan cerdas sebagaimana terdapat di novel. Tak lupa Annelies pun ternyata mampu berubah menjadi perempuan yang strong ketika dia harus menghadapi kenyataan kalah di persidangan dan dibawa ke Belanda.

Tapi, saya merasa terganggu dengan adegan romantisnya dengan Minke yang terlalu berlebihan. Masalahnya, film ini banyak disebut berisi tentang pelajaran nasionalisme, sehingga banyak anak-anak di bawah umur ikut menonton. Bisa jadi, malah pelajaran lain yang mereka dapat. “Kalau saya sih fine-fine aja.” haha.

Belajar Sejarah

Film ini sebetulnya sukses menggambarkan kondisi pribumi saat dijajah Belanda. Beberapa scene misalnya menggambar betapa bangsa kita amat rendah di mata penjajah, itu tergambar ketika Minke dan Suurhof ingin masuk ke café dan ditolak oleh penjaganya karena mereka adalah pribumi. Saat adegan itu berlangsung, diperlihatkan sebuah tulisan larangan dengan suasa seorang pribumi tengah memegang seekor anjing.

Ketimpangan lain yang coba digambarkan ialah dari sisi pakaian. Tapi, meskipun Minke menggunakan kemeja dan jas tetap saja sebutan pribumi melekat pada dirinya. Dan oleh karena itu, kedudukannya tetap rendah di mata orang-orang Eropa.

“Saya justru heran, kok bisa ya sehina dan serendah itu bangsa kita ketika itu?”

“Apakah karena bangsa kita memang kurang pendidikan, atau karena keangkuhan para penjajah?”

Itulah mengapa ada satu ungkapan dari Pram yang juga disebutkan dalam film tersebut. Kata-katanya sangat terkenal.

“Seorang terpelajar harus sudah berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.” – Pram

Ungkapan di atas sejatinya ingin menggambarkan bahwa orang-orang yang katanya berpendidikan, berpengetahuan luas, itu tidak ada artinya ketika dia tidak bisa menghargai manusia lainnya dan cenderung merendahkan. Hal itulah yang terjadi pada orang-orang dari negeri Kincir Angin di film tersebut. Kondisi sebaliknya diperlihatkan oleh Nyai Ontosoroh. Dia tidak pernah belajar di sekolah, buta huruf, tapi bisa mengatur bisnisnya, punya prinsip, dan sangat struggling dalam hidup.

“Kita harus melawan. Setidaknya kalau kita melawan kita tidak benar-benar kalah.” – Nyai Ontosoroh

Salah satu informasi menarik dalam film tersebut ialah tentang sejarah nama Minke. Itu ternyata berasal dari monkey (monyet) karena saat di sekolah, Minke kecil tidak membawa bukunya dan kemudian gurunya (orang Belanda) menyebutnya monkey…monkey…lalu jadilah Minke.

Di sisi lainnya, ternyata Minke punya nama asli yaitu Tirto Adhi. Kemudian, dia juga seorang penulis untuk surat kabar dengan nama pena Max Tolenaar. Saya langsung mengaitkan akan sosok tersebut dengan penulis Tirto Adhi dan salah media online di Indonesia.

Pelajaran sejarah lain yang jarang ada di buku-buku ialah bagaimana cara jalan orang pribumi harus jongkok di hadapan orang Belanda. Dari gambaran itu, penonton diajak untuk melihat betapa rendahnya pribumi di mata orang Eropa ketika itu, sehingga di zaman sekarang, ketika kemerdekaan sudah diraih, kita mesti memperjuangkannya dan mengisinya dengan semangat perubahan agar bangsa kita tidak lagi dianggap remeh bangsa lain. Kita juga bisa belajar bagaimana menjadi seorang egaliter. Bahwa semua manusia memiliki kedudukan dan harkat martabat yang sama.

Hal itu sesuai dengan amanat isi pembukaan Undang-undang Dasar ‘45 kita, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus segera dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Kekurangan

Secara kualitas gambar, saya harus jujur filmnya kurang smooth. Beberapa animasi yang tampilkan juga kurang mendukung. Tapi saya bisa membayangkan bagaimana sulitnya menciptakan latarbelakang zaman kolonial, dengan rumah-rumah khas zaman itu, ada kereta uap, dan suasana lainnya. Mencari lokasi syuting yang pas itu pastilah satu sulit lainnya.

Kemudian dari alur penokohan, memang sedikit ada yang kurang penjelasan. Terutama mengenai teman Indo-Belanda si Minke saat di sekolah. Di akhir film bahkan ia tiba-tiba bisa masuk ke rumah Minke dengan pakaian lusuh, kotor, basah karena loncat dari kapal. It was impossible. Tapi, bagi yang sudah membaca novelnya pasti tidak akan asing dengan tokoh yang ada di film tersebut.

Beberapa pemeran orang Belanda juga kurang bagus dalam berperan, salah satunya sosok dokter keluarga Mellema. Saya juga melihat, beberapa ekspresi dari Minke kurang dapat. Entah memang karena dia wajah Sunda dan bayang-bayang sosok Dilan masih begitu kentara pada diri Iqbaal.

Tapi ada satu tokoh favorit dalam film tersebut. Dia adalah Darsam. The best one pokoknya, apalagi kumisnya. Haha.

Pada akhir tulisan ini, menurut saya film Bumi Manusia secara keseluran pesan yang ingin disampaikan sudah dapat tersampaikan. Pertama ialah bagaimana kisah cinta antara Minke dan Annelies. Kedua ialah tentang semangat nasionalisme.

Melalui film tersebut saya menyadari, ternyata tidak mudah dalam memisualisasikan sebuah cerita, beserta penokohannya yang diadaptasi dari novel. Yang paling menentukan dalam aspek ini adalah kemampuan aktor dan aktris dalam berakting.

Masterpiece-nya Pram memang terlalu sempurna sebagai novel. Bagi yang pernah membaca novelnya pasti bakal bernostalgia dengan ceritanya, latar suasana, yang bisa jadi sesuai ekspektasi dan tidak. Ya, biarlah kesempurnaan ceritanya hanya miliki novel. Film, biarlah sebagai media baru dalam menikmati hasil karya Pram tersebut.

Sekian.

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *